Need A Bride

Need A Bride
Ch. 22. Sumpah Serapah


__ADS_3

Bab. 22


Di sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, Yuan tidak hentinya menggerutu. Betapa tidak, dia pikir semalam dirinya akan lolos dari guru menyebalkan itu, namun ternyata anggapannya salah.


Entah bagaimana bisa pria itu masuk ke dalam kamarnya dan main rebahan di tempat tidurnya. Sebab, di kamar Yuan yang tidak seluas kamar hotel itu tidak terdapat fasilitas lengkap. Seperti sofa panjang, misalnya.


Mau menyuruhnya tidur di lantai pun juga tidak mungkin. Akan sangat berdosa sekali dirinya. Sehingga mau tidak mau, Yuan membiarkan pria itu memejamkan mata di sampingnya. Tentu saja, dengan bantal guling sebagai baris pemisah di antara mereka berdua.


Kekesalan Yuan tidak sampai di sana saja. Sewaktu mandi, pria itu dengan begitu santainya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Jangan tanyakan bagaimana gambaran dada bidang dan beberapa tumpukan bata di perutnya. Jelas, Yuan tidak berani menatapnya dengan terang-terang. Matanya sungguh ternoda pagi tadi.


Untuk kali pertamanya dirinya melihat secara langsung dada bidang tanpa ada benang yang menghalangi. Karena biasanya Yuan hanya melihat gambaran seperti itu hanya di komik yang selama ini ia baca. Istilahnya tumpukan roti sobek.

__ADS_1


"Guru mesum! Nggak ada akhlak! Mata gue bener-bener ternoda, anj*r!" umpat Yuan sembari mengendarai motornya.


Jangan kira tidak terjadi drama sewaktu mereka akan berangkat sekolah. Itu jelas terjadi perdebatan yang lumayan panjang. Bahkan dengan ayah dan bunda Yuan. Namun, Yuan tetap tidak ingin berangkat bareng bersama Rio, apa lagi kalau sampai hubungan mereka ketahuan.


Yuan mengancam akan menceraikan Rio, kalau sampai memaksa dirinya untuk berangkat bareng. Sehingga kemenangan pun Yuan dapatkan dalam perdebatan tersebut.


Sementara itu, mobil yang di kemudikan Rio berada tepat di belakang Yuan. Tetap saja, walaupun tidak berangkat bareng, Rio memiliki tugas dan kewajiban baru. Yakni menjaga dan memastikan gadis itu selamat sampai tujuan.


Rio menggeleng melihat tingkah Yuan yang menghentakkan kakinya di bagian bawah motor matiknya tersebut. Namun bibirnya terangkat ke atas hingga membentuk sebuah senyuman tipis.


***


"Heh, bege! Ke mana aja lo selama ini? Hah?" semprot Melani ketika Yuan baru masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


"Ck! Siaal bener sih nasib gue hari ini. Masih pagi loh padahal," balas Yuan berdecak.


Mengabaikan amarah Melani yang jelas akan menodong dirinya mengenai kesiapan band dan juga tamu yang memeriahkan pensi nantinya. Yuan justru memilih berjalan menuju ke kursi nya dan menaruh tas slempang beserta tote bag-nya ke laci yang ada di mejanya.


Sementara itu Melani menarik napas panjang. Terlihat sekali jika gadis itu tengah menahan geramnya pada Yuan.


"Ini sudah kurang dua hari, Yuan! Lo malah enak-enakan ngilang nggak jelas. Mana di hubungi nggak bisa!" semprot Melani lagi.


Yuan menghela napas pasrah di semprot sendiri oleh sahabatnya. Padahal jika jam sekolah usai, Melani merupakan orang yang paling peduli terhadap dirinya. Beruntung, pernikahan dirinya dengan pak Rio tidak diketahuinya. Jika Melani tahu, mungkin telinga Yuan bakalan tidak baik-baik saja. Gendang telinganya bisa pecah.


Yuan berdiri, lalu menatap lemas Melani.


"Iya, gue minta maaf, gue salah, Mel. Tapi tuh kemarin gue memang ada urusan keluarga. Jadi sorry, jika chat atau panggilan dari lo nggak gue respon," ucap Yuan penuh sesal. Membuat Melani mengatur napasnya agar tidak terbawa emosi terlalu dalam.

__ADS_1


Padahal di dalam hati Yuan, gadis itu benar-benar melayangkan sumpah serapahnya pada pria yang sialnya menjadi suaminya sendiri saat ini.


__ADS_2