
Bab. 69
Setelah kejadian tadi, Yuan menundukkan kepala di saat berjalan melewati beberapa teman seangkatan dirinya. Terlebih lagi mereka mengucapkan selamat kepada dirinya dan sang suami, si pembuat ulah hari ini.
Momen wisudanya hari ini memang benar-benar menjadi momen yang sangat bersejarah baginya, dan tentu saja tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
"Kamu emang paling pinter buat aku jantungan, Mas," kesal Yuan melirik sinis ke arah pria yang sekarang ini duduk di sampingnya.
Sementara pria yang ada di sampingnya terkekeh pelan. Pria itu justru sibuk memotong daging yang ada di atas piring. Setelah selesai semua, Rio menggesernya tepat di depan Yuan.
"Udah, makan dulu. Tadi katanya laper lagi," ujar Rio yang malah mengabaikan kekesalan sang istri.
Melihat ada daging di depannya, tentu saja Yuan tidak akan melewatkannya begitu saja. Entah mengapa ia sangat menyukai daging, di banding sayuran akhir-akhir ini.
Sedangkan dua temannya yang duduk di depan mereka, sedari tadi saling tendang menendang di bawah sana. Ingin protes kepada Yuan, namun segan dengan Rio yang juga berada di meja yang sama dengan mereka.
Namanya juga keluarga dari RR Company dan Atmadja Group, hal yang mustahil untuk di lakukan dalam waktu tiga jam pun dengan mudah mereka lakukan.
Sebelum berangkat, Rio sudah memberitahu asisten nya untuk mengatur jamuan di sekolah, sebagai salam perpisahan mereka dan juga bentuk syukur atas pernikahan mereka. Dan terjadilah sekarang ini. Di mana lapangan basket yang berada di belakang gedung sekolah pun disulap menjadi tempat perjamuan semua orang yang datang dalam acara wisuda hari ini. Juga tadi Rio sempat mengatakan kalau tahun ini merupakan tahun terakhir dirinya mengajar. Sebab ia juga harus fokus Dengan perusahaan keluarga yang dia emban.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Mas?" tanya Yuan ketika teringat ucapan suaminya tadi.
"Apanya, Yaang?" sahut Rio dengan sangat santai tanpa malu atau canggung memanggil Yuan dengan sebutan tersebut di hadapan mantan murid sekaligus sahabat istrinya.
"Yang katanya kamu terakhir ngajar," jelas Yuan sambil memasukkan daging ke dalam mulutnya.
"Oh, biar fokus sama perusahaan aja. Lagi pula aku cuma gabut aja jadi guru. Eh, ternyata malah dapat jodoh di sini," ungkap Rio sambil memotong daging yang ada di atas piring nya sendiri.
Khuk!
Khuk!
"Apa gue pulang aja ya, Mel? Kok lama-lama gue panas sendiri di sini," celetuk Sila sambil menaruh sendok dan garpu ke atas piringnya. Raut mukanya pun berubah tak berselera sama sekali.
"Iya, Sil. Dari pada bayi lo ngiri. Kasian, lo nggak punya lawan," ceplos Melani dengan begitu santai. Akan tetapi, di detik berikutnya gadis itu menutup mulutnya sendiri dan menerima pelototan dari Sila.
Sementara Rio yang terlanjur mendengarnya pun langsung bertanya kepada mantan muridnya tersebut.
"Bayi? Kamu hamil?" tanya Rio dengan tatapan penuh intimidasi.
__ADS_1
Meskipun tidak kenal dekat, mengetahui sahabat istrinya ini hamil di usia yang masih muda dan yang menjadi masalahnya ialah dia belum menikah.
"Yaang?" Rio menoleh ke arah Yuan. Meminta penjelasan.
Yuan gugup dipandang seperti itu.
"M-mas ... itu ... Sila dipaksa," ungkap Yuan sedikit bingung bagaimana cara mengatakannya kepada Rio.
Sebenarnya tidak berhak dirinya mengungkap apa yang selama ini Sila tutupi. Namun, ia mendapat persetujuan dari yang bersangkutan di kala Sila menganggukkan kepala. Pasrah, karena sudah terlanjur terdengar oleh Rio.
Rio kembali menatap ke arah Sila dengan tatapan yang terlihat menakutkan.
Sila langsung menunduk. Kali ini tatapan Rio benar-benar yang paling menakutkan.
"Pacar kamu?" tanya Rio lebih dulu karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Sila.
Sila menggeleng. "Bukan, Pak. Saya tidak kenal sama orangnya," jujur Sila.
Semakin membuat Rio bingung. Ketika akan bertanya lebih jauh lagi, terdengar sebuah suara yang memanggil dirinya.
__ADS_1
"Mas!" panggil sebuah suara membuat mereka semua menoleh ke asal sumber suara tersebut.