
Bab. 56
Hari ini kebetulan kelas Yuan selesai dengan cepat. Padahal masih ada dua pelajaran lagi yang belum mereka terima. Akan tetapi tiba-tiba saja para guru mengadakan rapat dadakan. Sehingga para murid di pulangkan lebih cepat dari biasanya.
"Kita kemana nih?" tanya Melani pada dua temannya. Di sana juga ada Richard.
"Pulang. Memangnya mau kemana lagi, Mel," jawab Yuan yang berdiri di samping Melani. Sedangkan Sila dan Richard tampak diam dan ngikut saja.
Melani mendesaah kesal.
"Ya kali langsung pulang, Yu? Ini kita udah lama nggak nongkrong berempat, loh! Nongkrong aja, ya? Buat ngilangin ketegangan bulan depan, kan? Biar nggak terlalu setres mau ngadepin ujian," protes Melani.
Jika biasanya Yuan atau Sila yang lebih sering mengajak mereka nongkrong di cafe Biru langganan mereka. Namun, beberapa bulan ini mereka tidak melakukannya. Selalu saja setelah jam usai, mereka langsung pulang ke rumah. Tidak ada lagi acara main atau sekedar ngumpul bentaran di taman sambil makan es krim.
"Kalau gue sih bisa aja. Asal jangan lewat jam satu. Tau tuh Sila sama Ayang Ichad. Kalian bisa kan?" tanya Yuan menatap ke arah Sila dan Richard secara bergantian.
Pun melani juga mengikuti arah pandang Yuan. Walau ingin bertanya lebih mengenai keanehan yang terjadi antara sikap Sila dan Richard, akan tetapi Melani tidak bisa bertanya di kawasan sekolah seperti sekarang. Ia tahan dulu.
"Sil? Lo bisa nggak?" tanya Yuan lagi. "Om sugar lo nggak ngamuk, kan?" sindir Yuan penuh maksud.
__ADS_1
Seketika membuat Sila tersentak kaget. Gadis itu cepat-cepat menghampiri Yuan dan meremas mulut sahabatnya. Berusaha bersikap seperti biasa, walaupun rasanya agak canggung.
"Muluuuttt ...! Kenapa nggak make toa sekalian? Hmm?" gemas Sila mendelik ke arah Yuan.
Sedangkan Yuan mengangguk dengan santai.
"Boleh juga sih sarannya. Sekalian aja gue umumin nama om sugar lo itu," balas Yuan tenang sambil melirik ke arah Melani. Walaupun yang sebenarnya terjadi, tatapannya itu tidak benar-benar mengarah ke Melani.
Sila benar-benar dilatih kesabarannya jika sedang berhadapan dengan makhluk satu ini. Seolah kesabaran yang ia miliki seperti tisu yang dibelah menjadi tiga.
"Beneran gue lempar ke sungai lama-lama ini anak," kesal Sila yang langsung mendapat tatapan tajam dari Richard. Sontak Membuat Sila membuang muka.
***
Asik mengobrol dan membahas acara penyerahan jabatan Melani serta Richard kepada adik kelas mereka, tanpa terada dua jam sudah mereka berada di cafe Biru.
Memang, jika sudah berkumpul dan mengobrol seperti ini pasti akan lupa dengan waktu. Bahkan Yuan tidak menyadari jika ponselnya sedari tadi dalam keadaan silent. Serta tidak mengeceknya lagi seusai mengirim pesan kepada suaminya.
"Eh, gue liatin lo semakin montok aja, Yu?" celetuk Melani di sela mereka asik mengobrol.
__ADS_1
Sila dan Richard pun juga memperhatikan.
"Iya. Apa lagi pas bagian ini lo," tunjuk Sila ke arah dada Yuan secara refleks.
Yuan yang sadar ada gender lain di antara mereka, langsung saja gadis itu menepis tangan Sila agar menjauh dari area bermain suaminya. Eh, area dadanya.
"Bisa di kondisi kan nggak sih, tangan lo itu!" ucap Yuan seraya melirik ke arah Richard yang juga tengah menatap ke arah yang ditunjuk oleh Sila tadi.
Melani yang ada di sebelahnya pun langsung menutup mata cowok itu.
"Jaga matanya, cuy! Yuan udah ada yang punya!" ceplos Melani.
Mendengar hal itu, Richard jadi teringat kejadian malam yang membuatnya sakit hati hingga merubah segala hidupnya.
"Dia udah punya pawang, sebaiknya lo mundur aja, Pangeran Ichad," bisik Melani berniat baik.
Namun, Melani tidak tahu saja bagaimana perasaan Richard sekarang ini. Bahkan tangan cowok itu sampai terkepal begitu erat di bawah meja sana.
Sementara Sila yang biasanya paling heboh menggoda, kini terdiam dan berusaha mengalihkan tatapannya dari sana.
__ADS_1