
Bab. 47
"Pak, kita pulang aja, ya? Kasihan itu Mami nanti nunggu menantunya pulang," bujuk Yuan dengan segala macam cara agar suaminya membatalkan membawa dirinya ke hotel.
Pikirannya sudah tidak jelas dan tentu saja mengarah ke mana-mana. Bukan hal yang baik menurut Yuan untuk saat ini. Oleh sebab itu, ia berusaha sangat keras membuat Rio mengurungkan niatnya.
"Pak ... pulang aja, ya?" rengek Yuan lagi.
Sementara Rio menahan tawa di tempatnya. Gadis ini jika sedang ada maunya pasti akan bersikap lembut dan tidak kerja serta cuek kepadanya. Sungguh menggemaskan sekali.
Karena masih tidak mendapat respon dari Rio yang sedang fokus dengan kemudinya, lantas Yuan memberanikan diri untuk mencoba keberuntungannya.
"Mas ... pulang ke rumah aja, ya?" rayu Yuan sembari menusuk nusuk lengan Rio dengan jari telunjuknya.
Rio sendiri sebenarnya menahan diri sedari tadi dari godaan sang istri. Jika tidak ingat ini sedang berada di jalan, mungkin Rio sudah menyerang Yuan tanpa ampun sedikit pun.
Namun, sepertinya kali ini ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Di tambah Yuan yang semakin berani kepada dirinya.
"Mas ...." panggil Yuan dengan wajah yang memelas. Seolah ingin dibebaskan dari kandang singa.
Rio terdengar mengeram. Pria itu semakin tidak sabaran. Kemudian Rio semakin menambah kecepatan laju mobilnya dan pria itu tidak jadi membawa Yuan ke hotel, melainkan pulang ke rumah mereka sendiri.
__ADS_1
Tentu saja Yuan bingung, suami nya ini membawa dirinya kemana. Karena ia tidak mengenali tempat ini sebelumnya.
"Loh, Mas. Ini kita ke rumah nya siapa? Kenapa nggak langsung pulang saja, sih?" tanya Yuan melihat ke sekitar.
Rumahnya tidak kalah besar dengan rumah utama keluarga suaminya. Namun di sini tampak lebih simpel dan tidak terlalu mencolok. Semua ornamen bangunannya berwarna putih dan gold. Terlihat elegant dan tidak terlalu wah.
Rio mematikan mesin mobilnya, lalu melepas sabuk pengaman nya dan juga yang melekat di tubuh Yuan.
"Katanya nggak mau dibawa ke hotel. Ya sudah, kita ke sini saja," jelas Rio dengan tatapan yang sudah tidak fokus. Namun pria itu terlihat sangat berusaha untuk tetap menahan sesuatu.
"Ya tapi ini rumahnya siapa? Kenapa main belok ke rumah orang aja sih, Mas! Ntar kalau dikiranya kita mau maling di sini gimana? Nggak mau aku digebukin warga sekitar," protes Yuan dengan segala pemikirannya yang terbilang unik di mata Rio.
Rio terkekeh kecil. Sangking gemasnya, ia tidak tahan untuk tidak mengacak rambut Yuan.
Lalu pria itu membukakan pintu yang ada di sebelah Yuan dan langsung menggendong gadis itu di saat Yuan berhasil berdiri tegak di samping mobil.
"Akh!" pekik Yuan kaget. Refleks gadis itu langsung melingkarkan tangannya di leher Rio. Takut kalau-kalau saja dirinya jatuh.
"Mas, turunin, Mas! Malu sama yang punya rumah nanti," pinta Yuan dengan suara lirih. Takut kalau ada yang melihat mereka.
Sedangkan Rio dengan santai nya membawa Yuan masuk ke dalam hingga pintu yang besar itu tampak dibukakan dari dalam. Dan yang lebih membuat Yuan terkejut ialah penyambutan beberapa orang yang berpakaian sama. Sepertinya mereka pengurus rumah ini.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan Muda, Nyonya Muda," sapa mereka serempak serta membungkukkan badan mereka.
Yuan menatapnya bingung, namun gadis itu mengangguk samar sebagai respon sopan santunnya. Meskipun pria yang tengah menggendong dirinya saat ini hanya mengerjapkan mata saja.
"Ck. Sombong banget sih jadi orang. Minimal itu ya dibalas sapaan mereka," cibir Yuan yang tentu saja didengar oleh Rio. Rio menatapnya dengan penuh sejuta makna.
Ketika sampai di anakan tangga, Rio membalikkan badan membuat Yuan semakin mengeratkan tangannya di belakang leher Rio.
"Kalian malam ini pergilah menginap di hotel. Kembali lagi besok jam empat pagi. Ingat, jangan ada kembali kecuali petugas keamanan yang berada di depan," perintah Rio yang kemudian dengan begitu santai nya kembali menaiki anakan tangga tersebut menuju ke lantai dua.
"Baik, Tuan Muda," sahut mereka yang langsung bubar jalan tanpa membawa apa-apa.
Senyuman Rio semakin terlihat menyeramkan di kala Yuan mendengar suara pintu utama ditutup. Di tambah lagi ketika Yuan di bawa masuk ke dalam sebuah kamar yang lebih luas dari kamar Rio di rumah mami Dilla.
Klek!
Rio pun langsung mengunci pintunya tanpa menurunkan Yuan.
"Ma-mas ... kamu nggak—"
"Iya. Aku tetap minta sekarang." potong Rio cepat dengan tatapan begitu dalam.
__ADS_1
Hai, Yaaaangg ... Yuta tuh belum libur. wkwkwk. Mohon maaf lahir batin ya, Yaang. Mungkin ada salah Yuta dalam membalas komen kalian agak sedikit anu. Tapi itulah gaya Yuta (tetep merasa benar. hehe). Selamat hari raya, bagi yang sudah merayakannya. Kalo Yuta masih besok. hikz