
Bab. 34
Akhirnya Yuan pun tidak bisa menolak atau memprotes lagi. Mau tidak mau gadis itu menurut dan di sinilah mereka sekarang. Berada di kediaman keluarga Rayyansyah. Jika menurut perkataan Rio, mereka akan tinggal di sini selama satu mingguan. Baru nanti tinggal di rumah mereka sendiri.
"Waaahh ... menantu imut Mami datang!" seru seorang wanita paruh baya yang cantik nan anggun berhambur ke arah Yuan. Memeluk gadis itu dan menciumi wajahnya.
Meskipun belum terbiasa, namun Yuan memaksakan untuk tersenyum di depan mertuanya tersebut. Membalas pelukan serta melakukan cipika cipiki.
"Bagaimana kabar Mami?" tanya Yuan dengan sikap yang sangat sopan.
"Mami sehat, Sayang. Kamu gimana? Udah buatin cucu buat Mami, kan?" tanya mami Dilla dengan begitu frontal. Tanpa melihat wajah Yuan yang memerah saat ini.
"Mi!" tegur dua orang pria berbeda generasi secara bersamaan.
Sementara yang ditegur justru menatap ke arah mereka dengan wajah tanpa bersalah sedikit pun.
"Mami tanya pada menantu Mami, apa salahnya?" tanya mami Dilla.
"Ya tapi jangan terang-terangan seperti itu, Mi. Kasihan Yuan. Dia malu membahas hal yang sangat privasi di antara mereka pada Mami," ingat seorang pria paruh baya, dialah Attakendra Rayyansyah. Kepala keluarga sekaligus pemilik perusahaan RY Company.
Rio yang tidak tega melihat istrinya menunduk, menahan malu di depan orang tuanya. Lantas pria itu merengkuh bahu Yuan agar mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Boleh kami masuk sekarang, Mi? Kasihan istri Rio kedinginan," ucap Rio yang langsung mendapat pukulan di lengan dari maminya.
"Mentang-mentang udah punya istri, udah nggak perhatian sama Mami!" protes mami Dilla. Lalu wanita itu menarik tangan Yuan dan merebutnya dari Rio.
"Sini Sayang, sama Mami aja. Kalau kamu deket-deket sama suamimu, yang ada kamu nggak akan dikasih istirahat. Anak Mami itu kayaknya bucin banget sama kamu, ya?" lagi dan lagi mami Dilla bertanya tanpa melihat ekspresi Yuan yang merona dan menunduk.
Yuan menganggukkan kepala. Karena hanya itu yang mampu Yuan lakukan saat ini. Ingin mengatakan kalau hubungan mereka belum sejauh itu, namun takut salah dan mertuanya itu malah akan curiga kalau memang rumah tangganya tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan.
Sementara dua orang pria berbeda generasi yang berdiri di belakang mereka, menggeleng kepala melihat tingkah wanita yang berkuasa di keluarga mereka.
"Papi dapatin Mami dari mana sih? Kalau ngomong nggak luat kondisi dulu," ujar Rio protes kepada papi Kendra.
"Maksud Papi?" tanya pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut.
"Di jalan," kekeh papi Kendra yang kemudian masuk menyusul istri dan menantunya.
Rio memijat kepalanya yang terasa pusing. "Pantesan, sikapnya random banget," gumam pria itu lalu segera masuk ke dalam seraya menarik koper milik Yuan.
Mami Dilla yang sangat senang dengan kedatangan Yuan malam ini, wanita itu pun memanggil kedua anaknya yang lain. Hingga mereka berkumpul di ruang tengah saat ini.
"Kak Yuan nginep di sini lama?" tanya Zuma yang baru saja duduk di dekat Yuan.
__ADS_1
Yuan tidak langsung menjawab. Gadis itu menatap ke arah Rio, yang justru pria itu menoleh ke arah lain. Sepertinya ingin mengerjai dirinya.
"Nggak tau, Kak. Palingan cuma dua hari aja," jawab Yuan asal. Mau jawab pulang besok pagi juga tidak mungkin. Karena ia sudah membawa koper ke sininya.
Zuma manggut-manggut sambil melirik ke arah kakak sulungnya yang sok cuek.
"Karena cuma dua hari, gimana kalau malam ini Kak Yuan tidur bareng gue? Gue pingin ada temen ngobrol malam ini," pinta Zuma dengan sengaja. 'Rasain lo! Jadi orang sok cuek banget.' batin Zuma melirik ke arah Rio.
"Atau kalau nggak mau sama Zuma, bisa sama Zack, Kak. Bosen ngobrol ama Zuma terus sebelum tidur tiap hari." sahut Zacky yang bisa menangkap maksud adik kembarnya.
Mungkin, karena mereka sudah sama-sama dari masih orok, makanya pemikiran mereka bisa banget nyambung.
"Kalau gitu Mami juga ik—"
"Nggak boleh!" sergah Rio dengan nada keras dan langsung mendekap Yuan yang tengah duduk di sampingnya. "Yuan tetap tidur dengan suaminya." tegas Rio dengan wajah datarnya. Membuat tiga orang yang menggoda tadi menahan tawa mereka.
Sementara papi Kendra menghela napas melihat tingkah mereka.
'Untung cuma punya anak tiga. Bayangin aja kalau aku buat Dilla hamil tiap tahun terus. Yang ada aku yang bakalan pusing hadepin mereka.' batin Kendra mengucap syukur.
Maaf, Yuta akhir² ini sibuk bikin kue. jadinya baru bisa up malam ini.
__ADS_1