
Bab. 23
Melani yang berdiri di depan, menatap Yuan dengan penuh geram. Ingin meluapkan amarahnya sekarang, tetapi sayang dengan tenaganya. Ini masih pagi. Belum lagi sebentar mereka akan mengikuti kelas pertama yang diisi oleh guru favorit sekaligus idola siswi yang ada di SMA Dahlia sekarang ini.
"Istirahat nanti, kita rapat lagi." putus Melani. "Beritahu pada yang lain. Kita nggak punya banyak waktu lagi." tegas sang ketua osis.
Yuan langsung berdiri tegap lalu memberi hormat kepada Melani.
"Siap, laksanakan BuMel!" sahut Yuan dengan suara yang nyaring. Sampai-sampai membuat beberapa murid yang berada di sekitarnya menatap sinis ke arah Yuan.
Sedangkan Yuan tidak menghiraukan sedikit pun. Gadis itu memilih duduk di tempatnya. Tubuh dan pikirannya terasa lelah. Tidak mau ditambah dengan hal-hal yang menurutnya sangat tidak penting sama sekali.
Sedangkan Sila yang sedari tadi sudah berada di tempatnya, menatap heran dengan raut muka Yuan. Kalau Melani, gadis itu juga kembali ke tempat duduk nya yang berada di barisan paling depan.
Berbeda dengan Yuan dan Sila. Di mana mereka memilih tempat paling belakang. Karena di barisan itu merupakan tempat yang sangat nyaman. Bisa sambil tidur jika guru yang menjelaskan di depan sana terasa membosankan.
"Ada apa, lo?" tanya Sila menatap penasaran.
__ADS_1
Yuan menoleh, namun tidak berniat menjawab. Gadis itu kemudian menempelkan pipi sebelah kiri ke meja. Mau meratapi nasibnya, tapi juga percuma saja. Hanya bisa jalani apa yang ada di depannya walaupun Yuan tidak yakin.
"Yuan ..." panggil Sila lagi. Karena merasa ada yang aneh dengan sahabatnya ini. "Lo kenapa, sih? Kalau punya masalah, cerita dong! Siapa tau gue nggak bisa bantu." celetuk Sila yang langsung mendapat cebikan dari Yuan.
"Nggak usah sok pingin tau kalo gitu!" sewot Yuan yang justru mendapat kekehan dari Sila.
"Lagi dapat a? Kok ngegas banget diajak ngobrol." Sila masih penasaran dengan Yuan.
Yuan mendesaah berat. "Gue pusing, Sil. Jangan bikin kepala gue makin pusing ama tingkah lo," ucap Yuan dengan suara yang terdengar lesu tak bersemangat sama sekali.
"Ya makanya, gue nanya. Siapa tau kan gue bisa bantu. Walaupun cuma sebagai pendengar doang. Paling nggak, kan perasaan lo lega, gitu," sahut Sila.
"Lo nggak akan paham dengan apa yang gue rasakan sekarang, Sil. Pingin banget pindah dimensi ke pangeran Damian deh rasanya," keluh Yuan yang semakin menempelkan pipinya ke meja kayu itu.
Ketika Sila akan melayangkan protes kepada Yuan, terpaksa gadis itu menelan kalimatnya kembali di kala ada sesosok pria yang masuk ke dalam kelas mereka dengan membawa beberapa lembaran putih.
"Mampus dah kita, Yuan," gumam Sila yang masih bisa didengar oleh Yuan.
__ADS_1
"Kenapa lagi sih, Sil ... udah gur bilang, jangan bikin gue tambah pusing," sahut Yuan yang masih di posisinya. Bahkan gadis itu kini sambil memejamkan matanya. Kurang tidur semalam, dan sekarang matanya terasa begitu berat.
Sementara Sila menggoyangkan punggung Yuan agar segera membenahi cara duduknya. Namun, di abaikan oleh gadis itu.
"Yuan, bangun ... buruan! Sebelum lo disuruh berdiri di bawah tiang bendera," ingat Sila.
Yuan tetap tidak menghiraukan. "Bentaran, Sil. Gue tiba-tiba ngantuk banget."
Sila tidak lagi bersuara. Apa lagi ketika tatapan mata sosok yang ada di depan kelas itu mengarah ke arah mejanya. Bukan bukan, lebih tepatnya orang itu tengah menatap salah satu murid uang justru berniat tidur di jam pelajarannya.
Tatapan yang tampak mengerikan serta bibir yang belum mengeluarkan satu patah kata itu, justru mampu membuat suasana semakin tegang. Di tambah orang itu melangkahkan kakinya menuju ke barisan bangku paling belakang dengan penggaris kayu di tangannya.
"Gila! Bakalan dipatahin deh kayaknya itu jari Yuan.
"Sumpah! Kalo lagi muka dingin begini, tambah keren, anj*r!"
"Gue mau rasain ciuman itu bibir yang nggak pernah tersenyum, bangs*t! Bikin trapeling aja."
__ADS_1
"Ih, serem-serem tapi menggairaahkan. Jadi pingin meluk, deh!"
Begitulah kiranya jeritan batin beberapa siswi yang ada di kelas ketika melihat Rio, sang idola dengan wajah serta tatapannya yang dingin itu.