
Bab. 73
Yuan tersentak kaget ketika membuka pintu kamar mandi, suaminya sudah berdiri tepat di depannya dengan tatapan yang sangat aneh menurutnya.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Yuan seraya mengernyitkan keningnya. Karena Rio saat ini tengah senyam senyum sendiri.
Sementara Rio yang melihat sang istri membuka pintu kamar mandi, langsung saja meraih tubuh Yuan dan menggendongnya dengan penuh kehatian. Meluapkan rasa bahagianya dengan cara melabuhkan beberapa kecupan di wajah dan kepala Yuan.
Sedangkan Yuan yang tidak mengerti dengan reaksi Rio, wanita itu berusaha menjauhkan wajahnya demi melihat sang suami.
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Yuan yang berhasil menjauh dari suaminya.
Bukannya menjawab pertanyaan Yuan, Rio justru terus senyum sambil menikmati cantiknya wajah sang istri. Membuat Yuan sampai heran, ada apa dengan suaminya ini.
"Kamu nggak sedang sakit kan, Mas?" tanya Yuan penuh selidik lalu menaruh tangannya di kening Rio.
Rio menggeleng. "Aku nggak lagi sakit, Yaang. Aku sedang bahagia banget," ucap Rio.
__ADS_1
Lalu pria itu membawa Yuan dan menurunkan wanitanya itu tepat di pinggiran ranjang. Rio berganti berjongkok di depan Yuan. Meraih tangan istrinya lalu mengecupnya beberapa kali. Dan kecupan yang terakhir sungguh membuat Yuan berhasil tersentak kaget, bahkan wanita itu sampai sedikit mundur dari tempatnya.
"Terimakasih, Yaang," ucap Rio mengangkat wajahnya, menatap Yuan dari bawah. Sedangkan posisi wajahnya saat ini berada tepat di depan perut Yuan. "Aku memang sangat bahagia mengetahui kalau di dalam sini ada keturunanku. Hasil dari cinta kita selama ini. Tapi di saat yang bersamaan, aku juga merasa bersalah. Karena tindakanku ini kamu sampai harus merelakan masa remajamu. Maafkan aku, Yaang," ucap Rio dengan penuh rasa bersalah, meskipun ia tidak menyesal sama sekali.
Kemudian Rio mencium perut Yuan yang masih rata dan menempelkan wajahnya di sana.
Yuan tersenyum geli melihat pria yang salama ini terlihat dingin dan kaku, bahkan tidak memiliki ekspresi sama sekali, kini malah pria itu bersikap manja kepada dirinya. Sangking gemasnya, Yuan mengusap rambut Rio dan mengarahkannya ke belakang. Ia suka sekali melakukan itu.
"Aku nggak masalah kok Mas kalau harus menunda kuliahku. Asal kau tetap kuliah aja," ujar Yuan.
Baginya tidak ada tuntutan setelah lulus harus langsung kuliah. Belajar itu tidak mengenal batasan usia. Yang terpenting harus siap kesemuanya.
Membayangkan kalau di rumah ini akan ada anak kecil, Yuan bahkan merasa juga sudah tidak sabar menantinya.
Rio beranjak dari tempatnya. Pria itu kemudian duduk di samping Yuan lalu mengangkat tubuh wanita itu dan menaruhnya di atas pangkuannya. Membuat Yuan terkesiap kaget.
"Besok kita periksa ya, Yaang?" tawar Rio kepada sang istri.
__ADS_1
Meskipun dari penjelasan mami nya tadi kalau Yuan benar-benar hamil, namun Rio masih kurang puas dan ingin mengetahui keadaan calon anak mereka yang sekarang ini berada di kandungan istrinya.
"Tapi nggak di suntik kan, Mas?" tanya Yuan dengan wajah takut.
Rio terkekeh melihat ekspresi istri kecilnya ini. Membuatnya tidak tahan untuk tidak mencium bibir yang saat ini cemberut.
Cup!
"Enggak lah, Yaang. Kata Mami cuma dilakukan pemeriksaan biasa. Nanti kita langsung ke dokter kandungan kenalan Mami aja. Biar nanti nggak usah ngantri," jelas Rio.
"Beneran, Mas?" tanya Yuan memastikan ulang.
"Beneran, Yaang. Nggak usah antri lagi," yakin Rio. Karena maminya itu mempunyai banyak kenalan yang bukan kaleng-kaleng.
Yuan mengerucutkan bibirnya ke depan. Lalu memukul bahu suaminya.
"Bukan itu, Mas. Tapi yang nggak disuntik itu loh. Aku takut kalau di suntik," rengek Yuan yang tampak begitu menggemaskan.
__ADS_1
Tidak tahan melihat istrinya yang begitu imut, Rio pun akhirnya mendekap wanita itu dengan sangat erat.
"Bukan dokter yang nyuntik kamu, Yaang. Tapi aku, aku yang pingin jengukin baby kita," bisik Rio dengan suara yang begitu serak serta tatapannya yang begitu sayu. Seolah ingin melahap Yuan saat ini juga.