Need A Bride

Need A Bride
Ch. 41. Skandal


__ADS_3

Bab. 41


"Ih, apaan sih tangan lo! Jangan sentuh-sentuh gue seenaknya, Icaaaddd!" protes Yuan dengan tatapan kesalnya. Namun Richard justru tertawa melihat itu. Karena di matanya, Yuan tampak begitu menggemaskan dan lucu.


"Habis serius banget kayaknya," balas Richard yang kemudian duduk di samping Yuan persis. Lalu pri a itu mengintip ke arah ponsel Yuan. "Lagi liatin apa sih? Sampai segitunya nggak sadar gue datang. Jangan bilang kalau lo liatin film por—"


"Muluuuuttt ....!" pekik Yuan semakin geram. "Lo kira gue cewek apaan? Hah! Make liat-liat kayak begituan segala macam. Kalau emang gue pingin, gue tinggal cari lawan aja. Nggak perlu nyiksa diri make menghalau segala." sergahnya kemudian.


Richard melebarkan matanya. "Ini beneran lo, kan?" tanya Richard seraya mendekatkan wajahnya ke arah Yuan.


Yuan yang ditatap seperti itu refleks mundur.


"Kalau bukan gue emangnya siapa lagi?" Yuan mendorong tubuh Richard agar tidak terlalu dekat.


"Ya kali aja lo kesambet. Tumbenan banget omongan lo mengarah ke sana?"


Richard yang tidak bisa menahan tangannya, lantas pria itu mengusap puncak kepala Yuan.


Di saat yang bersamaan, datanglah dua orang dari arah pintu aula serta suara deheman dari orang yang lain. Menandakan jika ada orang lain di sama selain mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian ini! Bukannya belajar yang bener, malah pacaran di sini," cibir bu Clara ketika perempuan itu masuk.


Kan, apa yang dibilang Yuan itu benar. Belum apa-apa aja orang itu sudah menyemprotnya. Padahal itu termasuk tuduhan yang sangat fatal.


Berbeda sekali dengan seseorang yang berada di samping bu Clara. Raut wajahnya terlihat datar seperti biasa.


"Siapa juga yang pacaran, Bu. Orang kita nggak ngapa-ngapain juga," sahut Yuan dengan nada yang tidak ramah sekali.


"Kamu itu ya, kalau dibilangin selalu saja jawab. Ini nih, Pak Rio, murid yang saya bilang agak susah di atur kalau dibilangin," adu bu Clara pada Rio.


Sedangkan Rio hanya diam saja tanpa menjawab. Karena itu tidak penting baginya.


"Ya kalau saya benar, ngapain juga saya diam ketika disalahkan. Ya nggak mau lah, bu," ucap Yuan begitu santai.


Richard yang ada di sebelah Yuan langsung menarik tangan Yuan dan sedikit memberi usapan di sana, sebagai tanda agar gadis itu diam saja serta jangan dilanjut. Karena bisa panjang urusannya kalau sama bu Clara.


Dan hal tersebut tertangkap oleh mata Rio. Seketika rahang pria itu semakin mengeras serta tangannya mengepal erat di bawah sana. Perasaannya begitu carut marut.


"Eh, kamu dibilangin kok malah nyo—"

__ADS_1


"Bisa dimulai sekarang?" potong Rio dengan tatapan dinginnya. "Saya ada acara. Nggak bisa lama-lama," ujarnya lagi lalu segera membuang muka ke sembarang arah.


Tidak kuat jika melihat istrinya di pegang oleh pria lain di depan mata kepalanya sendiri. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa-rasanya tuh ingin sekali mematahkan tangan Richard, kalau saja hubungan mereka terbuka seperti pengantin pada umumnya.


Kebetulan Melani yang berada di belakang dua gurunya itu, lantas memberi isyarat gerakan mata ke arah Yuan dam Richard.


Kemudian mereka memberi arahan kepada Rio dan bu Clara. Awalnya lancar-lancar saja. Karena ternyata mereka juga memiliki bakat terpendam. Namun, di saat pada adegan sang pangeran harus membangunkan putri yang tertidur cukup lama, tiba-tiba saja Rio melakukan banyak kesalahan. Mulai dari dialog, gerak tubuhnya, serta susunan adegannya yang sering kali kebalik.


"Pak, kenapa anda nggak cepet-cepet membungkuk, mendekatkan wajah Pak Rio ke arah saya? Kan dalam naskah adegannya seperti itu. Saya capek merem terus, Pak," protes bu Clara dengan nada manjanya. "Saya kan juga pingin segera liat wajah Pak Rio dari dekat," imbuhnya lagi dengan senyuman genit.


Tidak sedikit anak teater yang lain mencibir tindakan bu Clara sebagai modus untuk mendapatkan keuntungan dari Rio.


"Boleh diganti pemerannya? Biar saya lebih bisa mendalami karakternya," ujar Rio menatap ke arah Melani sebagai ketua osis.


Melani sedikit terkejut, namun akhirnya gadis itu mengangguk.


"Boleh saja, Pak. Asal bukan Pak Rio yang minta digantikan. Soalnya ikon dari dramanya nanti kan Pak Rio," jawab Melani jujur tanpa melihat kekesalan di wajah bu Clara.


Rio tersenyum tipis seraya mengangguk samar. Pertama kali seumur mereka sekolah di sini, baru melihat senyuman guru idola di sekolah ini.

__ADS_1


Namun, ada satu siswi yang merasa was-was dan posisinya terancam kena skandal.


__ADS_2