Need A Bride

Need A Bride
Ch. 9. Sah


__ADS_3

Bab. 9


Yuan masih tidak mengerti dengan kondisinya. Di tambah lagi dengan adanya dua wanita cantik berbeda generasi yang saat ini tengah mengapit dirinya.


"Maaf, Tante, Kak, ini sebenarnya ada apa, ya? Kalian siapa?" tanya Yuan dengan nada sopan dsn penuh kebagian. Takut kalau sampai dirinya keceplosan.


Dilla tersenyum manis. Tatapannya yang teduh, serta usapan di telapak tangan Yuan yang sedari tadi dia lakukan, justru membuat Yuan merasa takut. Takut kalau sampai dirinya benar-benar akan dibuat tumbal pesugihan atau semacamnya. Pikirannya sudah carut marut.


"Udah, lo tenang aja. Bentar lagi juga lo bakalan tahu sendiri," sahut Zuma memberi tepukan di bahu Yuan.


Yuan mengangguk kaku. Bagaimana bisa tenang, jika dirinya didandani seperti ini. Memakai gaun pengantin dengan dada yang sedikit terbuka. Di tambah lagi belahan nya agak sedikit ke bawah hingga menampilkan garis dari bongkahan benda yang ranum di sana.


'Untung saja dadaa gue termasuk golongan yang sehat. Jadi nggak tipis-tipis amat diliatnya.'


Itulah komentar pertama Yuan sesaat setelah memakai gaun berwarna peach tersebut.


"Iya, Sayang. Sebentar lagi pasti anaknya Mami itu jemput kamu ke sini, kok," ucap Dilla dengan senyuman yang tak pernah pudar.


"Pak Rio anaknya Tante?" tanya Yuan yang masih bingung.


Dilla mengangguk. "Dan ini adiknya Rio. Itu artinya juga akan menjadi adik ipar kamu ... siapa nama kamu, Sayang?"


"Yuan, Tante. Yuanita Adisti," jawab Yuan.


"Waaahh ... nama yang cantik banget, Sayang!" seru Dilla. "Kenalin, Sayang. Nama Mami, Dilla. Kamu bisa manggil Mami. Terus yang ini namanya Zuma, adik bungsunya Rio," ujar Dilla memperkenalkan diri pun begitu dengan Zuma.

__ADS_1


"Hai, Kakak Ipar. Lo umur berapa sih? Kok keliatannya muda banget?" tanya Zuma sangat penasaran.


Yuan semakin dibuat pusing dengan pertanyaan wanita bernama Zuma. Bukan karena pertanyaannya yang sulit. Melainkan kata 'kakak ipar' yang tidak Yuan mengerti.


"Tunggu tunggu deh, Kak. Kak Zuma tadi bilangnya apa? Kakak Ipar?" tanya Yuan lagi agar lebih jelas.


Zuma mengangguk. "Iya. Kan lo cewek yang mau dinikahin ama Mas Rio, kan?" tanya Zuma mulai curiga. Pun dengan Dilla.


Sementara Yuan tertawa sumbar sambil menggeleng kepala dengan cepat. Lalu gadis itu berdiri dan menatap dua wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Pasti kalian salah paham, deh. Saya ke sini memang sama Pak Rio. Dan Pak Rio itu guru saya di sekolah. Menikah? Itu jelas tidak mungkin, Kak. Kami tidak dekat. Bahkan tidak pernah mengobrol walau sebatas mata pelajaran yang dia ajarkan. Tadi saya ketemu sama Pak Rio di lampu merah, dan tiba-tiba saya di culik lalu saya di ajak ke sini. Saya pikir saya dijadikan tumbal pesugihan atau apalah itu. Bukan sebagai pengant—"


"SAAAHHH!"


Teriakan satu kata itu terdengar begitu jelas dan bergemuruh. Di tambah lagi dengan bantuan pengeras suara yang ada di ruangan lantai bawah. Lebih tepatnya berada di taman samping yang sudah disulap sedemikian rupa. Membuat semua orang yang ada di ruangan rias pun mengucap hamdalah bersama.


Yuan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Zuma.


Di detik berikutnya, betapa shocknya Yuan melihat ada kedua orang tuanya yang tengah duduk berhadapan dengan pria yang tadi menculik dirinya. Di tambah lagi suasana di sana memang seperti di acara-acara pernikahan pada umumnya.


"Ini bercanda, kan?" tanya Yuan masih tidak bisa percaya dengan semua ini.


"Kalau lo nggak percaya, coba benturin kepala lo ke tembok. Kalau sakit, ya itu artinya lo harus percaya," usul Zuma yang langsung mendapat cubitan dari maminya.


"Zuma ..." desis Dilla.

__ADS_1


"Bercanda, Mi. Biar Kakak Ipar nggak tegang," balas Zuma menyengir.


Sementara itu Yuan semakin deg deg an di saat melihat Rio beranjak dari sana. Mungkin, pria itu akan menjemput dirinya sesuai dengan perkataan wanita yang mengaku sebagai mami nya Rio.


"Yuk, Sayang! Kamu sudah harus turun dan menghampiri suamimu," ucap Dilla sembari mengulurkan tangan ke arah Yuan.


Yuan membeku di tempatnya berdiri saat ini. Menggeleng berkali-kali, mencoba untuk bangun dari mimpi buruknya ini.


Zuma menahan tawa di saat melihat gadis yang baru resmi menyandang sebagai kakak iparnya tersebut. Ia sangat tahu rasanya seperti apa.


"Sayang?" panggil Dilla lagi karena tidak mendapat respon dari Yuan.


"Nggak, Tante! Enggak!" tolak Yuan.


Zuma yang berada di dekat Yuan, lantas wanita itu meraih tangan Yuan dan mengusapnya agar lebih tenang.


"Udah, jalani saja takdir lo. Mungkin emang begini jalan cerita lo," ujar Zuma yang sangat realistis dan tidak mau melebih lebihkan sesuatu memang. Apa lagi sampai ngedrama kayak saudara kembarnya.


Yuan berganti menatap ke arah Zuma.


"Masalahnya bukan itu, Kak!" ucap Yuan.


"Terus?" Zuma memicingkan matanya.


"Masalahnya tuh gue belum pernah pacaran sama sekali. Ya masa gue udah jadi istrinya orang? Mana dia om om, lagi. Huuuaaaa ... gue nggak mauuuuu!" pekik Yuan dengan suara cempreng nya itu.

__ADS_1


Membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut antara ingin tertawa, tetapi juga merasa kasihan pada Yuan.


Selamat menjalankan ibadah puasa, Ayaaangg. Bagi yang menjalankan, ya.


__ADS_2