
Bab. 54
Sementara Rio tidak langsung menjawab, pria itu justru semakin mendekatkan dirinya ke arah Yuan.
Cup
Cup
Cup
Beberapa kali ia memberikan kecupan di wajah Yuan. Sampai-sampai gadis itu mengerjap dan mendorong bahu Rio. Namun, percuma saja. Terlebih lagi pria itu malah justru semakin menindih Yuan dengan kepala yang Rio sandarkan tepat di sebelah Yuan.
"Melayaniku di ranjang, memuaaskan hasraatku, dan melahirkan anak-anakku," bisik Rio dengan kata-kata yang sangat vulgar sekali.
Sontak Yuan memukul punggung pria itu secara refleks. Suaminya yang berkata, namun dirinya yang sangat malu saat ini.
"Dasar, om mesum!" pekik Yuan.
__ADS_1
Bukannya merasa tersinggung, Rio justru terkekeh melihat ekspresi Yuan yang malu. Padahal dirinya tidak melakukan sesuatu selain mengucapkan kata yang memang sangat vulgar.
"Sama istri mah nggak apa-apa, Yaang," balas Rio sembari memainkan alisnya.
Sedangkan Yuan yang sangat malu dengan perkataan suaminya pun memalingkan wajahnya ke samping. Pipinya terasa panas.
Gadis itu mengatur napasnya yang sesak. Selain akibat ditindih oleh Rio, juga karena perkataan yang ... ah, Yuan belum terbiasa mendengarnya.
"Tapi aku nggak cinta sama kamu, Mas," ujar Yuan dengan sengaja di sela keheningan yang terjadi di antara mereka.
Bukan tanpa alasan Yuan mengatakan hal tersebut. Ia hanya ingin melihat reaksi Rio seperti apa. Hingga ia nanti bisa memutuskan harus bagaimana ke depannya.
Diamnya Rio serta jarak sikap Rio yang langsung beranjak dari tubuhnya, membuat Yuan menoleh ke samping. Ia melihat suaminya itu menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Perasaan bersalah pun menyerang Yuan. Gadis itu merasa sudah keterlaluan dalam berbicara dan tanpa memikirkan perasaan Rio.
Namun, rasa bersalah itu hanya berlangsung sebentar, sebelum suaminya membuka suara.
Yuan yang sedari tadi menatapi wajah Rio, sontak gadis itu memalingkan wajahnya di kala Rio menoleh ke arahnya. Bahkan kini tubuh pria kekar itu menghadap ke arah Yuan. Membuat Yuan semakin tidak bisa bergerak, di kala lengan kekarnya juga melingkar di tubuh Yuan yang cenderung jauh lebih kecil darinya.
__ADS_1
"Untuk melakukan itu kita nggak butuh cinta, Yaang," ucap Rio cukup mengejutkan Yuan. Mata gadis itu sampai melebar, tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Jadi ... kamu lakuin ini ke aku apa, Mas?" tanya Yuan dengan mata mulai berkaca. Namun, dengan cepat Yuan mengusirnya.
Rio bisa menangkap perubahan raut wajah Yuan. Ia pun tertawa di dalam hati.
'Dasar, bocil. Dia yang mancing, tapi giliran ditanggepin udah mau nangis aja. Jadi pingin gigit, kan.' batin Rio namun sekuat mungkin menahan diri.
"Hak aku," jawab Rio.
Pria itu juga ingin melihat tanggapan Yuan seperti apa. Rio ingin Yuan melihat dirinya sebagai seorang pria yang sangat mencintainya. Bukan hanya sebagai seorang suami yang harus dipatuhi dan di taati saja. Intinya Rio ingin mendapat pengakuan yang sangat jelas dari Yuan mengenai posisinya di dalam hati gadis itu.
Meski sedikit sakit mendengarnya, dsn juga tidak ada yang salah dari jawaban Rio, sekuat mungkin Yuan untuk tidak terlalu terbawa perasaan. Walau nyatanya rasanya memang sakit dan tidak terima Rio menjawab seperti itu.
Rio membenarkan posisinya, menarik dagu Yuan agar menatap ke arahnya. Membuat gadis itu beberapa kali mengerjap gelisah. Antara menurut atau terpaksa.
"Kamu sendiri gimana, Yaang? Kenapa mau aku enakin malam itu? Hmm? Kenapa nggak ngelawan?" tanya Rio dengan tatapan begitu intens. Mengunci tatapan Yuan yang tengah menatap dirinya. Tidak memberi kesempatan gadis itu menatap ke arah yang lain.
__ADS_1
Alhamdulillah ... terimakasih atas doa kalian kemarin itu. tangan Yuta udah mendingan setelah ditempeli beberapa lembar koyo'. sekarang Yuta penuhi janji ke kalian, juga kalo sempat akan up si Al juga. Makasih atas dukungan kalian. cayang banyak banyak udah😘