
Bab. 68
Acara wisuda berjalan dengan tenang, aman, dan damai sentosa. Setelah sempat terkena guncangan ombak tadi pagi.
Namun, itu tidak berlangsung lama. Karena badai masih akan menghantam mereka lebih dahsyat lagi.
Bagaimana tidak, di penghujung acara, tiba-tiba saja Rio naik ke atas panggung dan meminta waktu kepada semua yang hadir hari ini. Termasuk kepada wali murid serta pendampingnya.
"Maaf, kalau saya meminta waktu anda sekalian sebentar," ucap Rio sembari membungkukkan badannya sopan.
Melihat suaminya naik ke atas panggung, membuat Yuan merasa resah. Takut jika suaminya itu akan mengatakan hal yang iya-iya.
Kecemasan Yuan ternyata di sadari betul oleh Sila. Gadis itu menyenggol lengan Yuan hingga Yuan menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Sila.
Yuan menggeleng namun dengan raut yang tampak resah.
"Gue takut kalau sampai dia ngomong aneh-aneh," ungkap Yuan kemudian.
Beruntungnya mereka duduk di kursi barisan tengah dan di pinggir. Memang dengan sengaja tadi Yuan meminta tukar dengan temannya. Dan tentu saja Sila dengan setia mengikuti sahabatnya itu. Sedangkan Melani, dia menjadi petugas pembawa acara. So pasti gadis itu berada di samping panggung. Tidak bersama dengan mereka.
__ADS_1
"Aneh gimana?" Sila mengerutkan kening, tidak mengerti.
Sementara Yuan memukul paha Sila karena kesal.
"Ya kalau dia bicara mengenai pernikahan kita, gimana? Malu lah gue!" jelas Yuan mengenai perasaannya.
Sila menatapnya jengah. "Kirain gue apaan. Ya udah sih, biarin aja. Dari pada lo ketahuan hamil duluan, malah berabe kan urusannya. Ntar dikira nyicil kayak gue," ujar Sila begitu santai dan memang ada benarnya.
Namun, ada yang janggal di hati Yuan. Ia tersadar jika sahabatnya yang satu ini tampak begitu tegar menerima sesuatu yang terjadi kepadanya. Sedikit pun tidak memperlihatkan rasa trauma atau tidak terimanya dengan takdir yang dia jalani.
"Sil," panggil Yuan dengan nada lirih serta tatapan sendu.
"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Yuan yang kali ini sungguh khawatir pada Sila. Terutama pada psikis gadis ini.
Sila menoleh cepat dengan tatapan heran.
"Seperti yang lo lihat," Jawabnya. Lalu kembali menatap ke arah panggung.
Sedangkan Rio yang mulanya berbasa basi, kini mulai mengatakan maksud kenapa dirinya meminta waktu sebentar untuk para siswa dan tamu yang hadir agar tidak pulang terlebih dulu.
"Poin yang ingin saya sampaikan ialah saya ingin mengungkapkan fakta. Mungkin bagi sebagian para guru sudah tahu, bahwa saya sudah menikah dengan murid yang kebetulan juga di wisuda hari ini, di tempat ini, dan sekarang gadis itu tengah menatap saya penuh dengan cintanya," ucap Rio yang langsung membuat suasana gaduh dan tercengang.
__ADS_1
Banyak murid yang saling pandang atau mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Siapa kiranya yang menjadi istri dari guru idola mereka. Dan terakhir tatapan mereka mengarah ke arah Yuan secara serempak. Mengingat kejadian pagi tadi yang sudah menyebar ke grup chat sekolah.
"Ya. Perempuan yang saya nikahi bernama Yuanita Adisti. Perempuan yang saya nikahi enam bulan yang lalu, dan perempuan yang mampu mengusik hati saya dari pertemuan pertama kita. Lebih tepatnya dua tahun yang lalu, sebelum saya mengajar di sekolah ini," ungkap Rio yang cukup mengagetkan Yuan.
Pasalnya Yuan tidak tahu menahu mengenai pertemuan pertama mereka. Karena jika itu terjadi dua tahun yang lalu, itu artinya tepat satu tahun dirinya pindah ke kota ini. Tentu saja Yuan belum punya banyak kenalan. Banyak orang asing yang dia temui. Sehingga tidak mengingat siapa-siapa saja mereka.
Mata Yuan berkaca-kaca ketika mendengar cerita Rio mengenai momen pertemuan pertama mereka dan kenapa pria itu bisa jatuh hati kepadanya.
Karena selama ini Yuan pikir, Rio memiliki perasaan terhadap dirinya sebab mereka tinggal bersama. Sama halnya perasaan Yuan yang muncul dengan seiringnya waktu yang dia lalui bersama Rio.
"My wife," panggil Rio sembari berjalan menuju ke arah Yuan hingga pria itu berdiri tepat di hadapan sang istri.
Teriakan histeris dari para siswi dan siswa nyatanya tak mampu memutus tatapan mereka berdua. Mereka saling menatap, memancarkan cinta yang begitu tulus.
Rio meraih tangan Yuan, lalu mengecup mesra punggung tangan mungil tersebut.
"I love you more, My heart," ucap Rio dengan tatapan begitu mesra dan penuh cinta.
Membuat Yuan menutup mulutnya dengan pipi memerah. Tidak menyangka jika suaminya akan bersikap sedemikian romantis di tempat umum dan di momen yang bersejarah kedua baginya. Setelah sejarah dirinya ditarik paksa dari lampu merah dan dinikahi, tanpa adanya obrolan terlebih dulu.
Tolooooongg ... kalau mau mesra-mesraan, jangan di hadapan para jomblo, Pak Riooooo!š
__ADS_1