
Bab. 26
Jam pulang sekolah tiba.
Dengan muka ditekuk, Yuan berjalan menuju tempat parkir. Ia berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya lagi. Karena memang mereka belum pindah.
Namun, belum sampai di tempat parkir tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dan dirinya di bawa masuk ke sebuah ruangan yang sudah kosong. Membuat Yuan tersentak kaget akan hal tersebut.
"Apa-apaan sih ini!" pekik Yuan marah. Gadis itu kemudian menoleh dan menatap siap yang tengah menariknya.
"Ini saya," ucap seorang pria dengan pakaian dinasnya warna cokelat.
Melihat siapa yang menarik dirinya, Yuan langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Serta melepas tangannya dari cekalan pria tersebut.
"Lepas!" ketus Yuan tanpa menatap ke arah pria itu.
Terpaksa, pria yang menarik Yuan tadi melepas tangannya dari gadis itu.
"Maaf," ucap pria itu dengan nada lirih.
__ADS_1
"Profesional aja!" balas Yuan tahu mengenai apa yang akan dikatakan oleh pria yang tak lain ialah penyebab sekaligus orang yang menghukum dirinya.
"Syukurlah kalau kamu mengerti," ujar pria itu merasa lega. Karena berpikiran kalau Yuan mengerti posisinya dan gadis itu tidak akan menaruh dendam terhadap dirinya. "Udah makan?" tanya pria itu.
Meskipun wajahnya masih datar dan dingin, namun Yuan akui suami dadakannya ini tipe orang yang perhatian juga.
"Udah, pagi tadi," jawab Yuan asal.
"Pulang bareng saya, ya? Mampir ke cafe sebentar," ajak Rio.
Yuan benar-benar jengah sekali dengan sikap Rio. Entah mengapa hal ibi membuat Yuan semakin tidak suka dengan pria tersebut.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan, lebih baik Bapak minggir sebelum ketahuan murid lain. Karena saya sudah ditunggu teman-teman saya," ingat Yuan sembari mendorong tubuh Rio, namun percuma saja. Tak sedikit pun pria itu bergeser.
"Pak! Bisa tidak jangan bersikap seperti ini dulu. Bapak itu suami saya kalau di rumah. Tapi kalau di sekolah ya tetep guru saya. Tolong, jaga batasan. Saya nggak mau ketahuan. Bapak musti tanggung jawab dengan ucapan Bapak, dong."
'Oh, berarti itu artinya kalau di rumah, boleh? Baiklah.' batin Rio bersorak senang.
Yuan yang sangat kesal ketika diingatkan statusnya oleh Rio, dengan sekuat tenaga gadis itu mendorong tubuh Rio hingga berhasil keluar dari kungkungan tangan Rio.
__ADS_1
"Ingat, Bapak jangan asal main ungkit status kita di sekolah. Karena saya mau menyelesaikan sekolah saya dengan tenang," ingat Yuan sebelum gadis itu keluar dari ruangan kosong tersebut.
Rio menatap kepergian Yuan dengan kepala menggeleng.
"Ternyata, hadepin gadis ini nggak bisa dengan sikap yang lembut. Harus sedikit tegas memang. Dia terlalu barbar ternyata," gumam Rio.
Sementara itu Yuan yang semulanya ingin segera pulang, gadis itu mengurungkan niatnya dan berbalik arah menuju ruang osis. Di mana Yuan berniat mangkir sebelumnya.
"Ck! Lama banget lo sampainya. Dari mana aja lo? Kita udah nunggu kedatangan lo dari lima belas menit yang lalu."
Nah ... ini nih yang Yuan hindari. Baru masuk aja sudah disemprot duluan oleh Melani.
"Lo tau sendiri, gue setengah hari dijemur kayak gitu. Dehidrasi lah gue," elak Yuan. Tidak mungkin dirinya mengatakan kalau sempat di sekap dulu sama idola mereka.
"Udahlah, Mel. Jangan sadis-sadis banget. Kasihan Yuan. Mukanya sampai gosong begitu," timpal sang bendahara osis, Fandi.
"Iya tuh, Bebeb Pandi. Ayang Melani kejam banget cama akyu," sahut Yuan dengan nada manjanya.
Sementara Fandi hanya menggeleng kepala. "Untung temen, coba kalau bukan. Udah gue gaet lo, Yu!"
__ADS_1
Semua anggota osis sudah tahu betul tabiat gadis yang satu itu. Yuan akan bersikap manis dan manja jika ada yang dia mau. Akan tetapi akan garang dan judes jika ada orang yang mengganggunya.
"Menjijikkan banget, lo!" Melani melempar penghapus ke arah Yuan yang langsung menghindar.