
Bab. 28
Akhirnya Yuan pulang pada saat makan malam tiba. Gadis itu tampak lelah. Terlihat begitu kentara sekali di wajahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Yuan ketika memasuki rumah orang tuanya.
Yuan mengernyit karena salamnya tidak ada yang menyahut sama sekali. Padahal ia melihat jam yang ada di dinding ruang tamu masih menunjuk ke angka delapan.
"Bunda ... Ayah ...!" panggil Yuan. Namun, tetap tidak ada yang menyahuti suaranya.
"Apa mungkin udah pada tidur ya?" gumam Yuan.
Karena merasa sangat lelah dan badannya lengket kembali, Yuan melangkahkan kakinya menuju kamar. Lagi dan lagi, ia merasa aneh. Membuat Yuan berdiri di depan kamar, menoleh ke arah sekitar yang terasa horor baginya.
Sebab selama ini kalau orang tuanya pergi, mereka akan memberi kabar kepada dirinya terlebih dulu.
Ceklek!
Yuan membuka kamarnya. Dan betapa terkejutnya Yuan di saat melihat guru matematika di sekolahnya itu berada di atas tempat tidur dan tengah memangku laptopnya.
"Ke-kenapa Bapak ada di sini?" tanya Yuan dengan suara gugup.
Rio yang tengah mengecek pekerjaan karyawannya pun mengalihkan tatapan dari laptop dan menatap ke arah sosok gadis yang tampak lelah. Buru-buru pria itu turun dari tempat tidur dan menghampiri gadis tersebut.
__ADS_1
"Kenapa baru pulang?" tanya Rio dengan nada yang lembut.
Sedangkan Yuan melangkah masuk. Menaruh tas di atas meja belajar, lalu segera menuju ke kamar mandi.
"Saya sedang bertanya pada kamu, Yuan," tekan Rio dengan menahan rasa amarahnya.
Yuan menoleh. "Saya tadi sudah bilang ads kegiatan sekolah kan, Pak. Ya udah, berarti saya dari sekolahan." jelas Yuan masih dalam mode kalem.
Lalu gadis itu menuju kamar mandi akan tetapi dicegah oleh Rio.
"Kenapa nggak kirim pesan ke saya?" tanya pria itu.
"Memangnya Bapak kasih nomor ke saya?" balas Yuan yang merasa Rio tidak pernah memberi nomornya.
Sedangkan Yuan hanya mengangguk. "Kirain orang iseng."
Setelah mengatakan itu, Yuan segera masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan badannya.
Namun, ketika semua sudah selesai, Yuan baru sadar jika dirinya tadi main masuk begitu saja tanpa membawa apapun.
"Siall! Gue lupa bawa handuk sama baju ganti," rutuk Yuan pada dirinya sendiri.
Gadis itu mondar mandir di dalam sana. Bingung juga mau meminta bantuan kepada guru sekaligus suaminya itu dengan cara apa. Tidak mungkin juga dirinya keluar dengan memakai pakaian yang sebelumnya.
__ADS_1
Sementara Rio yang menyadari handuk Yuan berada di gantungan dekat pintu kamar mandi, diam-diam pria itu senyum-senyum sendiri.
"Gue seperti guru yang mesum," gumamnya sembari menggeleng kepala.
Tidak lama kemudian, Rio mendengar suara Yuan dari dalam kamar mandi. Membuat pria itu tampak bersemangat.
"Pak Rio ... bisa bantu saya nggak?" tanya Yuan dari dalam.
Rio sengaja diam. Menunggu gadis itu bersuara kembali.
"Pak? Pak Rio masih di kamar, kan?" tanya Yuan lagi. Kali ini gadis itu sedikit membuka pintu kamar mandi. Mengintip apakah ada orang atau tidak di kamarnya. Karena tidak terdengar suara apapun.
Betapa kaget nya Yuan saat mendapati Rio berdiri di dekat pintu kamar mandi dan hampir saja gadis itu terjengkat ke belakang jika saja tangannya tidak berpegangan erat di handle pintu.
"Kenapa Bapak nggak jawab panggilan saya? Malah berdiri di sini," protes Yuan yang masih berada di dalam kamar mandi, dengan kepala yang menyembul keluar sedikit.
"Rubah panggilan kamu ke saya lebih dulu. Baru saya ambilkan handuknya," ucap Rio menawar dengan alis terangkat satu.
"Enggak bisa, Pak. Udah disetel seperti ini lidah saya kalau sama Bapak," sahut Yuan masih pada pendiriannya.
"Ya sudah. Keluar aja dengan penampilan seperti itu," ucap Rio enteng. "Tapi perlu kamu ingat, saya pria normal dan kamu halal untuk saya sentuh."
Deg!
__ADS_1
Seketika jantung Yuan mau copot. Di tambah lagi ia teringat kalau kedua orang tuanya saat ini tidak ada di rumah. Karena mobil mereka tadi tidak ada di garasi.