Need A Bride

Need A Bride
Ch. 66. Interogasi


__ADS_3

Bab. 66


Masih ada sisa sepuluh menit lagi acara dimulai. Sila dan Melani memanfaatkan waktu tersebut sebaik mungkin. Apa lagi kalau bukan untuk menginterogasi Yuan—sang bintang yang mampu mengguncang warga SMA Dahlia pagi ini. Juga berhasil membuat mereka patah hati secara berjamaah. Baik siswa maupun siswi.


"Sini bentaran!" ajak Sila sembari menyeret Yuan dengan langkah yang susah. Karena mereka bertiga mengenakan kain jarik yang dililit teramat sangat kencang di kaki mereka.


"Ya tapi pelan-pelan, Sil!" protes Yuan. "Lo sedang hamil loh! Jangan barbar bang—mphh!"


"Sekalian aja umumin make toa!" kesal Sila membungkam mulut Yuan.


Dengan kasar Yuan menepis tangan Sila dari mulutnya.


"Lipstik gue bisa rusak, bego'!" geram Yuan.


Kalau saja tidak ingat Sila berbadan dua, sudah pasti Yuan gulingkan sahabat sengkleknya ini.


Melani menghela napas. Berada di antara dua perempuan yang sama-sama mempunyai keahlian bela diri, tidak serta merta membuatnya merasa nyaman dan tenteram. Justru Melani ingin sekali pergi menjauh dari mereka. Malas nya ya seperti ini. Mereka menggunakan keahlian mereka pada waktu dan kondisi yang tidak tepat sama sekali.


"Bisa kita percepat nggak sih?" sela Melani menatap kesal ke arah keduanya.

__ADS_1


Yuan dan Sila menoleh ke arah mantan ketua osis mereka.


"Kalian tuh udah dandan cantik, anggun, rapi. Jangan kalian rusak dengan tingkah kalian yang kayak anak kecil. Udah pada jadi mantan gadis, juga. Masih aja bertingkah kek anak TK," omel Melani dengan tatapan tajam nya.


"Ya lagian kenapa kalian bawa-bawa gue ke sini? Kan bisa tuh ngobrol di tempat yang adem. Nggak harus di toilet kayak gini. Nggak keren banget sih cara kalian menginterogasi gue!" protes Yuan. "Ya kali, udah cantik, wangi, tapi ngobrolnya di toilet. Nggak banget, Mel!" imbuhnya yang kemudian memilih keluar.


Tentu saja Melani dan Sila mengikuti.


"Ada hubungan apa lo sama Pak Rio? Kok nggak jujur pada kita-kita? Masih anggap sahabat apa bukan, nih?" cecar Sila secara langsung.


Ia ingin tahu hubungan yang dimiliki Yuan dengan pak Rio.


"Kalian tuh kenapa makin kesini makin berubah, sih?" kali ini Melani yang angkat suara. "Perasaan gue selalu bilang apa-apa pada kalian. Bahkan sampai borok keluarga gue. Tapi apa yang gue dapet? Kalian masih aja nyembunyiin sesuatu dari gue."


Mendengar hal tersebut, secara kompak Yuan dan Sila memeluk Melani yang tampak bersedih.


"Cup cup cup, Baby ... gue nggak maksud kayak gitu. Tapi emang gue nggak kenal siapa yang bikin gue berbadan dua kek gini," ucap Sila dengan mata yang berkaca-kaca.


Meskipun sempat dua kali bertemu, namun Sila tidak menanyakan siapa nama pria itu. Ia bersikap tak acuh dan memilih menghindar.

__ADS_1


Sementara Yuan, wanita itu terdiam. Memberi jeda, hingga mereka saling mengurai pelukan dan Yuan mendapat tatapan yang penuh tuntutan dari kedua sahabatnya.


Dengan satu tarikan napas dan pikiran yang sangat yakin kalau saat ini merupakan waktu yang sangat tepat serta sudah terlanjur ketahuan, akhirnya Yuan berkata yang sebenarnya.


"Sebenarnya Pak Rio suami gue," ucap Yuan dengan suara lirih sambil menggigit bibir bawahnya. Menatap resah ke arah kedua sahabatnya. Karena ia tidak mendapat respon heboh dari mereka. Justru hening yang saat ini terjadi di antara mereka bertiga.


"Kalian nggak terkejut?" tanya Yuan bingung.


Sementara Sila dan Melani mengangguk dengan tatapan kosong mengarah ke Yuan.


"Terus kenapa enggak ngomong?" panik Yuan. "Kalian nggak lagi kesambet, kan?" takut Yuan. Apa lagi mereka berada di sekitar toilet yang tampak sepi.


Lagi, keduanya menggelengkan kepala tanpa suara yang terucap.


"Jelasin," ucap Sila dengan suara lemas dan tatapan masih kosong. Terlihat sungguh mengerikan.


"Lebih detail," sambung Melani. Pun ekspresi keduanya juga sama.


"A-apanya?" Yuan takut kalau sampai mereka kesambet beneran.

__ADS_1


Terlihat Sila dan Melani menarik napas secara bersamaan.


"PROSES KALIAN BISA NIKAH!" pekik kedua gadis berbeda status tersebut. Sampai-sampai Yuan tersentak dibuat mereka dan refleks menutup telinganya.


__ADS_2