
Bab. 30
Rio bangkit setelah berhasil mendapatkan aoa yang dia inginkan dan Yuan dalam keadaan sadar. Tidak lagi dalam keadaan tidur dan sering Rio curi.
"Udah, buruan makai baju dan kemasi barang-barangmu. Aku tunggu di ruang tengah," ujar Rio sembari mengambil laptopnya.
Pria itu kemudian melangkah keluar dari kamar Yuan dengan bibir yang tertarik ke atas. Puas sekali mengerjai istri kecilnya. Di tambah lagi ketika melihat wajah ketakutan Yuan.
"Tenang aja, aku nggak bakalan minta sekarang. Paling tidak tunggu sampai kamu punya rasa padaku," gumam Rio.
Dia memang sengaja melakukan hal-hal yang mendebarkan bagi seorang perempuan remaja seperti Yuan. Tentu saja, setelah dia sharing dengan papinya tadi setelah mertuanya pamit menjenguk kerabat mereka.
Sementara itu Yuan yang masih berada di dalam kamarnya, diam membeku dengan posisi yang masih sama. Matanya mengerjap beberapa kali, guna menarik kesadarannya agar segera kembali.
Baru di detik ke sepuluh kepergian Rio, Yuan tersadar dan bisa bernapas dengan normal.
"Huft ... untung dia nggak minta lebih. Gila aja. Ngeri banget ternyata om om yang udah mateng itu. Mainnya enggak pake kode dulu. Langsung sat set deh kayaknya. Bahaya bahaya bahaya," gumam Yuan sembari bangkit dengan cepat dan segera mengambil pakaian ganti. Sebelum pria itu berubah pikiran lalu masuk kembali ke kamarnya dengan kondisi dirinya yang masih sama.
Setelah memakai baju lengkap, Yuan kepikiran mengenai perintah Rio tadi di mana pria itu yang menyuruhnya untuk mengemas barang-barangnya. Perasaan ini rumah orang tuanya. Asli tanpa hutang sedikit pun. Karena kata mereka membeli rumah ini dengan uang cash dan sudah balik nama. Lantas untuk apa segera berkemas? Batin Yuan.
Sembari menaruh handuknya di kepala, karena rambutnya yang masih basah, Yuan melangkah keluar dan mencari keberadaan Rio.
__ADS_1
"Kak, ini mau ke mana memangnya kok aku disuruh berkemas?" tanya Yuan mendekat ke arah Rio yang tengah sibuk kembali dengan laptopnya.
Pria itu sedikit terkesiap mengenai panggilan Yuan kepada dirinya. Lebih lagi cara bicara gadis itu yang lebih santai.
"Kamu manggil aku apa?" tanya Rio menatap intens ke arah Yuan.
Sementara Yuan ngedumel di dalam hati. 'Padahal kan tadi dia yang minta untuk rubah panggilan dan cara bicara. Kenapa sekarang malah marah? Emang nggak waras ini orang. Sayang banget, ganteng-ganteng tapi miring.'
"Kak?" ulang Yuan.
Rio melengos dan kembali menatap ke laptopnya. Niatnya hanya untuk mematikan benda yang teramat penting baginya.
"Ck! Terus maunya Bapak itu dipanggil apa?" geram Yuan yang seolah kesabarannya hilang jika berhadapan dengan Rio.
"Sayang?" jawab Rio cepat.
"Ogah banget!" tolak Yuan yang tak kalah cepat dan tegas. Membuat Rio berdiri dari tempatnya dan melangkah ke arah Yuan.
Yuan merasa ada bahaya yang akan mengancam dirinya, gadis itu memutar otak. Bagaimana caranya agar pria ini tidak sedikit dikit mengancam, memaksa, atau lebih parahnya lagi langsung melakukan apa yang dia inginkan .
Yuan segera mundur dari tempatnya seiring Rio maju.
__ADS_1
"Lainnya, Pak! Lainnya! Kalau sayang, aku nggak mau!" ujar Yuan menego suaminya sendiri.
Memang dasar pasangan aneh. Perkara panggilan saja sampai di per masalahkan.
Rio sendiri semakin mendekat dan jarak di antara mereka terpangkas. Karena tubuh Yuan menabrak bufet yang ada di ruang tengah.
Dengan cekatan Rio menumpukan tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Yuan ke bufet. Membuat gadis itu terkunci saat ini.
"Kalau begitu panggil Honey?" usul Rio menatap lekat gadis yang memiliki mata begitu indah tersebut.
Meski bergerak gelisah, Yuan tetap berusaha tenang. Jangan membuat suaminya emosi lagi dan dampaknya lebih parah dari yang tadi.
"Mas?" lirih Yuan dengan mata terpejam. "Aku nggak bisa manggil selain itu. Takut keceplosan kalau di sekolah," alasan Yuan. Memanggil Rio dengan sebutan mas saja lidahnya terasa kelu. Tidak terbiasa.
Rio mendekatkan wajahnya dan menyamakan dengan posisi Yuan. "Mas?" ulang pria itu.
Yuan mengangguk cepat dan parahnya akibat ulah nya tersebut keningnya malah bertabrakan dengan hidung Rio. Sontak mata gadis itu terbuka lebar. Tidak menyangka jika mereka sedekat ini.
"Ternyata kamu pingin dicium lagi ya, Yaang?" goda Rio dengan senyuman jahilnya.
Tidaaaaackkksss ....! Ingin Yuan berteriak seperti itu. Tetapi takut justru sebaliknya yang ia dapat.
__ADS_1