Need A Bride

Need A Bride
Ch. 48. Permulaan


__ADS_3

Bab. 48


"Nggak apa? Hmm?" tanya Rio semakin menggoda Yuan.


Yuan memalingkan wajahnya di saat Rio semakin mendekatkan wajah mereka. Meskipun sudah mendorong bahu Rio dan menjauh, akan tetapi semua itu percuma Yuan lakukan. Sebab, posisinya masihlah digendong oleh Rio. Sehingga sangat sulit sekali untuk Yuan kabur dan percuma jika saja terus memberontak.


Rio sendiri sebenarnya tidak tega melihat Yuan sedikit ketakutan seperti ini. Akan tetapi, ia pria normal dan sangat menyayangi istri kecilnya ini.


Ada rasa ketakutan tersendiri di dalam diri Rio di kala melihat Yuan ternyata banyak yang menyukainya. Selain dari selisih usia mereka yang terbilang jauh, Rio juga melihat Yuan belum sama sekali tertarik kepada dirinya. Oleh sebab itu, Rio ingin menahklukkan Yuan secepatnya dengan caranya sendiri dan menjadikan gadis yang sekarang ada di gendongannya itu hanya menjadi miliknya seorang.


"Yuan," panggil Rio dengan suara berat. Menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah ranjang berukuran besar di sana.


Yuan yang sedari tadi memalingkan wajahnya, sontak gadis itu menoleh cepat. Menatapnya dengan mulut yang masih terkunci.


Rio juga terdiam sebentar. Hanya mengamati wajah cantik nan imut sang istri. Lalu, kata yang keluar dari mulut Rio benar-benar membuat Yuan bingung hingga mengerutkan keningnya.


"Maaf," ucap Rio dengan suara yang lembut dan tatapannya begitu intens ke arah Yuan.


"Hah? Untuk?" tanya Yuan. Kali ini gadis itu tidak lagi memberontak seperti sebelumnya.


Dengan pelan namun pasti, Rio maju satu langkah dan menumpukan lututnya di atas kasur. Lalu menurunkan Yuan di atas kasur tersebut beserta tubuhnya yang langsung mengunci posisi Yuan dengan menumpukan tangannya di kedua sisi tubuh Yuan.

__ADS_1


"Boleh?" tanya Rio sembari melepas ikatan rambut Yuan dan menariknya ke bawah. Sehingga rambut sebahu milik Yuan tersebut tergerai begitu indah.


Yuan semakin tidak mengerti arah dari pertanyaan Rio.


"Kalau bicara itu yang jelas, Pak. Jangan berbelit kayak main petak umpet," gerutu Yuan dengan kesal.


Cup!


Yuan membeliakkan matanya. Bukan penjelasan yang dia dapat, melainkan kecupan kuat di bibirnya. Bahkan Rio pun mengulangnya hingga tiga kali.


"Sudah kubilang, kalau sudah berada di luar sekolah, manggilnya gimana? Hmm?" Rio mengangkat alisnya, memperingati sang istri tanpa melepas tujuan utamanya.


Dadanya berdebar tidak karuan dengan posisi mereka yang seperti ini.


'Kenapa nggak cepet minggir sih ini orang. Nggak sadar apa badannya berat banget!' kesal Yuan di dalam hati.


Tanpa kata, Rio memajukan wajahnya ke arah leher Yuan yang terbuka, karena gadis itu malah seolah membuka akses untuk Rio. Sehingga dengan mudah om mateng itu bisa leluasa memainkan leher Yuan. Memberi sapuan hingga kecupan serta sesapan kuat di sana. Sampai meninggalkan jejak dirinya tentunya.


Yuan tersentak kaget, ingin menyingkirkan kepala Rio dari sana pun percuma. Karena sekarang justru pria itu mengunci tangannya dan menaruhnya di atas kepalanya sendiri.


"Ma-mas ... ja-jangan seperti i—mmpphh!"

__ADS_1


Lenguhan Yuan terdengar di kala Rio dengan sengaja menyesap permukaan kulit leher Yuan dengan sangat kuat.


Setelah puas di area sana, Rio menjauhkan wajahnya lalu menatap Yuan dengan mata yang sayu.


"Sekarang, ya?" ijin Rio.


Namun, tangannya sudah lebih dulu menelusup di belakang punggung Yuan dan menarik sesuatu di sana ke bawah. Hingga Yuan kini merasakan punggungnya seperti terbuka. Padahal gaun putri yang masih melekat di tubuhnya itu tergolong tertutup.


Tuan yang diberi sentuhan demi sentuhan oleh tangan Rio di tubuhnya, gadis itu memejamkan mata serta mendesis sedikit di saat tangan Rio dengan sengaja mengarah ke depan dark balik gaunnya.


Sebisa mungkin Yuan menjaga kesadarannya dan jangan terkecoh dengan sensasi baru yang diberikan Rio.


"Apanya, Mas? Jangan aneh-aneh ... mmhhh!" sepertinya om matengnya ini sangatlah ahli sekali.


Sedangkan Rio masih terus menggoda Yuan, tanpa berniat untuk berhenti. Pria itu juga dengan sengaja melepas pengait yang ada di belakang tubuh Yuan. Sehingga lebih mempermudah dirinya untuk mengakses bagian depan sang istri, tanpa membukanya lebih jelas.


Cup!


Dengan tangan yang masih bekerja, Rio mengecup bibir Yuan beberapa kali. Lalu menempelkan wajahnya di bahu, menghadap tepat ke arah telinga Yuan.


"Aku mau hakku sekarang juga. Tidak bisa ditawar lagi, Sayang. Mas ingin kamu sekarang, ya?" ucap Rio dengan suara yang lirih dan lembut. Lalu menyapukan lidahnya di telinga Yuan. Membuat gadis itu merasakan sesuatu lebih dari kata geli.

__ADS_1


__ADS_2