
Pagi itu alexa dan raisya mondar mandir di depan kamar karin. Biasanya hari minggu, karin selalu bangun pagi untuk pergi berolahraga bersama ricko tapi kali ini karin belum juga keluar dari kamarnya. Semenjak kejadian penyerangan pertama kali, minimal seminggu dua atau tiga kali, karin mulai melatih ilmu beladiri bersama ricko sebagai pelatihnya agar kemampuan beladirinya karin bisa semakin meningkat.
Hari minggu menjelang siang akhirnya karin baru keluar dari kamarnya. Semalam setelah pulang dari pesta, karin memang mengunci diri di dalam kamar. Dia menangis sebentar di dalam kamar, tapi tak lama kemudian dia kembali menghadap laptopnya. Malam itu dia bertekad harus menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang selalu terngiang ngiang dikepalanya. Alhasil sedikit demi sedikit jawaban mulai terangkai di kepalanya.
Beberapa slide gambar ayahnya yang terlihat meresmikan beberapa proyek besar milik perusahaan ayahnya. Beberapa rangkaian peristiwa di masa kecil juga satu persatu mulai bisa dia rangkai di kepalanya. Termasuk jati diri ray yang sebenarnya bahwa ray adalah anak dari salah satu rival terberat ayahnya yaitu imam subroto, seorang laki laki seumuran ayahnya.
Karin sempat terkejut tak percaya serta kembali bersedih mengetahui siapa sebenarnya ray, hanya beberapa hal yang belum dia pahami sampai sekarang adalah mengapa sampai detik ini ayahnya jarang muncul dihadapannya padahal dia tahu selama ini ayahnya selalu bersamamya di Jakarta. Sesibuk apakah ayahnya sampai sampai tak pernah datang menengok putrinya sendiri. Lalu mengapa hubungan imam dengan ayah tidak bisa membaik? Permasalahan apa yang sebenarnnya terjadi diantara mereka berdua, apakah hanya karena bisnis atau ada hal yang lainnya. Dan berapa banyak lagi rival bisnis ayahnya yang selama ini berusaha menjatuhkan ayahnya. Karena itulah karin lebih memilih diam menunggu waktu yang tepat untuk bicara sambil terus mencari kebenarannya.
Setelah keluar dari kamarnya, karin bergegas menuruni tangga. Melihat alexa hanya duduk sendiri di depan sofa sambil menonton tv, karin pun berjalan menghampirinya.
"Raisya mana?" tanya karin
"Udah pergi dari tadi?" jawab alexa
"Pergi kemana?" tanya karin lagi.
"Makanya kalo punya kamar jangan dikunciin mulu. Tadi pagi sebenarnya raisya tuh mau ngajak kita ke rumah mira, buat ngembalikan baju yang dia pake kemarin. Tapi berhubung kamunya yang gak keluar keluar, raisya berangkat duluan karena mira udah telepon terus ke ponselnya. Oh ya tadi raisya kirim pesan kalo kita disuruh nyamperin dia ke rumah mira" jelas alexa.
"Ke rumah mira lagi? Tapi aku....malu..."
jawab karin dengan tersipu.
"Orang tua mira udah pergi dari tadi malem, ga tau katanya ada keperluan di luar kota.Kita berangkat sekarang yuk..." ajak alexa.
Karin segera mengirim pesan kepada ricko.
*Aku dan alexa pergi ke rumah mira ya. karin
Ada perlu apa? . ricko
Mau jemput raisya. karin
Apa ngga bisa ditunda nanti sore? ricko
Ricko!!!
aku bosan di rumah terus! karin
Baik...baik...pergilah...nanti sore aku jemput. Tunggulah di lobby, Maaf aku tidak bisa mengantar, aku masih ada keperluan. Tapi akan kupesankan ojol. ricko*.
Karin mengajak alexa untuk segera menuju lobby. Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di rumah mira. Sayangnya sewaktu mereka berdua sudah sampai disana, raisya sudah pulang diantar oleh Aldo kakaknya mira.
"Mir...ada air dingin ngga?" pinta karin.
"Bi! Tolong bawain segelas air dingin sekarang..!" perintah mira kepada pembantunya.
"Baik non..."
ting tong....
Bel pintu rumah berbunyi, mira bergegas berdiri lalu berjalan menuju depan rumah meninggalkan kedua temannya yang asik ngobrol di depan tv.
"Ray...? Ada apa kesini?" ketika membuka pintu depan rumahnya, mira terkejut melihat ray sudah berdiri di depan rumahnya sambil membawa sebuah buku.
"Aku kesini mau ngembalikan buku catetan aldo. Kemarin aku sampe lupa karena mikirin ultahnya aldo. Aldo ada di kamarnya, mir?"
"Tadi ada sih...tapi sekarang udah pergi nganter raisya" jawab mira.
