
Bab. 36
Seperti biasa. Keadaan semakin ribut di kala menjelang berangkat ke sekolah. Yuan yang lebih nyaman menggunakan motor berangkat ke sekolah atau naik angkot saja, dari pada harus berangkat bareng bersama Rio. Yang ada murid di SMA Dahlia bakalan tercengang melihat mereka berdua berangkat bersama.
"Kamu beberan nggak apa berangkat naik taxi, Sayang?" tanya mami Dilla yang sebenarnya tidak tega jika menantunya ini berangkat sendiri.
Yuan menggelengkan kepala. "Iya, Mi. Lagian kalau berangkat bareng yang ada ketahuan nanti," jawab Yuan.
"Kan para guru sudah tahu hubungan kalian yang sebenarnya. Ngapain masih disembunyiin? Kalau temen-temen kamu nanya kan bisa dijawab pacar, gitu," heran mami Dilla.
Membuat Yuan bingung harus menjelaskannya bagaimana.
"Bukan begitu, Mi. Pak—Mas Rio itu banyak penggemarnya di sekolah. Apa lagi itu cewek-cewek alay pada brutal banget. Yuan cuma mau menikmati hidup Yuan di sekolah itu dengan damai, Mi. Nggak mau diribetkan dengan hal-hal yang ribet kayak gitu," ujar Yuan pada akhirnya yang tidak sepenuhnya berbohong kepada mertuanya tersebut.
Sementara Rio hanya diam dan memperhatikan apa yang dikatakan oleh Yuan. Tidak punya niatan untuk menyanggah atau bagaimana.
Mami Dilla diam-diam tersenyum melihat penuturan menantunya tersebut.
__ADS_1
"Dan kamu nggak takut kalau sampai Rio digodain sama cewek lain, Sayang? Semisal sama guru kamu yang masih muda?" tanya mami Dilla dengan sengaja.
Niatnya hanya ingin melihat reaksi Yuan. Sampai-sampai Rio juga mengalihkan tatapannya dari ponsel yang sedari tadi mendapat banyak pesan masuk, ke arah Yuan. Penasaran juga bagaimana tanggapan gadis itu.
Dengan polosnya, Yuan menggelengkan kepala. Membuat harapan serta rasa gemas Rio melayang sudah.
"Enggak sama sekali, Mi. Malah untung banget kalau sampai ada yang berhasil ngambil Mas Rio dan Mas Rio-nya mau," jawab Yuan membuat semua orang melongo. Kecuali papi Kendra yang tahu betul maksud Yuan.
"Loh kok bisa, Kak?" kali ini Zuma yang ikut memancing Yuan dengan tawa yang ditahan. Seolah bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh Yuan selanjutnya.
"Ya berarti sudah jelas dong, Kak, kalau Mas Rio itu gamp—"
"Udah, berangkat bareng sama aku aja. Belum apa-apa pikirannya udah buruk," sela Rio.
Tidak mau kalau sampai dirinya diledek oleh keluarganya sendiri mengenai Yuan yang ternyata belum mempunyai perasaan kepada dirinya. Karena terlihat jelas dari sikap dan ucapan gadis itu.
'Suka banget liat aku di bully keluargaku sendiri.' gumam Rio yang langsung merengkuh bahu Yuan dan mengajaknya keluar dari sana.
__ADS_1
Sedangkan Yuan, tentu gadis itu memberontak tidak mau berangkat bareng dengan Rio. Namun apalah daya, jika tubuh mungilnya itu di angkat dan dipindahkan masuk ke dalam mobil Rio. Ketika mau turun, dengan cepat Rio mengunci pintunya.
"Kami berangkat, Mi, Pi!" pamit Rio dengan nada tinggi dan langsung menghidupkan mesin mobilnya tanpa menunggu sahutan dari kedua orang tuanya.
Sepeninggal Rio dan Yuan berangkat ke sekolah bareng. Tampak dua wanita yang tengah menatap kepergian mereka dengan obrolan yang mungkin terdengar absurd. Hingga membuat papa Kendra tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sepertinya belum deh, Mi," ucap Zuma kepada maminya, Dilla.
"Kayaknya sih iya, Dek. Gimana mau bedah berlian, kalau Masmu aja sikapnya dingin gitu ke menantu Mami. Sok cuek juga. Kek sama muridnya," sahut mami Dilla.
"Lah, kan Yuan emang muridnya Mas Rio, Mi. Ya nggak salah dong!" timpal Zacky yang beri menghampiri dua wanita bermulut bon cabe jika sudah membuka suara.
"Ya tapi kan kalau di rumah itu paling tidak nggak usah jaga image lah, Kak. Jadinya begitu kan? Kakak ipar kek nggak ada rasa sama sekali."
Kendra menghela napas berat mendengar ocehan istri dan anak-anaknya.
"Yang dilakukan Yuan itu wajar. Gimana mau punya rasa sama Rio, kalau di seret dari jalan langsung diajak nikah. Shock dan kesel pasti iya."
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, Kendra berlalu masuk ke dalam untuk mmgambil tas kerjanya. Membuat wanita yang dia nikahi hampir tiga puluh tahun itu memicingkan mata ke arahnya.