
Bab. 32
"Cuma ini aja?" tanya Rio di saat Yuan keluar hanya dengan satu koper saja. Tanpa ada tas yang lain.
Gadis itu mengangguk. "Iya. Ini udah sama sekalian buku sekolah. Memangnya kita mau ke mana sih, Pa—Mas?" ralat Yuan dengan segera. Dari pada om matengnya itu memberi hukuman yang aneh-aneh lagi.
Rio tidak langsung menjawab. Pria itu mengambil alih koper yang di bawa Yuan.
"Kamu bantu bawa laptop dan tasku. Kita berangkat sekarang," ujar Rio.
Yuan yang masih penasaran mereka mau pergi ke mana, gadis itu tidak langsung melakukan apa yang Rio perintahkan kepada dirinya.
"Kita mau ke mana dulu? Aku nggak mau ikut Mas Rio begitu saja. Ntar ujungnya aku diculik. Mana Ayah dan Bunda belum pulang, kan?" tolak Yuan masih berdiri di tempatnya. Di ambang pintu penghubung antara ruang tengah dan kamarnya.
Pletak!
Rio tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menyentil kening Yuan agar otak gadis itu lebih bisa berpikir lagi.
__ADS_1
"Kalaupun aku mau menculik kamu, itu sah sah aja. Bahkan kalaupun di laporin ke polisi, mereka nggak akan bisa berbuat apa-apa," geram Rio menekan rasa sabarnya.
"Hah? Nggak adil dong itu aparat. Apa karena Mas Rio kaya? Aku yang sebagai korban ini dari kalangan biasa. Makanya diabaikan, gitu? Karena nggak punya kuasa dan pengaruh apapun?" cecar Yuan.
Entah kenapa di saat seperti ini otaknya yang cerdas itu tidak berfungsi sama sekali. Padahal Rio sangat tahu, gadis ini merupakan salah satu murid yang selalu mengharumkan nama sekolah melalui kemenangannya di berbagai lomba nasional maupun internasional.
Rio menghela napas, menyipitkan mata lalu mendekat ke arah Yuan.
"Apa perlu kucium dan kuhamilin dulu, baru kamu sadar kalau kamu itu istriku? Hmm?" tanya Rio. Tatapannya mengunci tatapan Yuan.
"Nggak nggak! Makasih!" sahut Yuan cepat.
Pria ini sangat berbahaya. Baik untuk kesehatan jantungnya dan juga mentalnya. Bisa-bisanya aia dibuat terpaku dengan pesonanya barusan. Walaupun hanya beberapa detik saja.
"Kenapa? Aku ikhlas kok. Gimana? Sekarang aja? Di sini?" cecar Rio sembari memainkan satu alisnya. "Biar nanti kalau kamu bikin laporan diculik, sekalian bilang dihamilin juga sama suamimu," usul Rio kemudian.
Rio menahan tawanya di saat melihat wajah Yuan yang terdiam dan merona. Sungguh sangat menggemaskan. Jika saja gadis ini sudah melewati ujian nasional, mungkin Rio tidak akan menahannya.
__ADS_1
Walau masih baru beberapa hari menjadi suaminya, tetapi ia selalu dibuat kalang kabut hanya melihat Yuan dengan pakaian bebas seperti ini dan tanpa menggunakan make up sedikit pun. Bibirnya yang merah alami itu loh, yang membuat dirinya selalu menjadi maling setiap malam. Tentu, di saat Yuan sudah terlelap.
Yuan berjalan melewati Rio. Gadis itu bukannya membawa laptop dan tas Rio sesuai perintah tadi, tetapi malah duduk di sofa yang ada di depan televisi dan mepet dinding. Membuat Rio mengernyit heran.
"Sini dulu deh, Pak. Ini sepertinya ada yang harus diluruskan," ucap Yuan membuat Rio menaikkan satu alisnya.
Yuan yang sadar karena panggilannya seperti semula, segera mengarahkan tangannya ke depan.
"Bentar bentar, Bapak jangan marah dulu atau protes. Biarkan saya memanggil seperti ini agar nyaman, lalu kita bahas mengenai hubungan kita ini," ucap Yuan cepat supaya Rio tidak bertindak seperti tadi.
Namun, perkataan Yuan semakin membuat Rio tidak mengerti. Pria itu hanya diam dan memperhatikan istri kecilnya itu yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
"Mau bahas apa lagi?" tanya Rio.
Yuan menarik napas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan.
"Bagaimana kalau kita buat perjanjian?" ujar Yuan.
__ADS_1