
Bab. 52
Sepulang sekolah, Yuan yang sudah mulai terbiasa dengan statusnya saat ini, gadis itu pun tidak lagi melipir ke mana-mana. Yuan langsung pulang dan segera membantu bibi di dapur.
"Non Yuan mau makan sekarang?" tanya bibi ketika nyonya mudanya itu masuk ke dapur.
Yuan menggeleng. "Saya mau bantu-bantu, Bi. Mau masak apa?" tanya Yuan.
Karena sudah beberapa hati tinggal di rumah ini, Yuan belum sempat datang ke dapur meskipun hanya untuk makan saja. Sebab suaminya tidak membiarkan Yuan datang ke dapur dan pria itu lah yang selalu membawakan makanan untuk Yuan ke dalam kamar.
Sontak saja mereka yang berada di dapur tersentak kaget mendengar pertanyaan Yuan.
"Tidak usah, Non. Non Yuan nonton tv atau istirahat saja. Pasti lelah kan sepulang sekolah?" tolak salah satu di antara mereka dengan cara yang begitu halus.
Mereka masih menginginkan pekerjaan mereka saat ini. Mereka tidak mau mengambil resiko, dengan membiarkan nyonya muda mereka berada di dapur. Di tambah lagi malah ingin membantu mereka memasak. Peraturan pertama yang dibuat oleh majikannya ialah mereka tidak boleh membiarkan istrinya berada di dapur. Kalau sampai lalai, maka pekerjaan mereka taruhannya.
"Enggak kok, Bi. Saya bantu di sini saja, dari pada nanti malah ketiduran di kamar." keukuh Yuan yang tetap ingin membantu mereka.
__ADS_1
Tiga pelayan yang ada di dapur saat ini saling pandang dengan raut yang tampak begitu gelisah. Takut-takut jika nanti ketahuan tuan mereka.
"Kenapa, Bi? Saya nggak boleh bantu kalian karena larangan suami saya?" tebak Yuan pada akhirnya setelah melihat mimik wajah mereka yang resah. Yuan sendiri tidak mau menambah masalah mereka hanya karena rasa bosan yang gadis itu rasa saat ini.
Dengan penuh kebagian, salah satu di antara mereka pun mengangguk, membenarkan dugaan Yuan saat ini.
"Maafkan kami, Nona. Bukannya tidak suka anda berada di sini, tetapi ini demi nasib pekerjaan kami ke depannya," balas salah satu di antara mereka.
Yuan paham betul dengan sikap posesif suaminya jika sudah berada di rumah. Entah, harus senang atau bersyukur dirinya mendapatkan pria yang seperti itu. Akan tetapi, Yuan masih saja belum bisa sepenuhnya memberi hati, meskipun ia sudah rela melayaninya sebagai mana mestinya.
Lagi pula, pikirannya saat ini sedang carut marut. Bukan memikirkan bagaimana caranya pisah dengan suaminya, karena Yuan sudah memutuskan untuk menerima apa yang terjadi sekarang ini. Melainkan apa yang terjadi pada Sila.
Masuk ke dalam kamarnya, Yuan berencana ingin mengerjakan tugas sekolah yang dia dapat tadi. Kebetulan juga hari ini ia membawa motor dan diijinkan oleh suaminya. Sehingga Yuan pulang lebih dulu. Bahkan gadis itu tidak mengirim pesan pada Rio jika susah pulang. Memang benar-benar gadis yang pintar sekali menggoda kesabaran seseorang.
Seperti apa yang sekarang orang itu lakukan. Beberapa kali menanyakan keberadaan sang istri, namun satu pun tidak mendapat balasan. Bahkan pria itu sedikit mengabaikan rapat yang sedang berlangsung sekarang.
"Apa ada masalah, Pak Rio?" tanya seseorang yang tengah berdiri dan menjelaskan perihal rincian ide dari timnya.
__ADS_1
Rio tersentak, namun pria itu dengan mudah merubah ke mode datar dan tenang.
"Sepuluh menit lagi. Setelah itu bubar," ujar Rio dengan tatapan tajam nya.
Beberapa orang yang berada di ruang dapat tak tercengang. Pasalnya rapat yang mereka lakukan sekarang ini baru berjalan lima belas menit. Ini dapat tercepat yang akan mengukir sejarah di perusahaan RY Group.
"Ta-tapi, Pak—"
Brak!
Rio menggebrak meja yang ada di hadapannya dengan wajah berang.
"Sudah kukatakan, aku tidak suka dibantah. Keluar sekarang!" tegasnya dengan tatapan begitu tajam. Membuat semua orang yang berada di ruang rapat pun terdiam dan menunduk.
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Rio melangkah lebar menuju ke arah pintu.
"Nggak tau orang lagi khawatir, apa!" rutuknya sembari berjalan menuju ke arah parkir mobilnya.
__ADS_1