
Cintya yang masih ketakutan di atas ranjang di dalam kamar itu, masih terus menekan kuat batu permata yang ada di kalung liontinnya. Dalam hati dia sangat berharap bantuan bisa datang secepatnya.
Sebastian yang sedang fokus memutar mobilnya tiba tiba melihat ponselnya berkedip tanda sinyal bahaya telah sampai masuk kedalam ponsel. Segera dia membuka petunjuk lokasi bahaya tersebut lalu mengikuti petunjuk arahnya.
Dalam perjalanan suwandi yang sudah tidak sabar berkali berkali merubah posisi duduknya sambil sesekali memandang jam tangannya.
"Sebastian...apa mobil ini tidak bisa lebih cepat lagi?"
"Maaf tuan...mobil ini bukan seperti mobil anda di jakarta" jawab sebastian sambil tetap fokus menyetir.
"Kenapa rasanya semua berjalan lambat, aku bahkan sudah membayangkan wajah ketakutannya cintya" ujar suwandi yang tidak bisa tenang.
"Tuan tenanglah dulu...mereka hanya preman kampung biasa. Mereka bukan penjahat yang biasa kita hadapi dulu" ujar sebastian.
"Seenaknya saja kau menyuruhku tenang, memangnya kau yakin kau bisa menghadapi mereka semua hah...perutmu saja sudah kelihatan lebih buncit dari perutku. Apa selama ini kau tak pernah melatih jurusmu sebastian?" ujar suwandi yang mengomel terus sepanjang jalan.
"Aku selalu berlatih tuan...hanya saja...aku belum bertemu lawan yang sebanding" jawab sebastian santai.
Sedangkan reno yang baru keluar dari ruang rapat bersama dewi sekretaris suwandi, langsung berjalan masuk menuju ruang kerjanya. Setelah duduk di kursi kerjanya, dia lantas meraih ponsel yang tadi tertinggal di atas mejanya. Matanya langsung berubah merah setelah mendapat sinyal dan pesan dari ponselnya. Bergegas dia menghubungi anak buahnya yang masih ada di desa.
Setelah itu dia menghubungi tuannya.
"Tuan...apa anda baik baik saja?"tanya reno yang cemas.
"Ya...Aku sedang mengejar seorang preman yang sudah berani menculik istriku. Tanda itu Bukan aku yang mengirim sinyal bahaya itu, tapi itu pasti istriku. Sepertinya aku sudah sampai di lokasi, nanti aku hubungi lagi" ujar suwandi.
"Baik tuan, saya sudah memerintahkan orang untuk membantu tuan" sahut reno dengan cepat.
"Kau tenang saja reno, mereka hanya preman kecil yang tidak ada artinya bagiku" ujar suwandi lalu dia menutup telponnya.
Sementara itu lian yang merasa tenaganya sedikit demi sedikit mulai kembali, lalu mulai bangkit dan berdiri. Dia berusaha berpikir keras bagaimana caranya dia bisa kabur dan pergi menyelamatkan bundanya. Lian mengintip setidaknya ada empat orang yang sedang bermain kartu di depan kamarnya. dia lalu mengintip di balik pintu jendela dan mengetahui ada dua orang yang sedang mondar mandir di luar bangunan untuk memastikan kondisi tetap aman. Dia juga melihat Joni sedang berbicara dengan salah seorang anak buahnya.
Dia lantas duduk sejenak bersandar pada dinding kamar sambil memikirkan cara yang tepat untuk kabur.
Kabur lewat pintu bukanlah hal yang tepat mengingat ada empat orang penjaga yang harus dia hadapi nantinya. Akhirnya dia memilih kabur lewat jendela tapi sebelumnya dia harus memastikan dua penjaga itu tidak melihatnya kabur.
Setelah memastikan kondisi benar benar aman, lian pun segera melompat keluar jendela lalu menutup kembali daun jendela itu. Dia lantas berjalan dengan hati hati mengelilingi bangunan tua itu untuk mencari keberadaan bundanya.
__ADS_1
Dengan hati hati dia mengintip setiap kaca jendela yang ada di sekitar bangunan tua itu dan akhirnya dia menemukan kamar tempat bundanya disekap. Sayang jendela kamar itu dipasang teralis, kalau tidak lian mungkin sudah membawa kabur bundanya. Kemudian dia berpikir tidak ada jalan lain untuk masuk ke dalam kamar itu selain pintu utama.
Lalu dia memutuskan untuk pergi melangkah tidak jauh untuk mencari tempat yang sedikit aman. Dia lantas mengirim pesan kepada ayahnya, bahwa bundanya sedang disekap di sebuah kamar dan sekarang bundanya sedang sangat ketakutan. Dia juga melaporkan jumlah orang yang ada dalam bangunan tua itu kepada ayahnya. Dalam hatinya dia sangat mengutuk tindakan joni yang sudah sangat kelewatan.
Kau tidak tahu joni kau sedang berurusan dengan siapa...kau salah sudah berani menyimpan perasaan kepada bundaku dan kau juga sudah berani berbuat senekad ini kepada bundaku. Kau bahkan belum tentu sanggup melawan singa yang sebentar lagi akan menerkam habis dirimu. kau tunggu saja nasib malangmu itu joni. batin lian
Mobil suwandi berhenti agak jauh dari bangunan tua itu. Keadaan yang hampir gelap membuat mereka berdua leluasa untuk mengintai.
"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Suwandi.
"Berdasarkan petunjuk sepertinya memang iya tuan" jawab sebastian.
"Ayo turun sebastian, jumlah mereka hanya sedikit. Bahkan kau sendiri saja sanggup mengusir lalat lalat itu" ujar suwandi lalu dia langsung membuka pintu mobilnya.
