
Bab. 31
"Aku beneran nangis loh kalau Bapak kayak gini terus!" gertak Yuan sembari memejamkan matanya rapat-rapat. Bahkan tangannya pun gemetar takut.
Rio melihatnya dengan sangat jelas. Lalu pria itu menyentil kening Yuan pelan karena gemas. Kemudian melangkah mundur.
"Udah, buru kemasi barang-barang kamu. Nggak usah semuanya langsung. Berangsur aja. Yang kamu butuhin dulu. Seragam sama keperluan sekolah lainnya wajib di bawa," ucap Rio kemudian mengajak rambut Yuan.
Sedangkan Yuan masih membeku di tempatnya dengan napas lega. Gadis itu bingung, memangnya ia mau diajak ke mana sampai-sampai disuruh berkemas segala macam. Yuan pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Yuan dengan suara gemetar. Karena masih takut dengan tindakan Rio yang sangat mengerikan baginya.
Rio yang sudah duduk di tempatnya kembali dan memangku laptop, menatap ke arah Yuan.
__ADS_1
"Hari ini giliran kita nginep di rumah Mami lagi. Udah ngomel mulu nanyain kapan kita nginep di sana," jawab Rio.
Mata Yuan membeliak seketika. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ini sangatlah jauh dari bayangannya. Bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya.
"Di rumah Mami?" ulang Yuan dan mendapat anggukan dari Rio.
Seketika pikiran Yuan di penuhi oleh banyak prasangka buruk yang mengikutsertakan kata 'mertua'. Banyak sekali dugaan buruk yang bersarang di kepala Yuan. Dari yang disuruh masak, ngepel, cuci-cuci, dan masih banyak lagi. Apa lagi dengan dua adik kembar Rio. Sudah pasti dirinya yang berasal dari keluarga biasa saja ini akan di suruh begini dan begitu. Sudah seperti sinetron yang biasa bi Sri tonton di chanel ikan terbang.
Rio menghela napas di kala melihat raut wajah Yuan yang berubah.
"Se-serius? Nggak kayak di tipi-tipi itu, kan?" tanya Yuan lebih jelasnya lagi.
"Kalau takut, kita langsung pindah ke rumah kita aja. Gimana? Jadi, mau kamu jungkir balik pun juga nggak masalah. Asal tugasmu sebagai seorang istri tetap di jalankan," ujar Rio lagi memberi solusi.
__ADS_1
Memang Rio sudah punya rumah dan apartemen. Namun, ia lebih milih untuk pindah ke rumahnya sendiri jika sudah menikah. Kalau ke apartemen, takutnya teman-temannya masih suka ke sana dan main seenaknya. Tentu saja Rio nggak akan membiarkan mereka melihat istri manisnya ini ketika berada di rumah. Tidak sudi!
"Tu-tugas seorang istri?"
Entah mengapa kini pikiran Yuan tambah berpetualang entah kemana. Yang jelas, tiga kata itu mampu membuatnya merinding sendiri. Terasa horor dalam artian di otaknya.
"Layani suami, siapin baju, makan, dan keperluanku lainnya," jelas Rio lagi sambil menggeleng kepala. 'Dasar, bocil. Pikirannya pasti mengarah ke sana.' lanjutnya di dalam hati.
"Oohh ...." Yuan merasa lega.
Kalau itu, mungkin ia masih bisa melakukannya. Karena terbiasa mandiri selama ini. Meskipun anak tunggal, Yuan sama sekali tidak dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Lebih lagi mereka juga jarang berada di rumah. Sehingga Yuan lebih banyak mengisi kegiatannya dengan membantu bi Sri berkutat Dengan pekerjaan rumah kalau-kalau pulang lebih awal.
"Tapi semisal kamu mau melayaniku dalam hal lain, aku siap juga. Udah banget malah," ucap Rio sembari memainkan alisnya serta tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Nggak!" tolak Yuan. Cepat-cepat gadis itu berlari masuk ke dalam kamarnya. Dari pada berada di sana dan terjebak dengan ucapan suaminya sendiri.
"Ck! Gayanya aja di sekolah dingin banget. Tapi aslinya mesum!" cibir Yuan setelah mengunci kamarnya.