Need A Bride

Need A Bride
Ch. 24. Dihukum


__ADS_3

Bab. 24


Sementara Yuan tidak menghiraukan keadaan sekitar. Semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memasang sikap waspada. Di tambah lagi tadi pagi masih dibuat bangun lebih awal.


Seperti biasa, bunda menyuruh dirinya untum belajar jadi istri yang baik mulai sekarang. Walaupun belum pandai masak, paling tidak menyiapkan kopi untuk suaminya. Meskipun sebenarnya Rio juga sudah menolaknya secara halus. Tetapi Bunda tetap memaksa Yuan dan menegaskan pada putri semata wayangnya itu untuk melakukan hal wajib tersebut mulai sekarang.


Itulah sebabnya Yuan kurang istirahat. Belum lagi sesampainya di sekolah masih mendapat omelan dari Melani dan jelas nanti ia harus segera prepare buat acara yang akan diadakan dua hari lagi. Di tambah Yuan juga harus menemui anggota band Ciruz Brook. Memastikan lagi jadwal mereka.


Samar-samar Yuan mendengar namanya dipanggil. Namun, gadis itu tetap tak menghiraukannya. Justru semakin membenarkan posisi kepala serta punggungnya agar lebih nyaman dari sebelumnya.


Tidak tahu saja Yuan jika teman-temannya hampir seisi kelas pada menahan napas mereka. Karena tegang dan juga penasaran hukuman apa yang akan Yuan terima. Sebab dia berani menghempaskan tangan pak Rio.


"Yuanita Adisti," panggil pak Rio lagi. Kali ini guru itu dengan menusuk lengan Yuan menggunakan penggaris kayu yang dia bawa. "Bangun sekarang juga atau saya hukum." lanjut pak Rio.


Sementara Yuan berusaha untuk menepis penggaris itu dari lengannya seperti mengusir nyamuk.


"Gue masih ngantuk banget, Sil. Jangan ganggu ganggu gue," ujar Yuan.

__ADS_1


Sila yang ada di sampingnya pun menunjuk mulutnya dengan muka yang khawatir. Betapa tidak, yang membangunkan Yuan adalah pak Rio sendiri.


Sedangkan Rio berusaha untuk menahan amarahnya. Namun, tetap tidak bisa. Ia paling anti dengan murid yang tidak menghargai dirinya dalam hal menjelaskan materi.


"Yuanita Adisti!" tekan Rio sembari mengeram.


Serta Sila yang mencubit paha Yuan di dekatnya. Membuat Yuan seketika menegakkan tubuhnya dan menatap bingung ke depan. Pasalnya orang yang ada di dalam mimpinya kini berada di depannya.


"Ya Pak?" tanya Yuan. Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Hingga gadis itu menggelengkan kepalanya. Mengerjap matanya beberapa kali.


Seketika itu juga Yuan melebarkan matanya. Baru tersadar jika apa yang ada di depannya ini sungguhlah nyata.


"Hah? Terus saya disuruh ngapain, Pak?" tanya Yuan bingung.


Rahang pak Rio semakin bertaut dengan garis yang begitu jelas. Bibirnya menipis demi menahan kata yang akan keluar dari mulutnya.


Dengan satu tarikan napas panjang, pria itu berkata, "berdiri di bawah tiang bendera sampai pelajaran saya selesai!" tegas pak Rio dengan tatapan yang sangat serius.

__ADS_1


Bukan hanya Yuan saja yang terkejut. Melainkan seluruh murid yang ada di kelas.


Yuan sendiri justru tampak tersenyum. Sebuah senyuman getir yang dia tampilkan.


"Baik, Pak. Siap laksanakan," balas Yuan.


Kemudian gadis itu berdiri dari tempatnya, untuk kemudian melangkah melewati pak Rio yang tengah menatap ke arahnya dengan penuh makna.


'Ck! Emang dasarnya guru jahanim! Tetap aja jahanim. Guru galak kek begini kok diidolain.' gerutu Yuan di dalam hati.


Gadis itu tidak menghiraukan tatapan dari teman-temannya. Ada yang kasihan, ada juga yang merasa senang. Karena rasa tidak suka mereka pada Yuan yang telah menistakan idola mereka terbayar lunas sekarang. Pikir mereka.


"Kembali ke tempat masing-masing dan pelajaran di mulai!" tegas pak Rio lagi. Pria itu berjalan menuju mejanya.


Beberapa kali menarik napas, berusaha untuk bersikap profesional. Meski rasa sesal itu telah tiba dan mengganggu dirinya.


'Maaf, aku terlalu kejam padamu. Tetapi aku hanya tidak ingin perbuatanmu dicontoh oleh anak lain, kalau sampai aku memberimu toleransi,' batin pak Rio. Baru tersadar jika ia sudah keterlaluan dalam memberi hukuman pada Yuan.

__ADS_1


__ADS_2