
Bab. 67
Mereka pikir apa yang terlihat di depan mata mereka tadi merupakan puncak keterkejutan mereka paling tinggi. Namun pada faktanya tidak sama sekali. Ada saru fakta lagi yang membuat mereka berdua menggeleng tiada henti. Tidak menyangka jika jodoh datangnya memang real tanpa di sangka-sangka muncul dari mana.
"Dan lo nerima gitu aja?" tanya Melani.
Ia merupakan salah satu murid pintar yang ada di SMA Dahlia. Namun kenapa otak pintarnya itu tetap tidak bisa menelaah bagaimana proses yang barusan Yuan ceritakan kepada mereka.
"Sebelum gue anemia beneran, kalo nggak salah lo kan nggak suka sama itu guru, Yu? Tapi kok ya bisa-bisanya kalian malah udah sah sah aja," imbuh Sila mengingatkan sikap Yuan kepada Rio.
"Amnesia!" ralat Yuan dengan wajah kesal.
"Ya, itu maksud gue!" sahut Sila sembari menyengir.
Yuan menghela napas berat.
"Gimana mau nolak, kalau gue pas berhenti di lampu merah, main ditarik dan dimasukkan ke mobilnya. Udah gitu yang gue heranin, kenapa juga orang tua gue cepet banget datangnya," ucap Yuan mengenai alasan mengapa bisa dirinya menikah dengan Rio.
Kali ini Melani memicingkan matanya ketika mengingat sesuatu.
"Jadi di antara kalian nggak ada cinta, kan?" tanya Melani.
__ADS_1
"Dulu sih kalau aku sama sekali nggak ada. Terus makin ke sini ya pasti ada lah. Karena mungkin terbiasa hidup bareng kali, ya?" Yuan tertawa. Geli dan malu sebenarnya menceritakan bagaimana dia bisa menikah.
"Terus terus, pas lo lakuin itu, udah cinta belum?" tanya Sila dengan tatapan penuh maksud.
"Itu yang mana?" tanya Yuan tidak mengerti. Pun begitu dengan Melani yang juga menatap ke arah Sila.
"Ituloh, Yu. Ih, masa nggak tau, sih. Yang ini, nih!" akhirnya Sila saling menempelkan ujung jari telunjuknya dengan senyuman mesum.
Paham maksud Sila, Yuan menggelengkan kepala. Membuat dua sahabatnya itu hampir saja memekik.
"Gimana ada cinta, orang baru beberapa minggu nikah udah main ditusuk."
"Ye kan lo bisa berontak, kek. Atau apalah, pokoknya nunggu siap," balas Sila seolah lupa dengan apa yang dia alami.
"Kayak yang sendirinya bisa berontak," cibir Yuan dan mendapat senyuman dari Sila.
Sementara di antara mereka, ada seorang gadis yang masih murni dan tidak mengerti maksud ucapan mereka.
"Ya memangnya kenapa, Yu? Lo kan bisa bela diri, harus tendang aja sih Pak Rio kalau memang lo belum siap," ucap Melani dengan begitu polosnya.
Helaan napas terdengar dari Yuan dan Sila secara bersamaan.
__ADS_1
"Pertama, dia suami gue. Masa iya gue jadi janda muda, setelah udah sah jadi istri dadakan itu om mateng? Terus yang kedua, lo belum tau aja sensasi dari sentuhan nakal kaum pria yang mereka berikan di tubuh kita. Jangankan menjaga akal agar bisa berpikir waras, nyawa aja rasanya mau melayang, Mel Mel sayang. Bener nggak, Sil?" jelas Yuan.
"Ck! Dia masih murni, belum tercampur. Jangan lo sesatin," ingat Sila membuat Yuan mengangguk paham.
Melani yang baru paham arah pembicaraan mereka pun langsung berbalik badan.
"Udahlah, malas gue kalo bahas begituan. Mending buru ke aula. Kurang tiga menit acara udah dimulai," putus Melani menyadarkan dua sahabatnya yang langsung mengikuti di belakang mantan ketua osis tersebut.
"Gara-gara lo sih, Yu! Kita hampir lupa kalau sekarang lagi ada acara," tuduh Sila sembari menyenggol lengan Yuan.
Yuan melotot tidak terima disalahkan.
"Lah, kenapa jadi gue?" protesnya.
"Ya pokoknya lo yang salah!" tekan Sila. "Salahnya lo yang bawa fakta heboh kayak gini di waktu yang nggak tepat." Sila masih menyalahkan Yuan.
Sedangkan Melani tidak mau ambil pusing. Gadis itu terus berjalan di depan dua sahabatnya sambil menghapal urutan acara yang akan dia bawakan.
"Siapa emang MC-nya? Gue chat biar agak munduran dikit. Mau benahin lipstik, gue," tanya Yuan.
"Gue!" sahut Melani cepat. Membuat kedua temannya menatap kesal.
__ADS_1
"Gila ya, lo! Udah tau mepet banget waktunya, masih sempat-sempatnya nyeret gue ke toilet. Awas salah, dimarahin Pak Yohanes ntar," ingat Yuan pada guru mereka yang terkenal galak juga.
"Tenang aja. Udah diluar kepala gue semua," jawab Melani begitu santai.