
Bab. 63
"Maksudnya apa, Yaang." cecar Rio sedari tadi. Sedangkan yang dicecar justru tampak begitu santai sembari menikmati nasi goreng suaminya yang terasa begitu lezat di lidahnya.
"Mas, buruan habisin makanannya. Nanti keburu telat kita. Mas juga belum mandi lagi, kan?" perintah Yuan seolah tengah berbicara kepada temannya.
Rio melihat jam yang menempel di dinding sisi dapur. Benar saja, mereka hanya mempunyai waktu kurang dari setengah jam.
"Ya udah, Yaang. Kamu habisin makannya. Aku mandi dulu bentaran," ucap Rio yang kemudian beranjak dari tempatnya.
Sebelum meninggalkan dapur, tidak lupa Rio mengecup singkat kening istrinya lalu pergi menuju ke kamar mereka yang berada di lantai dua.
Yuan melanjutkan sarapan pagi nya seorang diri. Ia juga sudah menyiapkan baju untuk om matengnya tersebut. Tidak lupa juga menyiapkan sesuatu yang nanti bakalan mengejutkan Rio.
"Yakin deh, nanti dia bakalan heboh sendiri kalau tau," gumam Yuan.
Bibirnya tertarik ke atas, di kala membayangkan reaksi suaminya mengenai akan apa yang ia lakukan nanti. Di tambah lagi ibu mertuanya juga berkata akan datang ke acara wisudanya hari ini. Tidak lupa dua kembar iparnya yang gesreknya minta ampun jika sudah bertemu dengan kakak tertua mereka.
__ADS_1
Kurang lebih enam bulan hidup bersama Rio dan masuk ke dalam keluarga Rayyansyah, Yuan sedikit banyak mengerti bagaimana interaksi di antara tiga saudara itu. Di tambah lagi dengan kedua mertuanya yang juga tidak kalah gesreknya jika mereka semua sudah berkumpul. Tentu, sifat mereka yang satu itu kambuhnya tidak di tempat umum. Hanya saja sering kelepasan sedikit.
***
"Mampir ke apotik sebentar, Mas," ucap Yuan ketika suaminya tengah fokus pada kemudinya.
Rio menoleh cepat dengan raut khawatir.
"Kamu sakit, Yaang? Bagian mana?" cecar Rio panik. Hampir saja pria itu menepikan mobilnya demi bisa memeriksa suhu tubuh sang istri.
Rio semakin dibuat tidak mengerti. Pria itu mengendus bau di mobilnya. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang berubah. Semua masih sama seperti dulu. Bahkan selama ini Yuan juga tidak kenapa-napa jika berada di dalam mobilnya.
"Masa sih, Yaang? Perasaan aku nggak ganti pengharumnya deh," sangsi Rio.
Yuan mengerucutkan bibirnya. Di mana ekspresi itu justru membuat gadis yang sedang memakai kebaya, terlihat lebih menggemaskan.
"Ngapain aku bohong, Mas. Kalau nggak mau berhenti, mending aku turun aja. Naik taxi atau minta jemput sama Richard," balas Yuan dengan nada kesal.
__ADS_1
"Nggak boleh!" pekik Rio cepat.
Mendengar nama siswanya disebut oleh Yuan, membuat Rio geram dan tangannya mencengkeram erat setir mobil. Mengingat kejadian sebelum ujian berlangsung, di mana cowok itu dengan santai nya merangkul bahu Yuan dan mengajaknya ke kantin. Rasa-rasanya ingin sekali menghabisi Richard pada waktu itu, kalau saja Rio tidak mengingat posisi dirinya di sekolah sebagai apa.
"Iya, iya ... beli minyak telon," ucap Rio pasrah.
Lebih baik ia menuruti permintaan istrinya, dari pada gadis ini malah ngereog dan memotong jatah malamnya. Malah panjang urusannya.
Kemudian Rio menepikan mobilnya ke depan apotik. Ketika Yuan akan turun dan masuk ke dalam apotik, Rio menahan pintu dan mencegah wanita itu turun.
"Biar aku aja Yaang, yang beli minyak telonnya. Kamu tunggu di sini dulu, ya?" pinta Rio.
Yuan pun menurut dan tidak memperdebatkan kemauan Rio.
Setelah kepergian Rio, Yuan mengirim pesan kepada mami mertuanya kalau mereka akan segera sampai di sekolah.
"Semoga kamu suka dengan kejutan kita nanti, Mas," gumam Yuan seraya mengusap perutnya yang masih rata.
__ADS_1