
Bab. 50
Merasa ada yang mengusik dirinya saat tertidur, perlahan Yuan membuka matanya. Mengerjap pelan lalu mengucek karena pandangannya masih kabur.
Sedangkan Rio sedikit menjauh dan menatap pergerakan Yuan dari tempatnya. Pria itu kemudian mengambil ponsel dan seolah tengah memainkannya.
"Mas!" pekik Yuan ketika melihat suaminya bersandar di dekatnya.
Rio tersentak, terkejut dengan reaksi Yuan barusan. Tidak bisa berpura-pura dingin sesuai rencananya, Rio mendekat ke arah Yuan dengan raut khawatir.
"Ada apa?" tanya Rio sigap.
Namun ketika ingin memeriksa kondisi Yuan dan akan menyingkap selimut yang tengah dipakai sang istri, pria itu mendapat pukulan dari Yuan. Bukan hanya satu kali, tetapi berkali-kali. Bahkan berganti cubitan di perut keras Rio.
"Apa sih, Yaang?" tanya Rio yang masih belum paham dengan tindakan Yuan.
Sedangkan Yuan menatapnya sinis. Wanita itu kemudian membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya hingga tidak ada celah sama sekali. Menggulung tubuhnya dengan kain tebal tersebut. Meskipun rasanya.sedikit gerah dan tidak nyaman. Karena keringat yang menempel di tubuhnya.
"Apa apa apa!" sentak Yuan. "Kamu tuh ngapain ambil keperawananku, Mas? Aku masih sekolah loh!" protes Yuan dengan nada ketusnya.
Rio menghela napas. Rio pikir wanita ini akan lupa ingatan mengenai apa yang mereka lakukan semalam.
"Tenang aja. Masih mending keperawananmu aku yang ngambil. Daripada kamu kasihkan gratis ke pacar kamu. Kayak anak jaman sekarang itu. Kasih-kasih gratis ke pacarnya hanya bermodalkan 'aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang. Aku cinta sama kamu selamanya' Ck! Murahan banget," cibir Rio dengan wajah santai nya. Membuat Yuan semakin menipiskan bibirnya dengan mata melotot.
"Muluuuuutttt!" tidak tahan menahan tangannya, Yuan pun menggeser tubuhnya dan meraih mulut Rio yang begitu lemes mengatakan fakta yang ada di sekitar mereka.
Namun, seketika itu juga Yuan merasakan nyeri yang luar biasa di bagian inti terdalamnya.
"Sshhh!" desisnya menahan rasa sakit.
__ADS_1
Sontak membuat Rio mendekat lagi. Mengabaikan bibirnya yang terasa panas.
"Masih sakit?" tanya Rio sembari membuka selimut yang dipakai Yuan. Namun dengan segera wanita itu menepis tangan Yuan.
"Eh, kamu mau ngapain, Mas?" pekik Yuan kaget. Bergerak cepat, makin terasa sakitnya.
"Mau liat mana yang sakit, kalau parah, aku bantu obatin," jawab Rio dengan tatapan jahilnya.
Yuan menggeleng cepat. "No no no! Yang ada malah tambah parah nanti!" tolak Yuan menyingkirkan tangan Rio dari sana. "Dasar, om mateng mesum," lirih Yuan, tetapi masih bisa terdengar jelas oleh Rio.
Pria itu semakin mendekat, membuat Yuan was-was. Mau menghindar, akan tetapi tubuhnya terasa lemas dan remuk. Lebih lagi di bawah sana.
"Apa kamu bilang?" tanya Rio menaikkan satu alisnya. Pria itu kemudian menyelipkan tangannya di belakang lutut Yuan sedangkan yang satunya lagi di punggung.
Yuan tampak panik.
"Eh eh! Enggak ada, Mas. Mas ganteng banget," elak Yuan, tidak sepenuhnya bohong.
"Udah sadar?"
"Hah? Apanya?" Yuan tampak tidak fokus. Apa lagi ketika Rio dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
"Mandi dulu. Habis itu makan," ujar Rio seolah tahu tatapan Yuan.
"Enggak! Turunin aku aja. Aku bisa sendiri, Mas!" tolak Yuan. Memberontak, namun pria itu malah mengeratkan pegangannya.
"Gerak dikit aja udah kayak gitu. Mana mungkin bisa jalan sendiri," sindir Rio menatap wanita yang sekarang ini ada di gendongannya.
Kesal, itu sudah jelas Yuan rasakan. "Siapa juga yang buat aku kayak gini? Make maksa banget!"
__ADS_1
Rio tersenyum lalu menaikkan alisnya sebelah. "Tapi kamu merem melek. Enak, kan?"
Blush!
Pipi Yuan terasa panas. Wanita itu memalingkan wajahnya. Malu sekali dengan ucapan Rio barusan.
Rio senang sekali melihat ekspresi Yuan seperti ini. Jadi lebih bersemangat lagi untuk menggodanya
"Baiklah, sebelum mandi, sebaiknya kita berkeringat dulu," ucap Rio seraya melangkah menuju kamar mandi.
"Hah?"
"Satu ronde sebelum mandi," bisik Rio memperjelas ucapannya. Membuat dirinya mendapatkan pukulan dari Yuan.
"Enggak! Nggak mau ... masih sakit," rengek Yuan. Bisa-bisanya pria ini mau minta lagi. Sedangkan dirinya saja berjalan susah.
"Ingat kata Bunda, nolak suami itu dosa," ingat Rio dengan wajah mesumnya.
"Kalau suaminya modelan Pak Rio, boleh kok ditolak. Karena nggak liat kondisi," balas Yuan.
"Pak Rio?" ulang Rio dengan wajah tak suka.
Deg!
Yuan lupa jika Rio tidak suka dipanggil dengan sebutan itu kalau mereka tidak sedang berada di sekolah.
"Hmmm ... sepertinya nggak cukup ini kalau cuman satu ronde aja," goda Rio dengan wajah seriusnya.
Kemudian mendudukkan Yuan di pinggiran wastafel dan melempar selimut yang dari tadi menghalangi pandangannya.
__ADS_1
"Ampyuuuunnn ... Maaasss!" rengek Yuan yang sia-sia saja. Karena Rio sendiri sudah menanggalkan handuknya.