
Bab. 60
Hari terakhir ujian pun selesai. Mereka melewatinya dengan sangat lancar dan tanpa hambatan sedikit pun.
"Yeeeyyy ... akhirnya ... selesai juga hari-hari horor yang kita tunggu selama tiga tahun ini!" celetuk Sila dengan begitu heboh.
Gadis itu sudah tampak kembali seperti sebelumnya. Walaupun terkadang masih sering murung sendiri, jika mereka berkumpul bersama. Seolah tengah merencanakan bagaimana hidupnya ke depan nanti.
"Ck! Belum selesai, pe'ak. Lo belum tentu lulus juga!" timpal Melani sembari mendorong kepala Sila.
Bibir Sila langsung cemberut.
"Ya seenggaknya beban hidup kita udah selesai satu, Mel. Nggak harus was-was seperti sebelumnya," balas Sila sembari merapikan rambut panjangnya.
"Justru kita malah akan dihadapkan dengan persoalan yang lebih besar lagi, bego'! Bayangin aja nih ya. Lo musti ngampus sambil kerja. Apa nggak tibet itu? Belum lagi kalau nanti dapat dosen yang naudzubillah. Beuh ... makin runyam hidup lo." jelas Melani.
Membayangkan saja membuat gadis itu ngeri sendiri. Apa lagi harus beradaptasi dengan orang baru.
"Tunggu tunggu tunggu!" timpal Yuan yang sedari tadi terlihat anteng. "Lo bilang kita bakalan bertemu dengan orang baru?" tanya Yuan pada Melani mengenai perkataan gadis itu.
__ADS_1
Melani mengangguk. Merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya barusan.
"Ya kan kita bakalan ketemu temen baru juga ntar di kampus," jelas Melani.
Saat ini mereka tengah berada di kantin. Seperti biasa, menghabiskan sedikit waktu mereka untuk berkumpul di sana, sebelum mereka pulang. Sayangnya sang pangeran tidak bisa ikut berkumpul karena dipanggil oleh kepala sekolah.
"Lo berencana langsung kuliah?" tanya Yuan memastikan lagi.
Kali ini pertanyaan Yuan mendapat tatapan aneh dari kedua temannya.
"Memangnya mau ngapain kalau nggak langsung kuliah?" tanya Melani curiga.
"Lo mau nikah sama orang yang dijodohkan sama lo itu?" tanya Sila lebih jelasnya lagi.
Kini mereka berdua menatap ke arah Yuan dengan tatapan menuntut penjelasan. Karena mereka merasa ada sesuatu yang sedang Yuan sembunyikan.
"Yuanita Adisti ....?" geram Melani yang dibuat menunggu sebuah jawaban oleh Yuan.
Yuan menghela napas. Menurutnya, mereka sudah melewati masa ujian.dan hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Jadi, akan tidak masalah kalau ia mengatakan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
"Gue udah nikah," ucap Yuan dengan nada suara yang sangat lirih sekali sambil memejamkan mata. Bersiap jika teman-temannya itu akan menyemprot dirinya dengan berbagai macam cercaan atau paling parahnya umpatan dari mereka.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Keadaan di antara mereka tampak hening. Hanya sebuah tatapan biasa yang mengarah ke arahnya. Mereka berdua kompak berkedip dengan mulut yang terbuka sedikit. Terkejut? Itu sudah pasti. Mereka sedang mencerna ucapan Yuan barusan.
"Dan dia minta gue hamil dulu, baru tahun depan lanjut kuliah." karena tidak mendapat respon dari teman-temannya, Yuan pun mengatakan alasan mengapa dirinya tidak langsung mendaftar kuliah.
Boomm!
Baru ucapan Yuan yang barusan seolah mampu memecahkan gendang telinga dua gadis cantik yang menatap Yuan saat ini.
"What!"
"Gila!"
Dua kata yang berbeda keluar dari mulut mereka secara bersamaan. Membuat suasana kantin menjadi riuh serta banyak pasang mata yang menatap ke meja mereka.
Sementara Yuan menutup mukanya dengan kedua tangan. Baru kali ini merasa begitu malu dengan tingkah sahabatnya sendiri.
"Biasa aja responnya. Kalian bikin malu gue," protesnya kemudian.
__ADS_1