
Bab. 40
"Nggak nggak. Gue nggak bisa. Lo cari anak yang lain aja," tolak Yuan dengan sangat tegas.
"Yuuuaaaann ....!" geram Melani. Wajah gadis itu mulai berubah berang. "Lo nggak liat, di sini tinggal lo doang yang nganggur."
Yuan menatap Melani dengan tatapan memohon.
"Tapi kan gue capek, Bebeb Melani. Bebeb nggak kasihan? Ini tubuh mungil udah bekerja keras loh, selama ini," rengek Yuan sembari menghampiri Melani dan bergelanyut manja di lengan sang ketua osis.
"Ck! Mulai deh lebay nya!" cibir Sila sembari memutar bola matanya malas.
"Kenapa nggak di lenganku saja sih, Yu? Kan ini lengan Abang lebih kokoh banget," timpal Richard sengaja menggoda Yuan.
Yuan melirik sinis ke arah Richard.
__ADS_1
"Gue masih sayang nyawa, kalau anda lupa, Pangeran Icad. Gue nggak mau metong konyol di tangan penggemar lo," sahut Yuan dengan nada ketus.
Richard terkekeh mendengarnya. "Ya kali aja kan lo mau, Yu. Lumayan kan, lengan ini akhirnya berguna juga."
"Noh, sama biduan lo aja tuh! Seratus juta. Seratus juta!" ledek Yuan dengan tawa yang begitu keras. Bahkan sampai membuat Sila merasa jengkel.
Melani menarik napas panjang. Menghadapi temannya yang satu ini memang harus lebih ekstra sabar.
"Udah, jangan kebanyakan protes mulu. Sekarang sana siap-siap. Tadi katanya setelah jam pelajaran akhir, mereka akan ke aula teater. Lo sama Icad buru kesana sebelum mereka yang kesana lebih dulu," ujar Melani. "Yang ada mereka malah batalin nantinya." imbuhnya lagi.
Jika sudah seperti ini, Yuan tidak bisa menolak lagi. Harapan gadis itu hanya kepada Sila yang memang cuma Sila lah yang Yuan kenal dan gadis itu bisa bermain drama. Bahkan lebih mendramatisir kalau sedang beradu akting.
Setau Yuan Sila juga sangat mengidolakan guru yang menjadi suaminya tersebut. Ia pikir temannya itu tidak bakalan menolak. Namun kenyataannya salah. Dengan sangat tegas Sila menggelengkan kepala.
"Nggak mau gue. Beban hidup gue udah banyak. Gue nggak mau kalau sampai Bu Clara yang ceriwisnya minta ampyun itu ngomel-ngomel nanti kalau gue arahin. Bikin mood gue buyar sebelum manggung."
__ADS_1
Begitulah kalimat penolakan Sila terhadap tawaran Yuan barusan. Sontak, Yuan menjatuhkan tubuhnya di tempat duduknya tadi dengan asal. Beruntung, Richard segera menahan tubuh Yuan agar tidak terjengkang ke belakang.
"Hati-hati, Ayang Baby," ujar Richard sembari membantu Yuan untuk duduk dengan benar.
"Iyeuuuhhh ... jijae banget dengernya!" sahut Yuan seraya melirik sinis ke arah Richard. Sedangkan pria itu tidak ada kapok nya menggoda Yuan, meskipun mendapat balasan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
***
Jam pulang sekolah tiba. Yuan keluar kelas lebih dulu, gadis berambut sebahu itu segera menuju ke aula teater. Di mana ia akan mengajarkan dua guru yang sangat ingin Yuan hindari.
Yang pertama ialah bu Clara, guru bahasa inggris itu selalu mengomel tidak jelas jika muridnya ada yang melakukan kesalahan. Yang kedua, tentu saja suaminya sendiri. Di.mana pria itu sangat pintar sekali dalan memanfaatkan situasi dalam segala bidang. Tidak hanya ketika mengajar, ataupun ketika bersama dirinya.
"Ck! Nyuruh cepetan ke sini, tapi yang ada tidak seorang pun di sini," kesal Yuan.
Karena belum ada yang datang, Yuan memutuskan untuk mengotak ngatik ponselnya. Bukan untuk sekedar memainkan benda tersebut. Akan tetapi gadis itu tengah browsing bagaimana caranya mengajarkan sesuatu kepada orang yang lebih dewasa, agar tidak terlihat sok pintar dan menyinggung mereka. Karena di sini ada bu Clara. Yuan malas sekali kena omel wanita berusia dua puluh enam tahun tersebut di saat tubuh dan mentalnya sedang lelah seperti sekarang.
__ADS_1
Saat asik mendalami keterangan yang ada di sana, Yuan dikagetkan dengan sebuah sentuhan dan sosok seseorang di dekatnya. Sampai-sampai ponsel Yuan hampir saja jatuh.
"Udah lama?" tanya orang itu dengan tatapan begitu teduh serta senyuman tipis yang terbit di bibirnya. Jangan lupakan usapan lembut di kepala Yuan. Ah, hampir saja jantungnya terjun bebas.