Mira lalu mengajak ray masuk ke dalam rumahnya karena mira tahu ray selalu bersemangat kalo ada karin. Ray yang tidak mengetahui ada karin di dalam rumah mira, awalnya malas menuruti keinginan mira hingga mira akhirnya harus sedikit memaksanya untuk mau masuk ke dalam rumahnya. Ketika mereka berdua berjalan ke dalam, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan karin yang baru keluar dari dapur membawa segelas air dingin. Langkah karin langsung terhenti melihat sosok ray ada di depannya. Begitu juga dengan ray yang sempat terkejut karena bertemu karin di dalam rumah mira.
uhuk...uhuuk
Karin langsung tersedak melihat ray sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya juga langsung bersemu merah karena malu.
Aduuuh....nih cowok ngapain kesini lagi sih. batin karin
__ADS_1
Ray memandang ke arah mira berusaha mencari penjelasan dengan tatapannya tapi mira malah tersenyum penuh arti sambil mengerlingkan salah satu matanya.
Bergegas Karin melangkah menuju alexa bermaksud mengajaknya pergi tapi tidak jadi karena ray dan mira keburu muncul di sofa itu. Alexa yang awalnya bingung akhirnya paham melihat kemunculan ray di depannya.
"Ray? Mau ngapain kesini lagi?" tanya alexa dengan perasaan ragu.
"Aku mau ngembalikan buku catatannya aldo" jawab ray dengan enteng sambil menunjukkan buku itu di tangannya, "Kalian berdua ngapain kesini?"
"Tadinya mereka mau jemput raisya, tapi sebelum mereka datang, raisya udah diantar kak Aldo pulang" jawab mira." Oh ya mumpung ray ada disini gimana kalo kita jalan jalan ke Mall"
Wajah ray langsung tersenyum bahagia mendengar perkataan mira. Lain halnya dengan alexa dan karin. Karin memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan wajahnya dari semuanya agar tak ada yang tahu kalau dia sedang salah tingkah. Sedangkan alexa lebih memilih diam menunggu jawaban dari karin.
"Lho..kok malah diam sih..." mira yang tak sabar langsung menarik tangan alexa dan karin supaya mereka berdua berdiri lalu menyuruh mereka semua menunggu di depan mobil ray sementara dia sedang bersiap siap. Satu menit menunggu akhirnya mira berjalan setengah berlari menuju ke dalam mobil ray.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di mall yang mereka tuju. Setelah turun dari parkiran, mereka semua bergegas menuju lantai tempat bioskop berada. Beberapa foto besar judul film beserta visual gambarnya menghiasi dinding pintu masuk area bioskop seperti Makmum, Yo Wis Ben 2, Underwater dan beberapa film lainnya.
"Kita ntar mau nonton film apa?" celetuk ray.
"Film horor..tuh ada..." jawab mira
"Makmum...itu kan horor yang baru, kebetulan aku juga pengen nonton" jawab alexa juga.
Tapi karin yang memang tidak suka film horor langsung menunjuk ke arah foto film underwater." Yang itu aja ya..." karin berkata dengan suara memohon.
"Eh film horor tuh seru...bisa bikin jantung deg degan" mira berusaha mempertahankan pilihannya.
Karena karin dan alexa yang memang lagi malas berdebat akhirnya hanya mengiyakan saja pendapat mira. Mira menyuruh ray untuk membeli tiket sementara dia dan alexa pergi untuk membeli beberapa cemilan dan softdrink karena film masih akan dimulai lima belas menit lagi.
Sekembalinya ray dari antri tiket, dia melihat karin duduk sendiri di sebuah kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Ray lantas menghampiri karin lalu duduk tepat disampingnya.
"Mira sama alexa kemana?" tanya ray
"Lagi beli cemilan" jawab karin sambil tetap memainkan ponselnya.
"Eee...rin...soal kemarin..." mendengar ray berkata seperti itu karin langsung menyimpan ponsel di sakunya serta langsung menyela perkataan ray, "Udahlah ray gak usah dibahas lagi" karin memalingkan wajahnya sementara ray masih terus menatapnya penuh arti.
"Sayang ya...aku ngga dapet foto kamu, padahal aku pengen banget bisa foto bareng sama kamu" ray berkata sambil tiada henti menatap karin dengan pandangan lembutnya.
"Kenapa?" tanya karin
"Kamu cantik..."
blush..
wajah karin langsung merona merah seperti kepiting rebus, jantungnya juga seketika berdebar kencang. Wajahnya kembali tertunduk ke arah kakinya karena menahan malu.
Aku ini kenapa sih...dipuji dikit aja udah langsung ge er. Sadar karin...dia itu playboy yang berusaha mencuri perhatianmu saja. Nanti kalo udah bosen juga pasti kamu bakal dicampakkan kayak cewek cewek lainnya.batin karin.
Beruntung kala itu alexa dan mira sudah datang. Akhirnya karin bisa menyimpan perasaannya itu sendiri.
"Masuk yuk lima menit lagi filmnya dimulai" ajak mira.
Mereka berempat akhirnya masuk dan mencari kursi yang mereka pesan. Ray sengaja memilih empat bangku deretan tengah tapi dari sebelah pojok. Mira yang lebih dulu masuk segera memilih bangku pojok lalu menarik alexa untuk segera duduk disebelahnya. Karin yang berada di belakangnya alexa mau tidak mau terpaksa duduk di sebelahnya ray.
