Need A Bride

Need A Bride
Ch. 74. Satu Anak Saja


__ADS_3

Bab. 74


Tentu saja kabar bahagia itu mereka sebarkan ke semua anggota keluarga mereka. Rio juga langsung mengunggah foto hasil usg sang istri ke media sosialnya. Di mana hanya terdapat dua unggahan di media sosial milik Rio.


Yakni foto seorang wanita yang terlelap di pelukannya namun dengan wajah yang tertutup oleh rambutnya. Sehingga tidak ada yang mengenali siapa wanita itu. Dan yang kedua ialah foto calon anak mereka yang berada di dalam kandungan sang istri sekarang.


Banyak komentar positif dari pengikut Rio yang di dominasi oleh para wanita.


Sedikit pun tidak Rio tanggapi komentar mereka. Bagi Rio, dia hanya perlu membagikan rasa bahagianya yang tak terkira.


"Kamu beneran mau nunda dulu kuliahnya, Yaang?" tanya Rio kepada seorang wanita yang saat ini tengah sibuk berkutat di dapur.


Meski bau bawang yang begitu menyengat membuat perutnya terasa tidak nyaman, namun Yuan tetap memaksakan diri membuat sarapan untuk suaminya.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, Mas. Kalau aku kuliah sekarang, kan percuma saja. Nanti ujungnya juga aku ngulang satu tahun. Ya mending aku daftar kalau dia launching," sahut Yuan yang masih sibuk dengan masakannya.


Rio yang tadinya membersihkan meja sehabis dipakai untuk menyiapkan bahan masakan, pria itu beranjak dan menghampiri sang istri lalu memeluknya dari belakang. Mengusap perut Yuan yang masih rata dengan gerakan lembut.


"Makasih, sudah mau memilih untuk memberiku keturunan dulu, Yaang. Meskipun ini berat bagimu," ucap Rio yang kemudian mengecup pipi Yuan dari samping.


Yuan merasa bahagia karena memiliki suami yang begitu pengertian. Meskipun sempat Rio meminta dirinya untuk hamil dulu, tetapi pria itu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Rio selalu menyerahkan semua keputusan kepada dirinya. Sebab ia yang mengalami hal tersebut.


"Karena kupikir punya anak di usia muda itu menyenangkan, Mas. Nanti kalau aku umur tiga puluh tahun dan masih terlihat cantik, anakku udah umur sepuluh tahun. Lucu kan kalau kita nanti kembaran," ujar Yuan sembari terkekeh dengan pemikirannya sendiri.


Di rumah mereka sebenarnya ada asisten rumah tangga. Namun untuk sarapan, Yuan sebisa mungkin menyiapkan sendiri untuk suaminya. Baru makan siang dan malam, bibi yang menyiapkan.


"Pinginnya sih ya cewek. Biar kembaran. Soalnya aku dulu sama Kak Nara nggak bisa kembaran. Kak Nara feminim banget. Sedangkan aku sukanya yang simpel-simpel gitu. Asal longgar aja," jawab Yuan mengenai alasannya. "Tapi kalau emang dikasihnya cowok, ya nggak masalah sih, Mas. Biar aku jadi yang paling cantik sendiri di rumah," lanjutnya seraya menangkup kedua sisi wajah suaminya meskipun Yuan harus mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


Merasa kasihan dengan sang istri, Rio mengangkat tubuh Yuan lalu mendudukkannya di atas meja makan. Hingga kini posisi wajah mereka hampir sama.


"Ya sudah, nanti kalau yang keluar ternyata cowok, kita buat lagi aja, Yaang. Gimana? Hmm?" usul Rio sembari tersenyum menggoda ke arah Yuan.


Sontak Yuan memukul lengan suaminya dengan bibir yang cemberut.


"Ini aja belum keluar, udah ngerencanain mau nambah!" kesal Yuan yang mendapat kekehan serta pelukan dari suaminya. "Aku cuma mau anak satu aja, Mas. Lalu fokus sama kuliah dan karir aja nanti. Boleh, kan?" ungkap Yuan mengenai rencana ke depannya nanti.


"Yakin, nggak mau nambah lagi, Yaang?" tanya Rio memastikan sang istri. Karena menurutnya menjadi anak tunggal itu sangatlah tidak enak.


Yuan mengangguk mantap. Lalu mendekatkan wajahnya ke arah sang suami.


"Karena biar badanku nggak terlalu melar, terus juga masih mantep kalo pas anuin kamu," bisik Yuan nakal. Membuat Rio memeluknya seketika seraya meremas pinggang sang istri dengan gemas.

__ADS_1


"Jadi nggak pingin kerja," gumam pria itu yang mudah sekali tersulut hasraatnya. Lebih lagi semenjak hamil, Yuan semakin berani dan semakin intens menggodanya dengan kata-kata yang begitu frontal.


__ADS_2