
Sudah hampir tiga bulan Suwandi pergi meninggalkan istri tercintanya. Kerinduannya yang besar terhadap istrinya memaksa dia mengambil cuti untuk beberapa hari dari jabatan CEO di perusahaannya. Dan kesibukan dia yang padat di jakarta membuatnya hanya bisa pulang menjenguk istrinya dalam lima hari saja.
Sore itu setelah turun dari pesawat jet pribadinya, Suwandi langsung menuju lobby bandara sambil mendorong kopernya sendiri. Pengawal yang bersamanya terlihat ikut mengantar dirinya sampai lobby bandara.
Senyum sebastian langsung mengembang mengembang ketika melihat sosok laki laki yang sudah lama selalu dia tunggu kedatangannya, sedang berjalan santai menghampirinya. Sebastian adalah orang kepercayaan Suwandi di desa. Dia bertugas menjaga keselamatan keluarganya di desa. Selama ada dia, tidak ada orang yang berani mengganggu keluarga Suwandi.
"Kau kelihatan bahagia sekali sebastian", ujar Suwandi sambil menyerahkan sebuah koper kepadanya.
"Dan anda juga terlihat semakin menawan tuan" balas sebastian sambil tersenyum.
Setelah di dalam mobil, sebastian yang duduk dibelakang setir mobil, memulai pembicaraan.
"Bagaimana pekerjaan anda disana tuan?"
"Syukurlah sampai saat ini semua masih berjalan lancar. Bagaimana kabar cintya?" tanya suwandi.
"Nyonya setiap hari selalu menghabiskan waktu di perkebunan tuan. Bahkan ketika saya berusaha mencegahnya pergi, dia malah memarahiku, dia melakukan ini untuk mengalihkan rasa rindunya kepada tuan. Nyonya juga bilang kalau saya melarangnya bekerja, bisa bisa dia gila karena memikirkan tuan terus. Nyonya berkata lagi bahwa bayangan tuan selalu ada menghantui kepalanya. Bahkan tadi pagi ketika saya mengabarkan tuan akan datang kesini, nyonya langsung memerintahkan pelayan untuk berbelanja banyak bahan makanan. Nyonya ingin sekali memasak banyak makanan enak untuk anda tuan dan nyonya...." penjelasan sebastian langsung dipotong oleh suwandi yang wajahnya sudah merona merah
"Cukup sebastian...jangan kau teruskan...kau bisa membuat jantungku terasa sesak. Haaah cintya...maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama" keluh suwandi.
kemudian perjalanan mereka tiba tiba terhambat karena ada pohon tumbang tepat di tengah jalan. Beberapa orang sedang berusaha menyingkirkan pohon tersebut. Sebastian yang melihat itu pun turut membantu agar jalanan cepat bisa dibersihkan sehingga dapat segera dilewati.
Di tempat lain dalam sebuah bangunan tua yang terletak di perkebunan yang luas terlihat seorang wanita masih paruh baya masih sibuk dengan pembukuan perkebunan. Dia adalah cintya. Semenjak kepergian suami dan anaknya karin ke jakarta, cintya mengambil inisiatif untuk mengelola sendiri perkebunan milik suaminya. Sore ini sudah banyak karyawan yang pamit pulang. Tinggal dua orang karyawan bagian gudang saja yang masih ada di situ dan dua orang satpam shift malam yang sedang keliling mengawasi perkebunan.
"Bunda...ayo pulang...aku sudah lapar..." pinta lian kepada bundanya.
Di rumah Cintya memang lebih suka memasak makanannya sendiri. Pembantu yang jumlahnya terbatas itu hanya dia suruh untuk membersihkan rumahnya yang lumayan sangat besar. Bahkan dia juga mengajarkan putranya tentang menjaga sendiri kebersihan kamarnya. Bagi dia kamar adalah tempat privasi seseorang, jadi harus orang itu sendiri yang membersihkan kamarnya.
"Sebentar sayang...bunda bereskan dulu laporan laporan ini" jawab cintya.
kemudian lian berjalan menuju sofa lalu duduk menunggu bundanya di sofa. Tak lama kemudian cintya berjalan menghampiri putranya. Semenjak cintya mengurus sendiri perkebunannya, lian selalu setia mengantar jemput bundanya dengan motor yamaha jupitrex MX yang kadang selalu cintya pakai untuk ke belanja ke pasar. malah kadang kadang cintya sendiri yang membonceng lian mengingat putranya masih belum cukup umur untuk membawa motor. Lian sendiri juga ingat pesan kakaknya karin untuk selalu menjaga bundanya.
__ADS_1
"Bunda sudah selesai...ayo kita pulang sekarang" ajak bundanya.
"Bunda...aku aja ya yang bonceng ya..."pinta lian
"Iya baiklah...tapi hati hati ya...lubang di jalan depan semakin besar" nasehat cintya kepada putranya.
"Bunda tenang aja, lian ini masih kuat bonceng bunda kok" jawab lian.
"Ya sudah kamu tunggu di depan...bunda mau ambil kunci gudang dulu" ujar cintya lalu dia berjalan pergi menuju dua orang karyawan yang sudah menunggu di depan gudang. Setelah mengambil kunci dia bergegas menuju putranya yang sudah menunggunya diatas motor.
Ketika motor belok di persimpangan jalan tiba tiba lian menghentikan motornya. Lian dan cintya terkejut karena sudah berdiri tujuh orang preman di depan mereka beserta seorang pimpinannya bernama joni. Joni adalah preman kampung sebelah yang terkenal suka berbuat nekad dan dia berniat menculik cintya karena dia sangat mengagumi kecantikan wajah cintya dan keindahan tubuh cintya yang masih terlihat seperti orang baru berumur dua puluhan padahal cintya sudah berumur tiga puluh tujuh tahun.
