Need A Bride

Need A Bride
Ch. 43. Meminta Lebih


__ADS_3

Bab. 43


Tentu saja, melihat jarak di antara mereka yang sangat dekat, membuat Yuan semakin waspada. Alih-alih memejamkan mata sesuai dengan skenario, Yuan justru malah melotot ke arah pria yang ada di atas tubuhnya saat ini.


"Kenapa posisinya begini banget sih! Kan bisa aja dari samping, Pak!" protes Yuan dengan nada begitu rendah dan penuh penekanan.


Yuan tidak mendapat jawaban melainkan hanya tatapan seperti mengejek dari Rio.


Kemudian Melani melanjutkan membaca naskah yang dibuat teman sialan nya itu. Bagaimana bisa Sila membuat cerita seperti ini dan malah menempatkan dirinya dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan saat ini.


Rio beradegan sesuai arahan Melani. Meskipun ini masih latihan, tampaknya pria itu melakukannya dengan sepenuh jiwa. Terbukti tidak ada kesalahan sedikit pun yang dibuat oleh Rio. Tidak seperti ketika berlatih dengan bu Clara.


Hingga pada saat momen mereka harus berciuman, bukan bukan, lebih tepatnya pangeran mencium sang putri, Yuan menghentikan tindakan Rio yang semakin mendekatkan wajahnya ke arahnya.


"Bapak nggak beneran, kan?" tanya Yuan memastikan ulang.

__ADS_1


"Menurutmu?" senyuman Rio penuh arti.


"Ta-tapi, Pak. Banyak murid lain di sini. Anda jang ...."


Yuan tidak melanjutkan ucapannya lagi ketika Rio semakin mengikis jarak di antara mereka. Gadis itu memilih untuk memejamkan begitu erat dengan tangannya yang mencengkeram ujung seragamnya sendiri.


Sedangkan di sisi lain, bu Clara melotot tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Pun begitu dengan siswi yang lain. Mereka hampir saja berteriak histeris dan tidak lupa menjepret adegan di depan mata kepala mereka sendiri.


"Loh loh, Pak! Kok deket banget sih


"Ya memang harus seperti itu, Bu. Harus totalitas dalam berakting. Meskipun ini masih latihan," sahut siswi yang lain.


"Iya, Bu. Biar acaranya nanti petcah ulala!" timpal yang lain sembari menahan tawa mereka. Karena wajah bu Clara semakin memerah.


Sedangkan Rio tersenyum melihat Yuan yang menutup matanya begitu rapat. Gadis itu takut sekali jika dirinya benar-benar akan menciumnya.

__ADS_1


'Tenang aja. Nggak untuk sekarang ini." bisik Rio begitu lirih bahkan bibirnya hampir tidak terlihat seperti sedang berbicara.


Pria itu dengan sengaja menghembuskan napasnya sedikit kasar, sehingga terpaan napas tersebut bisa Yuan rasa.


Yuan pikir Rio bakalan menghentikan aksinya itu dan menyudahi. Namun ia tersentak kaget di kala merasakan sesuatu di permukaan bibirnya. Sementara Rio dengan wajah tanpa salah, pria itu bangkit dari posisinya.


"Hanya begini saja?" tanya Rio ada Melani lalu berpindah ke arah Richard yang masih tampak kesal di tempatnya.


"Lah, memangnya Bapak mau adegan yang lain lagi?" tanya Sila yang baru datang dan sempat melihat adegan yang barusan. "Bisa saya buatkan dialognya lagi pas pangeran dan putri setelah mengadakan pernikahan. Boleh?" tanya Sila yang semakin menjadi saja.


Meskipun sudah mendapatkan pukulan dari Melani dan pelototan dari Yuan, namun mulut gadis itu terlanjur lemes banget.


"Kalau yang itu, biar urusan saya," jawab Rio dengan wajah datarnya. Sangat berbeda dengan Yuan yang semakin merona wajahnya.


"Hah?" beo Sila.

__ADS_1


Rio tidak memperjelas lagi. Pria itu membantu Yuan untuk bangun, lalu kemudian melangkah pergi meninggalkan aula teater dengan gayanya yang dingin. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa barusan. Padahal, tadi Rio sempat menyapukan ujung lidahnya pada permukaan bibir Yuan di kala menemukan kesempatan.


__ADS_2