Need A Bride

Need A Bride
Ch. 64. Pindah Alam


__ADS_3

Bab. 64


Semua siswi kelas dua belas dengan serempak memakai kebaya dengan berbagai model. Yang pasti ketat dan pas di badan mereka. Pun begitu dengan para siswa, mereka memakai setelan jas. Tampak begitu rapi dan tampan. Tidak seperti hari sebelumnya, di mana mereka mengenakan seragam dengan sesuka hari mereka. Asal masuk saja.


Tampaknya hari ini juga bukan hanya momen wisuda saja yang membuat sekolah tampak ramai. Tetapi juga kedatangan Yuan dan Rio yang keluar dari mobil yang sama. Parahnya Rio dengan sengaja menghentikan mobilnya tepat di halaman sekolah dan menyuruh seseorang untuk memarkirkan di tempat yang semestinya.


Di tambah lagi yang membuat para murid di SMA Dahlia itu semakin histeris dan tercengang ialah, aksi Rio menggandeng tangan Yuan dengan teramat lembut dan mesra.


Sontak, membuat para siswa yang melihatnya pun saling berbisik. Bahkan ada yang bertanya secara langsung.


"Woi, gila! Yuan ternyata selama ini main tenang!" ucap salah satu di antara mereka.


"Ngakunya aja nggak suka, tapi nyatanya digaet juga sekarang!" cibir yang lain.


Ingat betul mereka mengenai sikap Yuan yang sama sekali acuh dengan pesona guru idola mereka.


"Ingat, woi! Cinta dan benci itu sodara kembar. Jadi nggak bisa dibedain!" kekeh yang lain.


"Pak Rio juga diam-diam demen yang imut juga!"


"Awas, Pak! Jangan keras-keras, masih kecil!"

__ADS_1


"Hati Abang terpotek potek, Neng!" imbuh siswa yang juga berada di halaman sekolah dengan membuat gerakan seolah dia habis dihantam sesuatu tepat di dadanya.


Di mana ekspresi yang dibuat siswa itu mendapat sorakan dari yang lain.


"Sudahi mimpimu, Bro! Lo sama Yuan, bagai comberan sama susuu murni!" timpal temannya. Semakin membuat suasana tambah gaduh.


Sementara rahang Rio terlihat mengeras, mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar untuk mereka. Terutama pengungkapan perasaan para siswa kepada istrinya.


"Argh!" pekik Yuan dengan suara kecil. Membuat Rio tersadar dengan apa yang dia lakukan.


"Maaf, Yaang," ucap Rio begitu tersadar jika tanpa sengaja ia menyakiti tangan istrinya. "Aku nggak sengaja, Yaang. Sakit, ya?" Rio tampak begitu khawatir.


"Anj*r! Tiket ke Pluto berapa woy?! Gue pesen!"


"Iya, nih. Lama-lama gerah gue tinggal di bumi!"


"Asem banget sih, mereka. Make mesra-mesraan di tempat umum! Kagak prihatin ama yang jomblo, apa!" imbuh yang lain.


"Jadi pingin kawin, Mak. Huaaaa ... Emaaaakk ... kawin, Maaaaakkk!"


Plak!

__ADS_1


"Nikah dulu, woy!" ralat temannya yang dibalas cengiran.


Sementara itu, di sisi lain terlihat Melani dan Sila yang baru datang. Mereka habis dari salon yang sama. Sehingga Sila berangkat satu mobil dengan Melani.


"Ada apa sih, kok rame banget?" tanya Sila setelah keluar dari mobil Melani.


"Ya mana gue tau. Orang gue juga barengan sama lo!" jawab Melani mengikuti arah yang dipandang oleh Sila.


"Nggak usah ngegas juga kali ngomongnya. Ingat, gue sedang hamil, Bebeb Melani cayang," ucap Sila dengan wajah dibuat melas.


Melani menatap jengah. "Ya emang modelan gue udah kayak gini dari sononya."


Sila mengangguk seraya terkekeh. Memang teman nya yang satu ini memiliki tingkat kesabaran setipis tisu yang dibalas menjadi tiga.


"Ya udah, kita liat aja. Sambil nyari si Yuan. Belum chat lo kan dia?" tanya Sila.


Melani menggeleng sebagai jawaban.


Dan setibanya mereka di titik yang menjadi pusat perhatian semua murid yang ada di halaman sekolah, betapa tercengangnya mereka berdua ketika melihat Yuan berdiri di samping guru mereka. Lebih mengejutkan lagi mereka bergandengan tangan.


"Mel Mel ... gue nggak sedang berada di alam lain, kan?" tanya Sila sembari menggoyangkan tangan Melani.

__ADS_1


__ADS_2