
Bab. 44
Acara berlangsung begitu meriah. Rupanya, banyak murid yang datang juga dari sekolah lain setelah mendengar kalau ada pertunjukan drama malam ini.
Cyrus Brook Band sudah tampil dan keadaan semakin meriah. Karena ternyata band tersebut mempunyai penggemar yang begitu banyak. Belum lagi penampilan Sila yang memukau para penonton. Gadis itu tampil berbeda malam ini. Bahkan mungkin hampir tidak dikenali.
Sedangkan di ruang lain, tampak seorang gadis yang terus meremas tangannya sendiri. Gadis itu tampak begitu gugup.
"Kenapa? Gugup?" tanya seorang pria dengan pakaian bak seorang pangeran yang ada di negeri dongeng.
Kerah tinggi, jubah yang panjang, serta rambut yang disisir ke belakang, sungguh membuat pria itu terlihat begitu sempurna. Di tambah lagi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap.
Yuan menoleh ke arah pria yang menghampiri dirinya dengan tatapan sinis.
"Kenapa Bapak malah suka banget buat saya seperti ini sih, Pak? Harusnya yang ada di sini kan Bu Clara. Yakin deh, bentar lagi nilai aku jelas diturunin kalau pas pelajaran dia," gerutu Yuan mengenai kekesalannya.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Rio tersenyum. Lucu juga jika istri kecilnya ini menumpahkan rasa kesalnya saat di sekolah. Karena sudah pasti Yuan sedikit menahan sikapnya. Coba saja jika sudah di rumah, yang ada lengan dan perut Rio panas. Sebab Yuan tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Memberi cubitan bertubi-tubi ke dua tempat favorit gadis itu. Sepertinya.
"Bukan salah saya. Itu salah kalian yang sudah menjerumuskan saya untuk ikut acara seperti ini," balas Rio dengan nada datar. Karena ada murid lain yang baru masuk ruangan.
Yuan mencebik. "Ck! Bilangnya aja dijerumuskan. Tapi pas latihan semangat banget. Kenapa nggak ditolak dari awal kalau nggak mau," ucap Yuan dengan suara yang lirih. Tidak mungkin ia mengomel dengan suara keras, sedangkan di sekitar mereka ada murid lain yang tengah membantu Yuan memakai gaun yang super ribet menurut Yuan.
"Siapa, Yu?" tanya Santi yang baru saja kembali mengambilkan aksesoris untuk menunjang penampilan Yuan malam ini.
Yuan menepuk jidat nya. Rupanya masih ada yang mendengar suaranya.
Santi sendiri juga terkejut. Lalu menatap ke arah temannya yang lain dengan ekspresi yang tidak enak.
"Apa Pak Rio mau mundur sekarang?" tanya Cika yabg merupakan anak teater juga. "Kalau memang ini berat untuk Bapak, nggak apa-apa kok mundur sekarang. Saya akan secepatnya cari pengganti Bapak," imbuh Cika lagi.
Tidak mungkin ia memaksa Rio untuk tetap ikut dalam drama nanti.
__ADS_1
"Gue juga ya, Ci! Males banget gue makai kek beginian," pinta Yuan yang memotong pembicaraan antara Cika dan Rio.
"Nggak! Enak aja!" sahut Santi. "Gue udah bikin lo makin cantik dan imut kayak gini, masa mau mundur. Rugi dong make up gue yang udah nempel di wajah lo," tolak Santi.
Membuat Yuan mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah, kalau gitu Pak Rio aja tuh yang diganti," usul Yuan menatap penuh arti ke arah Rio.
Sedangkan Rio tetap berwajah datar, namun di dalam hatinya ia benar-benar gemas dengan sikap Yuan.
"Siapa lagi yang bisa, Yu? Kita semua sibuk, kan? Cika juga nggak mungkin narik anak-anak teater yang sekarang juga jadi panitia di depan. Butuh waktu masihan. Nggak akan keburu nanti waktunya," ujar Santi.
"Ada sih, San. Orang yang bisa langsung ngeh dan klop banget kalo sama Yuan," balas Cika membuat Yuan dan Rio menatap gadis itu.
"Siapa?" tanya Yuan.
__ADS_1