
Bab. 51
"Lo kenapa sih, Yu? Dari tadi gue perhatiin kok lemes banget? Itu mulut juga keknya udah nggak fungsi deh!" melihat perubahan Yuan yang tidak seperti biasanya, tentu saja Sila merasa aneh. Di tambah lagi dengan diamnya Yuan yang sangat langka.
Sedangkan Yuan yang lebih banyak mengunci mulutnya, eh, bukan. Lebih tepatnya Yuan menghemat tenaga agar bisa mengikuti kelas berikutnya, di banding berbicara tanpa ada manfaatnya. Yang ada malah membuang tenaga. Untuk saat ini sih.
"Iya. Lo beda banget, Yu. Udah tobat?" kali ini Melani yang menimpali.
Yuan masih tidak merespon. Gadis itu lebih memilih bersandar di kursi yang dia tempati sekarang ini sambil menatap ke arah luar. Bahkan, jika biasanya dia dan temannya yang lain pergi ke kantin atau perpustakaan, tetapi sekarang ini Yuan memilih tetap di dalam kelas. Wajah gadis itu juga tampak begitu lelah.
"Lo habis ngapain sih, Yu? Kesambet? Atau emang lagi capek banget?" desak Sila yang tidak terbiasa melihat Yuan seperti ini. Benar-benar bukan seperti Yuan yang dia kenal selama ini.
"Kalian itu berisik banget, sih! Nggak tau orang lagi capek, apa!" kesal Yuan menatap sinis ke arah dua temannya secara bergantian.
__ADS_1
"Enggak!" jawab Melani dan Sila berbarengan.
Jawaban kedua temannya itu semakin membuat Yuan kesal saja.
"Ih! Kalian itu emang nggak peka banget!" omelnya yang kemudian memukul bahu Sila. Karena gadis itu yang berada di dekatnya. Sontak membuat Sila menjerit, seperti tengah menahan sakit.
"Argh!" Sila mengerutkan kening dengan mata yang terpejam. Tangannya refleks mengusap lembut bahunya.
"Nggak usah lebay deh, lo! Orang gue mukulnya nggak keras, kok!" cibir Yuan melihat reaksi Sila yang berlebihan menurutnya.
"Lo baik-baik aja, kan?" tanya Melani dengan wajah seriusnya.
Secara refleks tangannya menaikkan lengan seragam yang Sila pakai. Karena seragam mereka berlengan pendek, sehingga Melani dengan mudah menyingkapnya dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi pada Sila.
__ADS_1
Bukan hanya Melani saja, Yuan pun tersentak kaget di kala melihat apa yang ada di hadapan mereka saat ini. Terutama pada kondisi bahu Sila. Beruntung, keadaan kelas sedikit sepi. Sehingga tidak terjadi kehebohan yang sangat berarti mengenai keterkejutan Melani dan Yuan.
"Lo kenapa, Sil?" tanya Melani yang kini berubah khawatir serta takut. Takut kika sahabat mereka yang satu ini mendapat perlakuan yang buruk dari keluarganya.
Sila meringis menahan sakit ketika kedua temannya itu menyingkap lengannya ke atas. Gadis itu berusaha untuk menutupinya, namun, semua terlambat di saat tangan Yuan lebih cepat lagi menyingkap bagian bajunya yang lain.
Karena sangat penasaran, Yuan dengan emosi yang tertahan serta berbagai praduga yang mulai memenuhi kepalanya, gadis itu membuka kancing baju Sila dan menariknya ke bawah di bagian bahu yang dia pukul tadi.
Rupanya, bukan hanya di bahu saja tanda memar itu ada. Melainkan di leher bagian dalam juga terdapat tanda seperti itu.
Tidak puas dengan penemuannya, Yuan kembali menemukan sesuatu yang mengejutkan setelah menggosok leher Sila dengan jemarinya dan terlihat bekas memerah yang lain. Yuan kembali membuka baju Sila semakin ke bawah hingga memperlihatkan dada bagian atas. Di sana terdapat tanda yang lebih banyak. Bahkan hampir memerah semua. Warna kulit alaminya saja seolah tidak diberi ruang di wilayah tersebut.
"Siapa yang lakuin ini semua ke lo?" tanya Yuan dengan nada tegas dan penuh penekanan, serta tatapan begitu tajam.
__ADS_1
Melani yang tidak mengerti apa yang sedang kedua sahabatnya itu bahas, hanya menatap prihatin ke arah Sila. Karena gadis itu beranggapan jika Sila mendapat kekerasan fisik dari keluarganya hingga meninggalkan bekas seperti itu.
Maaf, Yuta belum bisa up banyak² Ayang. tanga Yuta sebelah kanan sakit, dari siku sampe ujung jempol😭. Jadi ngetiknya belum bisa gila lagi🙏🏻