
Bab. 75
Dalam tujuh bulan terakhir ini kehidupan rumah tangga Rio dan Yuan dipenuhi dengan berbagai warna. Betapa tidak, di masa kehamilan, Yuan tidak pernah sedikit pun membuat hidup Rio tenang atau menganggur. Selalu ada saja yang perempuan itu minta pada sang suami.
Entah itu dari makanan yang tidak dijual pada waktunya, atau buah yang tidak pada musimnya. Sampai-sampai pernah membuat Rio harus pergi keluar kota sendiri demi membeli keinginan sang istri. Seperti pempek asli dari Palembang. Terkadang juga Yuan menginginkan jenang dodol yang dari Garut. Sungguh lebih berwarna, bukan?
Meski begitu, Rio dengan sabar dan telatennya selalu memenuhi apa yang istrinya inginkan.
Hingga kini tibalah waktu di mana HPL itu jatuh pada minggu ini. Membuat semua keluarga cemas. Pasalnya sekarang usia Yuan baru memasuki usia dua puluh tahun. Usia yang masih sangat muda untuk melahirkan seorang bayi.
"Mas ... aku takut," rengek Yuan ketika mengingat HPL nya sudah dekat.
Rio melihat istrinya yang ketakutan seperti itu, membuat rasa bersalahnya muncul kembali. Tetapi mau bagaimana, jika semua sudah terlanjur.
"Mau di operasi, Yaang?" tawar Rio yang langsung mendapat gelengan kepala dari Yuan.
__ADS_1
"Nggak, Mas! Aku mau normal aja, biar enggak lama-lama banget sembuhnya nanti. Terus masih beraktifitas tanpa takut itunya kebuka lagi," sahut Yuan seraya membayangkan kalai dirinya di operasi, bakalan lama untuk kembali normal.
"Ya terus mau gimana lagi, Yaang. Kan nggak mungkin aku yang hamil. Kalah bisa digantikan, aku akan menggantikan rasa sakit itu," ujar Rio menawarkan diri. Namun sayangnya semua itu percuma.
Rio mengusap lembut perut Yuan yang tampak besar. Bahkan berkali kali lipat dari ukuran biasanya. Meski begitu Yuan tidak mengalami banyak perubahan selain di bagian perut dan dada saja.
"Tapi itu nanti pasti sakit banget ya, Mas?" tanya Yuan menoleh ke belakang. Menatap sang suami yang tengah memangku dirinya. Sedangkan mereka saat ini berada di samping kolam renang.
"Ya aku nggak tau, Yaang," jawab Rio menahan gemasnya. Karena pertanyaan dari istrinya ini selalu membuat dirinya pusing. Sebab ia tidak bisa menjawab. "Tapi yang jelas, aku akan selalu berada di samping mu, Yaang," imbuh Rio lagi.
"Kalau gitu satu minggu ini jangan kerja ya, Mas. Aku takut," pinta Yuan dengan wajah melasnya. Langsung saja Rio mengangguk setuju.
"Iya, Yaang. Aku kerja dari rumah aja, nggak apa-apa, kan? Soalnya nggak bisa dilepas terlalu lama," ujar Rio.
Yuan juga tidak bisa terlalu egois. Yang terpenting baginya, suaminya ini tetap berada di rumah.
__ADS_1
***
Rupanya dalam satu minggu ini tidak ada tanda-tanda jika Yuan ingin melahirkan. Hingga pada akhirnya perempuan itu mengijinkan suaminya untuk berangkat kerja. Ia pun juga memulai aktifitasnya seperti biasa. Menyibukkan diri demi membunuh rasa takut yang sering datang kalau saja mengingat dirinya akan mempertaruhkan nyawa demi melahirkan satu nyawa lain.
"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya mami Dill ayang kebetulan pagi ini datang ke rumah Rio, setelah Rio berangkat ke kantor.
"Mau jalan-jalan bentar di depan komplek, Mi. Mami butuh sesuatu?" tanya Yuan kepada mertuanya tersebut.
Mertua yang menyayangi dirinya melebihi anaknya sendiri.
Mami Dilla menggelengkan kepala. "Enggak. Mau Mami temenin? Biar nggak bosen," tawar mami Dilla.
"Mami nggak capek emang? Kan baru datang," ujar Yuan.
Sebenarnya tidak enak jika meninggalkan mertuanya di rumah seperti ini. Akan tetapi Yuan tidak bisa melewatkan waktunya untuk jalan-jalan pagi sesuai dengan anjuran dokter. Karena Yuan terlalu tegang akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Enggak. Cuma di depan komplek aja masih sanggup, Mami. Tapi kalau disuruh puter lapangan di taman, angkat tangan Mami. Nyerah. Nggak akan kuat," balas mami Dilla sembari terkekeh.