Need A Bride

Need A Bride
Ch. 38. Main Drama?


__ADS_3

Bab. 38


"Kenapa lagi sih ini muka? Masih lagi juga udah ditekuk, dilipet. Nggak enak banget liatnya," ucap Sila menatap Yuan dengan tatapan memicing.


"Udah deh, nggak susah bahas gue. Ini gimana? Udah siap semua?" tanya Yuan pada Sila.


Gadis itu berjalan cepat memeriksa beberapa tempat. Sudah siap atau belumnya buat diselenggarakan pensi besok.


"Udah sih. Mereka bakalan me lakukan gladi resik lagi nanti sore di atas panggung. Udah sembilan puluh persen kesiapannya. Tinggal menunggu persetujuan guru untuk ditambah dengan acara teater mau apa nggak," terang Sila. "Kan seru nanti jika para guru ikut memeriahkan acara ini. Bisa buat kenangan juga. Apa lagi kalau sampai Pak Rio yang memerankan pemeran seorang pangeran. Beuh ... yakin deh. Murid sekolah sebelah bakalan nonton juga. Mayan nggak tuh, kalau gue jualan jasjus besok malam?" kekeh Sila yang langsung mendapat dorongan dar samping di bahunya.


"Ingat ... lo itu panitia. Nggak boleh jual jualan segala macam. Tugas lo.kastiin acaranya lancar jaya. Jangan ngadi-ngadi deh!" gemas Yuan.


"Ya apa salahnya, Yu? Lagian kalai memang ramai, bisa untung banyak gue. Lumayan kan buat tambah-tambah uang jajan," ujar Sila seraya memainkan alisnya naik turun.


Yuan hanya mencebikkan bibirnya sembari melanjutkan langkah menuju pentas yang sudah siap.

__ADS_1


"Kalau masalah para guru, biarkan Melani sama Richard yang bilang. Gur mah ogah. Dari pada kena semprot sama mereka. Lo tau sendiri, kan? Gue nggak punya backingan kuat di belakang gue," ungkap Yuan yang tidak mau ribet dengan urusan pada guru. Belum lagi masih harus mengarahkan mereka bagaimana dalam beradegan yang bagus dan sesuai dengan naskah.


"Iya juga sih. Kita mah apa atuh. Cuma kriwilan rengginang doang," kekeh Sila yang tak tertahan.


Berbeda dengan dua teman mereka yang berasal dari keluarga berpengaruh juga. Bahkan keluarga mereka juga sering kali mengirim donasi ke sekolah ini.


"Ya udah, jangan banyak bacot deh. Lebih baik buruan cek, udah bener-bener layak apa enggak. Baru ke kantin. Kita dibebastugaskan pelajaran setelah ulangan nanti, kan?" tanya Yuan memastikan ulang.


Sila menepuk jidatnya. "Kenapa yang lo ingat itu cuma ulangan doang?"


"Awww! Sakit, pe'ak!" umpat Yuan yang membalas cubitan dari Sila.


Dan akhirnya mereka pun kejar-kejaran seperti layaknya anak SD.


Pemandangan itu tidak luput dari pandangan sepasang mata seseorang yang tidak sengaja melihat mereka. Orang itu menghela napas. Kenapa sikap mereka tidak sesuai dengan usia mereka.

__ADS_1


***


Sesuai yang dibicarakan, kini Melani dan Richard menghadap ke ruang guru. Bukan karena mereka mendapat masalah. Tetapi untuk menyampaikan pendapat rapat yang tadi terlaksana dengan sangat singkat dan dadakan.


"Bagaimana Pak, Bu? Apakah anda sekalian berkenan untuk memeriahkan pensi besok?" tanya Melani selaku ketua osis.


"Kenapa kalian nggak bilang dari kemarin-kemarin? Jadi kan enak, guru yang menjadi pemainnya nanti bisa latihan dengan waktu yang cukup. Kalau cuma sekali latihan, itu sangat mustahil, Melani," ujar sang kepala sekolah. Membuat Melani dan Richard menunduk.


Ini bukan salah mereka. Tetapi salah dua bocah nakal yang memberi ide di akhir persiapan.


"Bagaimana kalau Bu Clara dan Pak Rio saja yang ikut? Untuk pemeran pendukung, biar anak teater nanti yang membantu," celetuk pak Yohanes seketika. Membuat dua nama yang disebut pun menoleh.


Pun begitu dengan Melani dan Richard.


"Wah, boleh banget, Pak. Kebetulan Pak Rio kan punya banyak fans. Pasti mereka bakalan senang," sahut Richard tidak melihat tatapan pak Rio kepada dirinya.

__ADS_1


Melani yang sadar, beberapa kali memberi cubitan di pinggang Richard, namun tak dihiraukan sama sekali.


__ADS_2