"Apa mau kalian! Jangan ganggu kami!" bentak lian kepada preman preman itu.
"Aku tidak akan menggangumu anak kecil, kau cukup membiarkan aku membawa pergi ibumu yang cantik itu" ujar joni sambil tiada hentinya memandang cintya dari atas sampai bawah dengan pandangan liciknya.
"Jangan sakiti anakku!"ujar cintya tegas.
"Tidak lian...mereka terlalu banyak, lagipula bunda yang mereka incar, kau pergilah mencari bantuan"bisik cintya.
"Aku tak mau bunda! aku tak akan biarkan mereka membawa bunda pergi!!" ujar lian dengan lantang.
"Apa kalian sudah selesai berdebat....bawa wanita itu kesini!! dan kau!!...bereskan putranya yang sok pahlawan itu!" perintah joni kepada bawahannya.
lian yang tidak rela ibunya dibawa berusaha melawan sekuat tenaganya.Tapi karena preman itu terlalu banyak, akhirnya dia tetap kalah bahkan dia berkali kali juga menerima bogem mentah dari para preman itu hingga membuat tubuhnya jatuh tersungkur beberapa kali.
Pertama kali melihat putranya jatuh tersungkur, cintya spontan berteriak histeris memanggil anaknya. Dan ketika dia hendak mendekati putranya dia langsung ditarik joni dan dibawa pergi masuk ke dalam mobilnya. Cintya yang sudah berusaha meronta sekuat tenaga tetap tak bisa melawan kekarnya cengkraman tangan joni.
"Jangan gila joni!! aku sudah punya suami!! Dan jangan kau sakiti anakku!! teriak cintya sambil tetap meronta.
"Diam!! Simpan tenagamu untukku!!."tegas joni sambil tersenyum menyeringai kepada cintya. Tapi cintya terus meronta dengan memanggil manggil lian hingga dia masuk ke mobil. Setelah di dalam mobil joni cintya memohon kepada joni.
__ADS_1
"Kumohon....jangan bunuh putraku...dia putraku satu satunya. Kasihanilah dia..."ucap cintya sambil bergetar mengatupkan kedua tangannya di hadapan joni. cintya duduk persis di bangku belakang tepat disamping joni.
Joni yang melihat cintya tak henti hentinya menangis sambil memohon lalu memanggil seorang anak buahnya lantas berbisik kepadanya.
Kemudian joni memerintahkan sopirnya untuk pergi sambil tetap memegangi cintya yang berkali kali berusaha keluar dari mobilnya.
Di tempat lain, anak buah joni membawa pergi lian lalu menyekapnya di sebuah gudang tua yang terletak di tengah hutan.
Anak buah joni langsung melempar kasar lian ke dalam sebuah kamar gelap lalu menutup rapat pintu tersebut. Lian yang merasa kesakitan di sekujur tubuhnya karena lebam kesulitan untuk membangkitkan tubuhnya sendiri. akhirnya dia memutuskan untuk menelentangkan tubuhnya terlebih dahulu sambil memikirkan langkah selanjutnya. Tiba tiba dia teringat pada ponsel disakunya dan perkataan bundanya kalau hari ini ayahnya akan pulang. Tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi ayahnya.
Di dalam mobil tiba tiba ponsel suwandi berbunyi dan dia merasa heran karena sebelumnya putranya itu tidak pernah menelponnya.
"Ada apa lian..."tanya suwandi
"Ayah...tolong aku dan bunda"jawab lirih lian
Mendengar perkataan lian tadi wajah suwandi langsung berubah tajam.
"Ada apa dengan kalian cepat katakan kepada ayah" tanya suwandi.
"Apa ayah tahu preman kampung sebelah yang bernama joni. Orang itu sudah menculik bunda lalu menyekapku di sebuah bangunan tua. Aku tidak tahu persis dimana lokasinya tapi sekilas tadi aku melihat hanya ada kegelapan dan pepohonan. aku juga belum tahu bagaimana nasib bunda sekarang. Ayah aku mohon secepatnya tolong kirim bantuan kesini. aku takut preman itu akan berniat buruk kepada bunda" jelas lian dengan sedikit berbisik supaya penjaga di depan kamarnya tidak mendengar pembicaraannya.
"Berikan sinyal lokasimu padaku, aku akan segera datang menyelamatkan kalian" ujar suwandi dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh. Kemudian dia keluar memanggil sebastian lalu mengajaknya pergi ke lokasi yang sudah diberikan lian padanya.
Sementara itu cintya yang ketakutan, hanya bisa duduk diatas ranjang sambil memeluk rapat kedua kakinya. Dia dikunci oleh joni dalam sebuah kamar khusus di dalam bangunan tua itu yang terletak di tengah hutan.
Cintya yang sangat ketakutan tiba tiba teringat pesan dari suaminya, kalau dia pergi sendiri dia harus selalu memakai kalung liontin khusus yang dia berikan padanya. Kebetulan saat itu dia sedang memakainya. lalu dia juga teringat pesan suaminya untuk segera menekan dengan kuat sebuah permata besar yang terdapat di liontin tersebut. Setelah itu dia tinggal menunggu bantuan datang. Dan benar saja, ketika cintya menekan permata itu langsung terdengar bunyi
klik...beb...beb...
Tanda Sinyal khusus bahaya itu telah terkirim
__ADS_1