Need A Bride

Need A Bride
Ch. 37. Kecupan Pagi


__ADS_3

Bab. 37


Jangan kalian pikir di dalam mobil juga tidak terjadi perdebatan di antara mereka. Itu jelas salah. Yuan yang selalu memperdebatkan apa yang dilakukan oleh Rio, sampai-sampai membuat Rio memasang earphone di telinganya demi menghalau suara berisik dari istri kecilnya tersebut. Tentu saja Rio tetap melajukan kemudinya menuju ke sekolah.


"Bap ..."


Yuan terdiam di kala melihat tatapan Rio yang begitu tajam.


"Diam atau aku cium?" ancam Rio seraya menaikkan satu alisnya. Serta melepas earphone yang menempel sempurna di telinganya.


Seketika Yuan terdiam. Tidak berani bersuara meskipun ingin sekali melayangkan protes. Namun, hati kadung kesal tingkat dewa, gadis iru dengan berani menjulurkan tangannya ke arah Rio untuk kemudian mencubit lengan pria itu dengan sangat kuat.


"Awww!" pekik Rio spontan. Menatap ke arah Yuan dengan bibir yang menipis. Menahan rasa geramnya.


"Yuaaann ...!" geram Rio.


Sedangkan Yuan melengos dan menatap ke arah jendela. Melihat kendaraan yang lalu lalang dengan kesibukan pagi yang bahkan hampir menyebabkan kemacetan.


"Kenapa kamu suka sekali melakukan KDRT, sih?" bukan kesal, hanya gemas saja. Ingin Rio membalasnya dengan gigitan di leher gadis di sampingnya tersebut.

__ADS_1


Yuan tidak menyahut. Gadis itu tidak mau berdebat lagi karena akan percuma saja. Yuan mengunci mulutnya hingga mobil yang dikemudikan Rio sampai di kawasan sekolah. Tepatnya berada di pertigaan sebelum sampai di sekolah Dahlia.


"Stop, Mas!" pekik Yuan yang reflek langsung menarik lengan Rio dengan kuat. Sampai-sampai membuat pria itu menghela napas.


"Kenapa lagi? Berhenti di sini?" tanya Rio tahu betul kemauan Yuan. Karena gadis itu tidak ingin ada orang lain tahu mengenai status mereka.


Yuan mengangguk dengan wajah polosnya, sedang tangannya masih memegangi lengan Rio.


"Cium dulu," ujar Rio yang tidak melewatkan kesempatan di depan mata.


Mata Yuan mendelik tidak percaya. Gadis itu pun secara reflek memukul lengan Rio.


"Ya udah, kalau gitu turun aja di tempat parkir," ucapnya begitu santai dan tetap melajukan mobil yang dia kemudikan.


Sepertinya sebelum menghadapi ujian nasional yang mungkin bisa membuat tubuh panas dingin akan hasilnya, ujian Yuan yang sekarang ini juga tidak kalah berat dan juga mampu membuat perutnya mulas seketika.


"Mas ... kumohon ... turunkan aku di sini. Aku masih mau hidup tenang di sekolah. Ya ya?" mohon Yuan dengan cepat memasang ekspresi yang begitu menggemaskan di mata Rio.


Rio gusar melihat Yuan yang seperti ini.

__ADS_1


'Siall! Bukannya bersikap ketus aja, ini malah menggoda. Jadi pingin gigit kan jadinya.' umpat Rio di dalam hati. Bahkan pria itu sampai meraup wajahnya dengan kasar.


"Mas ..." panggil Yuan lagi dengan nada lembut. Tidak seperti sebelumnya. Tidak lupa pula gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali.


'Gue yakin, lo nggak akan bisa menolaknya Om. Untung gue suka belajar dari novel yang gue baca.' gumam Yuan di dalam hati. Merasa kalau apa yang ia lakukan saat ini sangatlah tepat dan benar.


Tidak tahu saja Yuan jika om matengnya yang ada di sampingnya itu berusaha sekuat mungkin menekan rasa pemangsanya yang akhir-akhir ini sering kali bangkit.


Rio langsung membanting setirnya ke kiri dan menepikan mobilnya. Melepas sabuk pengaman dan mengulurkan tangannya ke arah Yuan.


Yuan yang semulanya kaget dan bingung, sedetik kemudian paham dengan maksud Rio. Ia pun meraih tangan suaminya lalu mengecup punggung tangan pria itu.


"Ya sudah, aku berangkat dulu, Ma—mmphh"


Belum selesai Yuan berucap, Rio lebih dulu menarik tengkuk Yuan dan mengecup kuat bibir gadis itu hingga menimbulkan bunyi yang memalukan.


Cup!


"Kecupan selamat pagi," ucap Rio dengan bibir menipis. Sementara tangannya sibuk mengusap bibir Yuan yang basah, sekalian menghapus lip tin yang gadis itu pakai.

__ADS_1


Satu kata untuk om matengnya Yuan. Modus!


__ADS_2