"Akhirnya setelah sekian lama...sepertinya aku akan sangat kenyang hari ini" gumam sebastian sendiri dengan hati gembira seperti anak kecil yang mendapatkan permen loli.
Suwandi lalu terlihat menghubungi seseorang dari ponselnya sambil menyembunyikan pistol dari balik jasnya. sedangkan sebastian berjalan mendekat sambil menyiapkan pistolnya lalu mengembunyikannya juga dibalik jaketnya.
Tampak ponsel lian bergetar dan lian terlihat langsung tersenyum tipis.
"kau ada dimana anak bodoh...menjaga ibumu saja kau tak sanggup. Dasar anak tak berguna..." umpat suwandi kepada anaknya.
"Maafkan aku Ayah...tapi aku tahu dimana kamar bunda, ayah masuk saja lewat pintu utama, aku akan segera menyusul ayah" ujar lian dengan cepat lalu dia menutup telponnya.
Sementara itu cintya yang merasa gemetar ketakutan semakin merasa takut ketika pintu kamarnya mulai terbuka dan sosok joni mulai masuk ke dalam kamar lalu mengunci rapat pintu kamar itu. Dia lantas duduk diatas ranjang tepat didepan cintya yang sedang meringkuk ketakutan dihadapannya.
"Kau jangan takut sayang, kalau kau bersikap lembut maka kau tidak akan merasa kesakitan" ucap joni sambil tersenyum licik dihadapan cintya.
Mendengar perkataan joni tadi cintya langsung menatap tajam kepada joni.
"Kau tidak tahu siapa suamiku...dan kau juga masih belum sadar kau sudah berhadapan dengan siapa...suamiku tidak akan memberimu ampun, kalau kau berani menyentuhku walau hanya sedikit saja" tegas cintya kepada joni.
Joni yang geram langsung menampar dengan keras wajah cintya hingga cintya terjerembab diatas ranjangnya. lalu dengan cepat joni menarik kaki cintya hingga posisi cintya bebas telentang. Secepatnya joni langsung menindih tubuh cintya dan berusaha mengarahkan bibirnya kepada bibir cintya. Usahanya agak sulit karena cintya terus meronta dengan sekuat tenaganya. Sampai akhirnya tiba tiba...
Brak.....
Pintu kamar itu berhasil di dobrak oleh lian.
__ADS_1
"Lepaskan bundaku!!" bentak lian kepada joni.
Joni langsung bangkit sambil menarik cintya serta memegang erat lengan cintya yang masih saja meronta kepadanya.
Joni lalu mengambil pisau lipat dari balik sakunya lalu menarik cintya seolah menjadikan cintya tameng bagi dirinya. Tak lupa dia mengarahkan pisau itu tepat di leher cintya.
Lian yang berlari mendekat langsung tersungkur jatuh ketika joni menendang perutnya dengan keras.
Dan semuanya langsung diam tak berkutik ketika terdengar seseorang berdiri di depan pintu kamar sambil menarik pelatuk pistol lalu menodongkan tepat ke arah menuju kepala joni.
"Lepaskan istriku atau aku pastikan peluru ini akan menembus kepalamu" ucap suwandi dengan tatapan membunuhnya.
Tapi joni malah semakin mendekatkan pisaunya di leher cintya.
"hahaha...kau pikir kau jagoan tuan besar?...chiko!!!'....chiko!!!...."teriak joni berkali kali.
"Kalau orang yang kau panggil itu pengawalmu maaf aku sudah membereskan semua. Mereka semua juga sudah aku ikat. Kau mau melihatnya?" ujar sebastian yang ada dibelakang suwandi dengan santainya seolah tidak pernah terjadi apa apa.
Tiba tiba cintya menggigit dengan keras tangan joni hingga joni merasa sangat kesakitan sampai pisau yang ada digenggamannya jatuh ke lantai. Lalu secepatnya cintya berlari kearah suaminya tapi langkahnya langsung terhenti ketika mendengar suara tembakan.
Dor....
tembakan itu tepat mengenai kepala joni karena joni hendak berlari mencegah cintya menjauh darinya. Joni langsung tersungkur jatuh tak sadarkan diri. Terlihat cintya masih berdiri mematung sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya serta menutup matanya rapat rapat. Suwandi kemudian berjalan mendekati cintya lalu memeluknya erat.
"Jangan takut, semua sudah berakhir" bisik suwandi di telinga cintya. Cintya langsung memeluk erat suami tercintanya itu sampai tanpa sadar air matanya turun deras di pipinya.
Sebastian membantu lian bangkit lalu dia mendekati tubuh joni. Dia meletakkan dua jarinya di leher joni sejenak. Setelah itu dia bangkit dan mendekati tuanya.
"Ayo kita pergi tuan" ucap sebastian lalu semuanya ikut pergi. Tidak ada kata kata lagi yang mengiringi kepergian langkah mereka semua sampai di depan mobil.
Lalu terlihat dua buah mobil mendekat dan keluarlah sepuluh orang berpakaian jas hitam lengkap dengan earpiece yang sudah terpasang di telinga mereka. Beberapa diantaranya sedang memegang pistol. Suwandi menyuruh cintya dan lian untuk masuk ke dalam mobil.
"Tuan...." ujar salah satu orang itu.
"Bereskan semua kekacauan ini secepatnya jangan sampai meninggalkan jejak dan pastikan juga jangan sampai ada yang curiga. Setelah itu segeralah kembali ke posisi kalian masing masing" perintah suwandi kepada mereka semua yang tenyata adalah anak buahnya.
Kemudian sebastian membawa suwandi dan keluarganya kembali ke kediaman suwandi di desa.
__ADS_1