Need A Bride

Need A Bride
Ch. 39. Seratus Juta


__ADS_3

Bab. 39


Akhirnya keputusan sudah di ambil dengan berbekal dukungan dari kepala sekolah. Tidak ada yang bisa menolaknya, baik pak Rio maupun bu Clara.


"Kalau begitu, kami permisi Pak, Bu," pamit Melani dan Richard.


Kemudian mereka menuju ke kantin, di mana di sana terlihat sangat ramai dan sibuk. Jelas saja untuk mempersiapkan acara besok agar terlaksana dengan sangat lancar.


"Bagaimana? Mereka mau?" tanya Sila yang tampak antusias sekali.


Richard mengangguk.


"Yeeeeyyy!" seru Sila sampai berdiri dari tempatnya. "Apa perlu kita buatkan tiket ya? Untuk yang pingin liat penampilan mereka nanti harus beli tiket dulu? Nggak usah mahal-mahal. Tiga puluh ribuan aja udah pasti laku keras. Ya nggak, Yu?" usul Sila lalu menyenggol lengan Yuan yang tampak sibuk membuat sesuatu dari kertas origami, menoleh dengan tatapan sinis nya.


"Serah lo aja. Tapi gue nggak mau ngurusin. Hidup gue udah nggak setenang dulu," balas Yuan dengan tatapan yang kembali ke kertasnya.


"Ya elah! Kalau itu mah biar di urus Bima. Lagian gue juga ogah kali ribet-ribet banget. Mana Melani juga nyuruh gue ngisi di acara besok. Cari gaun yang sopan deh jadinya kan. Pengeluaran lagi," keluh Sila.


Melani yang mendengar, langsung saja melayangkan pukulan di lengan Sila.

__ADS_1


"Katanya mempersempit anggaran," cibir Melani. "Ya apa salahnya dong kalau lo yang ngisi. Ntar Richard nih yang nyawer. Secara dia kan bos. Ya nggak, Cad?" ucap Melani begitu entengnya. Sementara Richard hanya bisa mendesaah pasrah.


Mendengar kata sawer, tentu saja membuat mata Sila berbinar dan langsung menatap ke arah Richard.


"Beneran, Mas Icad?" tanya Sila yang langsung mendekat ke arah pria itu dan berdiri di sampingnya. "Kalau gue nyanyi, ntar sawer seratus juta, ya?" pinta Sila dengan tatapan genit.


Yuan yang gemas mendengar permintaan Sila yang tidak masuk akal, gadis iru berdiri dan menarik tangan Sila agar menjauh dari Richard.


"Kalau minta itu yang wajar. Harga segitu mah ya lo di bawa pulang ke hotel sama Pangeran Icad," sahut Yuan mendudukkan Sila lagi. Tidak enak jika murid yang lain mendengar candaan Sila barusan, temannya itu akan di anggap sebagai wanita tidak benar.


Sila menutup mulutnya dengan mata melebar.


"Beneran?" tanya Sila memastikan kepada Richard.


"Emangnya gue tampangnya seperti om om yang suka bungkus cabe-cabean ya?" kesal Richard tampak begitu jelas di wajahnya.


Mendengar hal itu Yuan malah tertawa begitu keras.


"Ya jangan salahin gue lah. Salahin itu si Melani," ucap Yuan tanpa meminta maaf terlebih dulu.

__ADS_1


Melani memutar matanya malas.


"Ya udah, gue lanjut periksa yang lain lagi. Jangan lupa kalian beresin itu kerjaan kalian," ujar Melani menatap sinis ke arah Yuan. Namun, tatapan itu tak berarti apa-apa bagi Yuan.


"Kerjaan gue udah selesai. Gue boleh pulang sekarang nggak?" celetuk Yuan secara tiba-tiba.


Melani yang sudah melangkah menjauh dari mereka, sontak saja gadis itu menoleh ke belakang.


"Jangan harap ya! Lo masih punya kerjaan tambahan!" tegas Melani tanpa bisa dibantah sedikit pun.


"Hah? Kerjaan apa sih, Mel? Kan bagian gue udah selesai," protes Yuan.


Ia pikir setelah menyelesaikan pekerjaannya, Yuan bisa pulang cepat hari ini.


"Lo musti ajarin Bu Clara dan Pak Rio dalam beradegan untuk besok malam," ucap Melani. "Lo kan enak teater juga. Gimana sih!" desis Melani kesal.


"What?!"


Mata Yuan melebar seketika. Tidak percaya kalau dirinya yang bakalan mengarahkan mereka.

__ADS_1


"Tenang aja. Lo ntar dibantu Richard. Bisa kan lo, Cad?" tanya Melani pada Richard dan mendapat anggukan.


Bukan. Bukan itu masalahnya! Tapi ia nggak mungkin mengajarkan adegan mesra pada orang yang sudah ahli. Ingin sekali Yuan berteriak seperti itu.


__ADS_2