
Sedangkan dari barisan penonton, terdengar teriakan dari mereka.
"Gila! Itu kenapa dicium beneran? Mana lama banget!" umpat seorang siswa yang tidak terima Yuan dicium.
"Mau dong dicium sama idola gue!" rengek seorang siswi dengan wajah kecewanya.
"Wiiihhh ... pasti habis ini go publick ini mah hubungan mereka!" teriak salah seorang membuat beberapa orang menatapnya.
"Ngawur aja kalau ngomong. Ya mana mungkin mereka punya hubungan." protes orang itu.
"Gue pernah liat Yuan turun dari mobilnya Pak Rio, wei! Mana pake acara salim terus kecup kening juga. Ya jangan iri dong, Ka!" sahut cowok tadi dengan tawa yang renyah.
Sementara di sisi lain, tampak seorang pria muda yang tengah mengepalkan tangannya di bawah sana dengan mata memanas. Lalu pria itu pergi begitu saja dan menarik seorang gadis yang baru saja selesai berganti baju.
"Eh eh eh, gue mau diajak kemana ini!" pekik gadis itu kaget.
"Ikut gue sekarang juga!" sentak pria itu. Membuat gadis yang ditariknya langsung terdiam dengan tatapan bingung. Gadis itu menurut saja
Sementara itu di atas panggung, tampak Rio yang mulai membuka mata dan menarik diri. Masih terus memerankan adegan dan Yuan berusaha untuk tetap profesional di sini. Meskipun yang terjadi sebenarnya sungguh ingin sekali gadis itu menghajar pria yang sekarang ini berdiri di sampingnya. Di mana mereka memerankan seolah mereka tengah berdiri di depan para tamu undangan di pernikahan mereka.
Belum cukup membuat Yuan terkejut dengan tindakan Rio, pria itu memberinya kejutan yang luar biasa.
'Ini orang sadar nggak sih? Dia bener-bener niat banget cariin gue musuh lebih banyak.' kesal Yuan di dalam hati.
__ADS_1
Sudah membuat dirinya bakalan dibenci atau bahkan bakalan di bully walaupun Yuan sendiri tidak yakin akan hal itu, om matengnya ini masih saja berbuat ulah.
Padahal ini tidak ada di dalan skenario yabg dibuat oleh Sila. Di mana ada pertukaran cincin. Dari pihak panitia saja tidak menyiapkan properti seperti itu.
Rio mendekat, meraih tangan Yuan dengan sangat lembut. Bahkan pria itu berjongkok di bawah Yuan, semakin membuat suasana lebih panas lagi. Panas akibat terbakar cemburu dari orang-orang yang merasakan patah hati berjamaah. Bisa dibilang malam ini mungkin merupakan hari patah hati nasional.
"Terimakasih, Tuan Putri mau menikah denganku. Aku berjanji, akan membahagiakan Tuan Putri dalam keadaan apapun. Tidak akan membiarkan satu bulir air mengalir dari matamu. Teruslah berada di sampingku, dan menua bersama keluarga kecil kita nanti," ucap Rio yang sebenarnya tidak tertulis di dalam naskah.
Melani yang sangat hafal naskah yang dibuat oleh Sila, melototkan matanya.
"Dia sedang improvisasi ya?" gumam Melani yang memperhatikan dari jauh sambil melihat ke naskah yang ada di tangannya saat ini.
Kemudian Rio memasukkan cincin di jari manis Yuan tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Karena Yuan sendiri juga bingung harus menjawab seperti apa.
"Pasangkan ke jariku. Ini cincin nikah kita," bisik Rio menatap penuh arti kepada Yuan.
Yuan tersentak. Seingatnya ia pernah melempar cincin yang dipakaikan Rio ketika mereka menikah. Namun, karena memang itu bukan ukuran Yuan dan bukan miliknya, Yuan melemparnya asal ke atas tempat tidur dan mengatakan nggak akan memakai barang yang bukan miliknya.
Sekali lagi Yuan memperhatikan cincin yang ada di jari manisnya. Bentuknya berbeda. Gadis itu mendongak, menatap Rio dengan mulut yang terbuka sedikit.
Rio memberi anggukan serta kedipan. Meyakinkan Yuan sekaligus mendesak gadis itu agar segera menyematkan cincin tersebut ke jarinya.
"Perlu ku bantu?" tawar Rio.
__ADS_1
Yuan menggeleng. Kemudian gadis itu menyematkan cincin ke jari manis Rio. Sorak sorai dan tepuk tangan, terdengar begitu keras. Di tambah lagi ketika Rio yang tiba-tiba saja menarik Yuan hingga menabrak tubuhnya. Lalu pria itu membungkuk serta mendekatkan wajahnya ke arah Yuan.
Cup!
"Terimakasih sudah mau jadi istriku," ucap Rio lirih dengan tatapan begitu dalam.
Yuan hanya diam saja. Masih berusaha untuk mencerna semua ini.
"Gila! Pam Rio curang banget! ambil kesempatan dari tadi!" protes beberapa penonton.
"Dia mah udah kecanduan ama bibirnya Yuan. Haha!" sahut yang lain.
Para pemain pun membungkukkan badan mereka dan berucap terimakasih atas antusias penonton hingga akhir.
Yuan segera berjalan belakang pentas dengan langkah tergesa. Dia ingin kabur sekarang juga. Kalau boleh, akan menginap di rumahnya Melani saja. Namun, ada sebuah tangan yang menariknya dan membawanya ke tempat parkir khusus guru.
"Kita mau kemana, Pak?" tanya Yuan ketika sadar yang menarik dirinya jalan suaminya sendiri.
"Hotel."
"What!?" pekik Yuan melengking.
Udah, Yuta libur sampe lebaran ke-3. wkwkwk kabooorrr
__ADS_1