Need A Bride

Need A Bride
Ch. 62. Mbak Bulan?


__ADS_3

Bab. 62


"Mas, penampilanku nggak aneh, kan?" tanya Yuan menghampiri suami nya yang tengah masak di dapur.


Jika biasanya Yuan yang melakukan atau bibi, namun hari ini Yuan ingin makan masakan suaminya yang ternyata sangat lezat. Oleh sebab itu di sinilah Rio berada.


Pria bertubuh kekar yang hanya mengenakan kaos serta celana pendek, juga ada apron yang menempel di tubuh bagian depannya itu menoleh ke arah sang istri.


Betapa terkejutnya Rio melihat penampilan Yuan pagi ini. Sangking terpesonanya, Rio langsung menaruh kembali teflon yang dia pegang barusan dan menaruhnya di atas kompor.


"Kok ketat banget bajunya, Yaang?" protes Rio sembari menghampiri Yuan.


Sesampainya di depan Yuan, Rio memperhatikan penampilan gadis itu yang tengah mengenakan kebaya ketat berwarna peach dengan kain jarik dengan panjang di bawah lutut berwarna coklat tua. Tampak begitu seksi, di tambah bagian pinggul Yuan yang semakin melebar dan berisi.


"Bisa ganti yang lain nggak, Yaang?" tanya Rio begitu khawatir. Hatinya diselimuti perasaan takut juga resah. Takut, kalau-kalau nanti istri kecilnya ini akan menjadi pusat perhatian dengan penampilannya yang seperti ini.


Dahi Yuan mengkerut menatap suaminya yang terus memutar tubuhnya demi melihat penampilannya secara rinci.

__ADS_1


"Ganti gimana, Mas? Bukannya kebaya tuh ya kayak gini ya modelnya?"


Yuan tampak bingung dalan menghadapi suaminya.


"Ya emang seperti ini, Yaang. Tapi ini ketat banget di tubuhmu, Yaang. Aku nggak rela kalau keindahanmu ini juga diliat cowok lain. Apa lagi matanya Pak Yohanes itu. Genit banget kalau ada murid yang bening-bening kayak kamu, kan?"


Entah, ini bentuk nasehat atau curhatan pria yang berjarak sembilan tahun darinya. Apa lagi ketika membicarakan gurunya yang merupakan senior Rio.


Kali ini Yuan harus ekstra lebih sabar lagi dalam menghadapi sikap suaminya yang seperti anak kecil. Seolah apa yang menjadi milik pria itu, tidak boleh disentuh sedikit pun. Bahkan dilihat barang sebentar saja, kalau bisa tidak Rio ijinkan dan akan mencongkel mata siapa saja yang melihat istrinya.


"Ya elah, Maaaasss ... semua nanti juga bakalan makai kebaya kayak gini! Udah, deh! Jangan kebangetan," ujar Yuan. Raut mukanya yang ceria, seketika berubah kesal.


"Mas, aku laper," potong Yuan cepat dengan ekspresi yang dibuat memelas dan seimut mungkin. Mengedipkan matanya beberapa kali, demi meluruhkan suaminya.


Sontak Rio teringat jika nasi gorengnya belum selesai. Pria itu langsung membalikkan badan lalu menuju ke kompor. Beruntung tadi apinya sempat Rio kecilkan sebelum menghampiri Yuan.


"Belum mateng ya, Mas?" tanya Yuan mendekat.

__ADS_1


"Udah kok, Yaang. Tinggal mindahin ke piring aja," jawab Rio sambil mengambil piring dan menuangkan nasi goreng yang dia bagi menjadi dua porsi.


"Kamu duduk aja, Yaang. Ini udah selesai, kok," suruh Rio ketika mendapati tangan kecil Yuan melingkar di perutnya.


Ya. Yuan memeluk Rio dari belakang. Gadis itu menempelkan kepalanya di punggung kekar nan kokoh sang suami.


"Bentar, Mas. Nyaman banget kalau meluk kamu kayak gini," tolak Yuan.


Entah mengapa, memeluk Rio dari belakang seperti ini seolah menjadi hobi barunya. Ia merasa nyaman dan tenang.


"Itu artinya kamu udah cinta banget sama aku, Yaang. Sampai nggak mau jauh-jauh dari aku," sahut Rio begitu percaya diri.


Mendengar hal itu, gegas Yuan memukul punggung Rio sambil berdecak.


"Kalau nggak cinta, mana mungkin aku mau kamu enakin terus, Mas. Sampai aku nggak didatengin Mbak Bulan," balas Yuan sambil terkekeh pelan.


Tiba-tiba saja tubuh Rio menegang. Bukan karena sesuatu miliknya terbangun atau karena sentuhan lembut Yuan. Akan tetapi perkataan Yuan barusan.

__ADS_1


"Mbak Bulan?" tanya Rio lebih jelas sambil melepas tangan Yuan dari perutnya dan memutar tubuh hingga menghadap ke arah Yuan.


Gimana Yaang? lagi tak๐Ÿ™„ mpung Yuta mode kalem๐Ÿ˜Œ


__ADS_2