Need A Bride

Need A Bride
Ch. 71. Berharap Tidak Ingat


__ADS_3

Bab. 71


Dari pada berbicara malah salah, Zacky memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat dan mengemudikan mobilnya dengan benar.


Selang beberapa menit, mobil yang dikemudikan oleh Zacky memasuki kawasan sekolah. Di mana suasana sekolah tampak begitu ramai.


Ketika mereka akan turun, tanpa sengaja Zacky melihat ada beberapa orang yang berjalan keluar.


"Loh, Mi. Udah selesai mungkin ini acaranya," ujar Zacky sembari mengambil ponselnya dari dalam saku celana.


"Masa sih, Zack. Perasaan seingat Mami acaranya tuh jam sepuluh, deh," sahut mami Dilla. "Coba hubungi Mas Rio dulu, Zack. Tanyain, masih ada di sekolah apa enggak," suruh mami Dilla kemudian.


Zacky pun melakukan apa yang diperintahkan oleh mami nya. Hingga pada panggilan yang kedua, mendapat respon.


"Mas, udah pulang apa belum? Ini gue sama Mami dan Papi ada di depan. Tapi kok udah ada yang pulang?" tanya Zacky pada kakaknya di seberang telepon sana.


"Oh, oke. Kalau gitu langsung masuk aja, ya?" ujarnya lagi ketika mendapat sahutan dari kakaknya.


Kemudian Zacky mematikan sambungan telepon mereka. Lalu mengajak kedua orang tuanya untuk masuk dan menuju ke tempat yang sudah dikatakan oleh Rio barusan.


"Langsung aja katanya, Mi," ujar Zacky.

__ADS_1


***


"Kamu hamil?" ulang Rio kembali. Karena dia masih belum percaya dengan apa yang barusan dia ketahui.


"Mas ... jangan dicecar kayak gitu," ingat Yuan sembari menatap ke sekitar mereka. Banyak murid serta wali murid yang ada di sana. Juga para guru yang berbaur dengan para wali murid.


Rio tersadar, lalu pria itu terlihat tengah menarik napas panjang. Juga memijat pelipisnya. Entah mengapa ia merasa ikut pusing juga.


"Dengan siapa? Kekasih kamu?" kali ini Rio akan berperan sebagai guru mereka. Jika gadis di depan istrinya itu tidak mendapat keadilan, maka dirinya yang akan maju. Membantunya mendapatkan apa yang harus Sila dapatkan.


Namun, rencananya itu pupus di saat mendapat celengan kepala dari Sila juga sentuhan lembut sang istri yang berada di atas tangan Rio.


Sedangkan Melani mengusap lengan Sila di kala melihat sahabatnya itu seperti tengah menahan sesuatu. Selama ini sikap Sila memang tampak lebih menyebalkan dan selalu ceria. Namun siapa sangka di balik semua itu dia menyimpan banyak hal yang tidak diketahui banyak orang. Bahkan sahabatnya sendiri pun tidak dikasih tahu.


Rio frustasi mendengarnya.


"Lalu siapa? Kamu mengikuti trend jaman sekarang?"


Bingung bagaimana lagi mengatasi permasalahan Sila. Bahkan selera makannya pun hilang begitu saja.


"Enggak, Pak!" jawab Sila cepat dengan nada tinggi. Bahkan gadis itu sampai berdiri dari tempatnya serta melambaikan tangannya ke arah Rio. Tidak terima jika ia dituduh mengikuti alur jaman anak muda sekarang ini. Meskipun ia juga merupakan generasi genZ yang penuh akan kontroversi.

__ADS_1


Yuan merasa kasihan melihat sahabatnya terlihat tersudutkan oleh pertanyaan suaminya.


"Mas, meskipun Sila seorang penyanyi cafe, tapi dia gadis yang bersih. Sama sekali nggak terjerumus ke dalam pergaulan seperti yang ada di pikiranmu saat ini. Aku kenal betul Sila seperti apa. Dia hanya mendapat perlakuan yang sedikit ...."


Yuan tidak melanjutkan perkataannya. Gadis itu menatap ke arah Sila. Seolah tengah meminta persetujuan sahabatnya untuk bercerita yang sebenarnya. Sila yang paham pun mengangguk.


"Dia diperk0sa, Mas," ungkap Yuan membuat Rio tersentak kaget. Mata pria itu melebar. Rahangnya pun tampak mengeras, membuat Sila dan Melani yang berada satu meja dengan pria itu pun saling berpegang tangan. Takut kalau-kalau mantan guru mereka ini akan murka jika dilihat dari rautnya yang mengerikan.


"Sebutkan ciri-cirinya, biar saya beri pelajaran orang itu!" ujar Rio dengan nada tertahan.


Sedangkan di arah lain, tampak mami Dilla dan papi Kendra juga Zacky datang mendekat ke meja mereka.


"Mas!"


"Sayang!"


Panggil Zacky dan mami Dilla secara bersamaan. Sontak membuat tiga orang itu menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi pesona Zacky yang tidak kalah dari Rio.


Sementara tubuh Sila membeku melihat sosok om setengah mateng yang sudah membuatnya berbadan dua seperti ini.


'Jangan ingat jangan ingat.' itulah kalimat yang dirapalkan oleh Sila di dalam hati. Dia pun merubah duduknya serta menundukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2