
Bab. 58
Suhu ruangan yang seharusnya terasa dingin karena AC di ruangan tersebut di aktifkan, namun hal itu tidak berlaku bagi dua sijoli yang tengah mengejar kepuasaan mereka saat ini.
Bahkan rengekan serta permohonan seorang wanita yang berada di bawah kuasa pasangannya, tidak mampu meluluhkan ego serta hasraat yang saat menggelora begitu hebatnya.
"Mas ... udah ..." pinta sang wanita kepada pasangannya yang masih memacu permainan mereka. Padahal kondisi tubuh wanita itu dalam keadaan bergetar hebat saat ini.
"Bentar, Yaang. Dikit lagi," balas sang pria yang berdiri di belakang tubuh wanitanya.
Sedangkan sang wanita itu berada di atas meja dengan satu kaki yang terpijak di lantai, sedangkan satunya lagi di tekuk ke atas meja. Juga tangan yang tertumpu pada meja.
Padahal napas mereka terengah, seolah kehabisan oksigen yang sebenarnya tersedia banyak di sekitar mereka.
"Aku mau belajar, besok udah mulai ujian, Mas!" rengek Yuan yang tidak tahan lagi menahan sesuatu yang rasa-rasanya ingin meledak sebentar lagi.
Sementara Rio masih sibuk dengan kegiatannya.
"Barengan, Yaang," ucap Rio membuat Yuan tidak mengerti. Namun, beberapa saat kemudian dia mengerti kalau suaminya itu juga merasakan apa yang ia rasakan. Hingga akhirnya Rio memeluk begitu erat tubuh istri kecilnya itu san menumpahkan apa yang selama ini ia perjuangkan.
"Haaahh ...." Rio menghela napas dengan perasaan puaas. "Makasih, Yaang."
__ADS_1
Tidak lupa pria itu mengecup belakang kepala Yuan juga leher serta bahu istri nya yang terasa lengket. Perpaduan keringat mereka berdua.
Setelah istirahat beberapa detik, Rio mengangkat tubuh Yuan yang sangat lemas dan membawanya ke atas tempat tidur mereka. Menyelimuti tubuh polos mereka dalam satu selimut. Kemudian pria itu menghadap ke arah istrinya yang tampak kelelahan melayaninya.
Rio tersenyum melihat Yuan seperti ini. Benar-benar istri yang sangat patuh sekali. Selalu menurut jika di dalam rumah. Namun jangan tanya jika gadis yang ada di hadapannya ini sedang berada di luar. Sangat menyebalkan karena selalu mengabaikan dirinya dan membuatnya khawatir akan kabar Yuan.
Merasa dilihat dengan tatapan yang sangat aneh dan mencurigakan, Yuan melirik kesal ke arah suaminya yang benar-benar keterlaluan kepadanya.
Niatnya tadi berada di dalam kamar karena ingin belajar. Sebab besok merupakan hari pertama ujian. Sehingga Yuan ingin mengasah otak nya lagi.
Akan tetapi, belum ada sepuluh menit dirinya berada di kamar, om matengnya ini menyusul dan mengajak olahraga malam-malam yang justru lebih menguras tenaga. Sampai-sampai membuat kaki nya terasa lemas saat ini. Karena ternyata olahraga itu berlangsung selama dua jam. Benar-benar membuatnya kesal.
"Nyebelin banget sih jadi orang kamu itu, Mas!" kesal Yuan memukul dada bidang suaminya.
"Kejar target, Yaang," jawab Rio.begitu santai. "Malam ini nggak usah minum pil ya, Yaang?" ucap Rio tiba-tiba. Membuat Yuan memicingkan matanya.
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Yuan dengan tatapan curiga. Seperti ada sesuatu yang tengah Rio sembunyikan darinya.
Rio menggeleng. "Ya nggak kenapa-napa, Yaang. Mengkonsumsi pil terlalu lama juga nggak baik," jawabnya lagi.
Yuan tidak serta merta percaya begitu saja kalau hanya itu alasan suaminya.
__ADS_1
"Yakin?" sangsi Yuan. "Soalnya kamu tuh aneh banget loh, Mas. Udah tau besok aku ujian, malah kamu ajak lembur kayak gini." protes Yuan yang masih belum terima alasan suaminya. "Kamu nggak lagi sembunyiin sesuatu dariku, kan? Kamu nggak lupa, kan Maa? Kalau istrimu ini masih muuuudaa buanget. Bisa cara yang lain dengan mudah, kalau kamu sampai menyembunyikan sesuatu dariku. Karena aku udah nerima kamu sepenuhnya."
Glek!
Ucapan Yuan benar-benar membuat Rio menelan salivanya dengan teramat susah. Benar apa yang dikatakan oleh Yuan. Dia masih muda sekali, dan bisa dengan mudah mendapatkan cowok yang lebih darinya. Karena selain muda, penampilan Yuan saat ini sungguh menggairaahkan. Eh, mempesona di mata kaum laki-laki.
Rambut sebahu, wajah mungil dengan pipi sedikit chubby, postur tubuh yang ramping walau tidak terlalu tinggi. Namun, ada tiga tempat yang begitu menggiurkan dan menambah daya pikat Yuan. Perutnya yang sangat tipis, semakin mendukung keindahan dada serta pantatnya yang besar dan berisi. Benar-benar ciptaan yang begitu sempurna. Di tambah lagi rasa jepitannya yang begitu legit.
"Mas?"
Rio menggeleng, menyadarkan dirinya dari pikiran mesumnya sendiri.
"Ya?"
"Nggak mau bilang?" dedak Yuan yang semakin berani menghadapi suaminya. Tidak lagi menganggap Rio sebagai gurunya.
"Ah ... anu, Yaang ..."
Rio bingung sendiri mengatakannya seperti apa. Takut kalau sampai istrinya tidak setuju.
"Sepuluh detik dari sekarang, kalau nggak berkata jujur, aku keluar!" ancam Yuan yang mulai bergerak menyingkap selimut dan berencana turun dari ranjang mereka.
__ADS_1
Hal itu membuat Rio semakin takut. Takut kalau istrinya benar-benar akan meninggalkan dirinya.