Lima belas menit setelah film diputar, karena dinginnya ruangan dan softdrink yang dia minum, membuat karin merasa ingin ke kamar kecil dan sudah tak dapat dia tahan Setelah karin berbisik kepada alexa tapi alexa tak bergeming karena filmnya sedang seru apalagi alexa memang sangat menyukai film bergenre horor. Pada akhirnya mau tidak mau karin berbisik kepada ray.
"Ray...aku mau pipis" karin berbicara dengan sedikit manja.
"Sekarang? mau aku anterin?" tanya ray.
Karin hanya mengangguk seperti anak kecil yang polos. Ray yang gemas melihat wajah karin akhirnya hanya tersenyum lalu berdiri kemudian menggandeng tangan karin untuk keluar menuju toilet.
Sesampainya di depan toilet mereka berdua berhenti
"Mau kutunggu disini atau aku ikut ke dalam?" goda ray sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
mendengar itu Karin langsung mencubit lengan ray sampai ray melepaskan genggaman tangannya lalu mengusap sendiri lengannya yang sakit.
"Jangan lama lama, keburu si kunti keluar" goda ray tapi tak dihiraukan oleh karin.
Di dalam toilet mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
*Kenapa pikirannya cowok ujung ujungnya sama. Mesum..... batin karin
Wajah polosmu lucu banget sih rin...bikin aku makin gemes aja. batin ray*
Setelah keluar dari toilet
"Udah?" hanya dijawab anggukan oleh karin.
"Kita balik yuk" ajak ray
Tanpa ray duga karin malah menarik tangannya dan ketika ray menoleh kearah karin, dia mendapati wajah polos karin sekali lagi hingga belum berkata apa apa hati ray langsung luluh memandanginya.
Haah...kariiin...kalo gini caranya lama lama aku bisa gigit kamu nih. batin ray
"kita ke permainan aja ya..." ucap karin dengan tanpa rasa bersalah.
Ray yang gemas langsung mencubit hidung karin.
"Aku tuh jadi gemes tahu nggak kalo lihat kamu kayak gini...kenapa? takut lihat film horor?"
Karin hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum manis kepada ray dengan menunjukkan wajah imutnya.
"Trus sekarang mau kemana?" tanya ray
"Ke permainan aja ya...lebih seru..." jawab karin yang kembali menunjukkan wajah imutnya.
"Haah...." setelah ray melenguh panjang,"ayuuk" jawab ray.
Tanpa permisi karin kembali menggandeng jemari tangan ray lalu dengan semangat mengajak ray ke tempat permainan seperti anak anak kecil lainnya.
"Ray, kita main balapan yuk..."
"Boleh...tapi ada syaratnya" jawab ray
"Apa..."
"Yang kalah harus traktir minum, gimana...setuju?" tantang ray.
seketika Karin menunjukkan jempolnya tanda dia setuju. Tak lama setelah membeli tiket permainan, mereka memulai balapannya. Ray yang sudah lihai akhirnya memenangkan balapan itu berkali kali. Tapi sebelum karin membeli minuman ray menariknya ke beberapa permainan lainnya sampai koin mereka habis. Ray ikut tertawa melihat tawa bahagia karin yang tak henti hentinya mengembang diwajahnya.
Setelah itu karin membeli dua gelas minuman di stan terdekat. Sambil bersandar di pagar dekat tempat permainan ray dan karin sedikit mengobrol.
"Kamu udah berapa lama di Jakarta?" tanya ray.
Spontan pertanyaan ray mengingatkan dirinya akan peristiwa semalam yang langsung membuat keceriaan di wajah karin hilang
"Semenjak aku sekolah disini", jawab karin sambil memainkan gelasnya.
"Kok kelihatannya kamu sedih gitu, kenapa?" tanya ray yang penasaran.
"Huuft...ngga papa kok, cuma kangen aja sama keluarga" jawab karin datar
tiba tiba terlintas di pikiran ray tentang peristiwa kemarin.
"Oh ya...kenapa sih kemarin kamu ngga jujur aja sama aku?" tanya ray yang masih saja penasaran.
"Huuft...bahas itu lagi..." sebelum menjawab karin sempat menggerutu di depan ray."Udahlah ray, emangnya aku hidup di dunia sinetron, berharap dapat kisah romantis dari seorang cowok. Aku bukan seorang gadis penggemar drama korea. Lebih baik nonton film action daripada film begituan" jawab karin dengan sedikit kesal.
"Kalau film horor" ray bermaksud bercanda tapi karin malah meliriknya dengan tatapan tidak sukanya membuat ray malah tertawa kecil melihatnya."Aku bener bener gak habis pikir ya, Cewek setangguh kamu ternyata takutnya cuma karena hal sepele kayak film horor sama BB" ray melanjutkan tawa kecilnya sambil geleng geleng kepala serta tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Karin hanya bisa diam cemberut mendengar perkataan ray
terus aja ketawain aku sampe puas, dasar playboy amatir. batin karin