Need A Bride

Need A Bride
Ch. 42. Sejuta Arti


__ADS_3

Bab. 42


"Coba ulangi lagi tadi naskahnya gimana?" titah Rio yang sudah membungkukkan tubuhnya ke arah seorang pemeran putri yang sudah diganti pemerannya dengan seorang gadis manis nan imut di bawahnya. Sementara tangannya bertumpu di kedua sisi tubuh si gadis demi menyangga beban tubuhnya agar tidak menindih gadis tersebut.


Sedangkan gadis yang ada di bawah tubuh Rio saat ini menahan napas dengan gemuruh di dadanya.


Di sisi lain, justru banyak yang mengambil foto mereka. Serta ada juga yang langsung menggosip dan menjodohkan mereka. Karena ekspresi Yuan yang terkenal galak, saat ini terlihat lucu dengan wajah tertekannya.


"Akhirnya ... Yuan punya counter juga sekarang," bisik salah satu anak teater.


"Lucu tapi liatnya. Tuh, liat deh wajahnya Yuan. Udah kek anak kecil yang mau diterkam," sahut temannya.


"Iya. Gemes banget gue liat ekspresi Yuan. Pingin banget cubit pipinya, tapi takut kena semprot," timpal yang lainnya lagi.kemudian di akhiri dengan kekehan mereka.

__ADS_1


Di sisi yang lain juga, ada sebuah hati yang terasa gerah-gerah panas. Padahal cuaca di luar sudah mulai gelap karena mendung. Beberapa kali mengeratkan rahangnya.


Sedangkan Melani yang ditanya pun kembali membacakan naskah yang ada di tangannya. Sedikit tidak enak sebenarnya dengan perempuan yang ada di sampingnya. Tapi ya mau gimana lagi, orang aktor utama yang meminta. Selaku panitia mah ya burut aja asal sang aktor utama tidak memundurkan diri.


"Karena dibangunin susah banget, si pangeran mencoba untuk memindahkan putri ke ranjangnya. Sudah beberapa kali dibangunkan lagi dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya, namun hasilnya nihil. Akhirnya sang pangeran yang sangat khawatir, mencoba untuk membangunkannya dengan cara di ... cii ..."


Melani langsung menutup mulutnya dengan tangan. Tidak enak jika melanjutkan untuk membaca naskah yang dibuat oleh Sila sendiri. Keadaan menjadi hening, karena mereka semua juga menunggu walau tahu jalan ceritanya. Karena ini sudah sangat umum sekali.


"Lanjutkan!" perintah Rio dengan posisi yang masih sama.


"Dengan cara dicium. Ciuman pertama tidak mendapat respon dari sang putri. Lalu sang pangeran mencoba untuk melakukannya lagi. Namun, belum sampai bibir mereka menempel, sang putri membuka matanya lebar-lebar. Pangeran pun merasa senang dan bersyukur akhirnya sang putri terbangun. Pangeran memeluknya dengan erat. Cinta di antara mereka pun tumbuh serta berkembang begitu cepat. Sehingga sang pangeran menikahi sang putri di saat itu juga. Tamat."


Melani menutup buku yang ada di tangannya lalu menatap takut ke arah Rio. Takut jika mereka keterlaluan dalam membuat skenario.

__ADS_1


Rio mengangguk samar. "Saya mengerti."


Kemudian Rio menatap kembali ke.arah Yuan. Bersiap untuk melakukannya adegan sesuai dengan skenario yang dibacakan oleh Melani tadi.


Dengan mudah Rio memindahkan tubuh mungil Yuan dari bangku ke bangku yang lain. Lalu, pria itu mengungkung tubuh Yuan lagi. Berusaha berakting sesuai adegan, lalu tibalah saatnya Rio mendekatkan wajahnya ke arah Yuan. Membuat Yuan meremas ujung seragamnya di atas bawah perutnya dengan debaran jantung yang tak karuan.


"Liat saya, Yuan," perintah Rio dengan nada rendah namun penuh penekanan.


Yuan menatap gelisah ketika Rio semakin memangkas jarak di antara mereka. Berbanding terbalik dengan pria itu yang seolah senang. Bahkan tatapannya pun mengandung sejuta makna.


"Bapak tidak akan mencium saya beneran, kan?" tanya Yuan waspada.


Bisa gawat kalau Rio beneran melakukan hal tersebut di depan teman-temannya. Di tambah Yuan bisa melihat dari ujung matanya jika bu Clara menatapnya penuh dengan aura membunuuh.

__ADS_1


Rio menarik sudut bibirnya sedikit. Hingga hanya Yuan yang bisa melihatnya. Karena jarak di antara mereka sangat lah dekat.


"Tergantung sikap kamu," jawab Rio penuh sejuta arti.


__ADS_2