
Beberapa hari ini bima nampak bingung dan cemas. Pasalnya sudah beberapa hari ini dia tidak melihat batang hidung alexa. Setelah kejadian kemarin di rumah bima, alexa tiba tiba menghilang bak ditelan bumi. Ingin rasanya dia bertanya kepada karin tapi bima selalu mengurungkan niatnya mengingat kejadian di rumahnya kemarin.
Menurut bima kalau karin memang sudah tahu tentang permasalahannya dengan alexa, sebagai sahabatnya karin pasti akan marah besar kepadanya. Tapi bima juga merasa aneh karena setiap bertemu karin, sikap karin selalu biasa saja dan cuek seperti biasanya. Bima yang akhirnya sudah tidak bisa lagi menahan rasa keingintahuannya tentang Alexa akhirnya mencoba bicara kepada karin.
Siang itu ketika pulang sekolah, bima mencari karin yang ternyata tengah berjalan bertiga bersama ray dan raisya. Tanpa basa basi lagi bima langsung mengejar karin.
"Karin!!!" panggil bima.
"Bima...ada apa?" tanya karin.
"Aku mau tanya sama kamu...dimana alexa? kenapa beberapa hari ini dia tidak muncul?" tanya bima dengan wajah cemasnya
"Alexa...dia lagi pulang kampung selama seminggu" jawab karin dengan santai.
"Apa? seminggu ? kenapa lama sekali?" tanya bima yang bingung.
"Emang gue maminya yang berhak ngatur ngatur dia seenaknya" balas karin dengan santai.
"Omelanmu aja sudah seperti mamiku" balas bima dan disambut senyum kecil raisya dan ray yang masih disebelahnya.
"Masih mending daripada lo, Baru juga beberapa hari ditinggal udah ngga tahan, kayak baby nyariin maminya aja" balas karin.
"Karin...sebenarnya ada apa sih, kenapa dia liburnya lama?" tanya bima
"Dasar bayi kingkong....ya jelas aja dia butuh waktu buat berkabung...bundanya tuh meninggal..." jawab karin.
"Apa! meninggal!! kok ngga bilang sih! " ucap bima dengan sedikit kesal.
"Sejak kapan orang meninggal bisa ngomong? Atau lo mau bundanya datang pamitan ke lo...bye tampaaan...." balas karin kepada bima.
"Ngga usah pasang muka serem kayak gitu...ngga lucu tahu nggak" ucap bima
Karin langsung menghela nafas panjang dengan sedikit manyun.
"Maksudku kenapa kamu baru bilang sama aku? Kenapa ngga dari kemarin kemarin?" tanya bima.
"Lo ngga nanya !" jawab karin dengan entengnya.
"Tapi lo bisa kan beritahu gue!" ucap bima yang tak mau kalah.
"Haaah...sebenarnya yang suka ngomel tuh lo apa gue sih?....Gue bukan mami lo ngga usah manja gitu sama gue....jijik gue" ucap karin sambil berlalu pergi meninggalkan bima.
"Dasar mak lampir...kagak pernah bisa diajak ngomong baik baik" gumam bima dihadapan ray.
Ray lantas menepuk pundak bima, "Yang sabar ya....hidup tuh emang sulit" setelah berkata seperti itu ray lantas ikut menyusul karin yang lebih dahulu pergi.
"Ini lagi...bukannya ngedukung malah bersenang senang diatas penderitaan teman. Lebih baik gue pulang aja deh" ucap bima sendiri lalu dia pergi meninggalkan sekolah dengan motornya.
Ray yang tadi sempat berlari mengejar karin, akhirnya berhasil menyusul serta menarik karin untuk segera masuk ke dalam mobil untuk duduk di bangku belakang.
"Sayang...kamu hari sabtu ada acara ngga?" tanya ray.
"Enggak...kenapa?"
"Kita jalan yuk...ketempat kemarin..."
"okey..." jawab karin.
sementara karin sibuk dengan pekerjaannya,ray mulai memeriksa beberapa berkas yang dia tinggal di mobil tadi.
"Hmm...baunya harum..buka dong..." pinta ray
"Ini juga mau dibuka, sabar dong" jawab karin.
"Ayo dong sayang cepeet...."
"Iya...iya...sabar dikit kenapa" jawab karin
"Hemm....nikmat sayang" ucap ray
"Apa yang kalian lakukan!!!" ujar seorang guru laki laki.
Kenikmatan mereka terpaksa harus tertahan pasalnya ada Pak Sofyan salah satu guru biologi yang kebetulan lewat mendengar pembicaraan mereka berdua. Wajahnya langsung memerah melihat dua pasangan itu yang sedang berdua dalam mobilnya.
__ADS_1
"Makan siang pak...pak sofyan mau?" tanya ray dengan wajah polosnya.
"Ti...tidak...bapak sudah kenyang. Apa yang kau pegang itu ray?" tanya pak sofyan untuk menutupi makan siangnya.
"Ini...berkas perusahaan papaku pak" jawab ray dengan santai setelah itu meminta suapan lagi kepada karin.
"Ya sudah lanjutkan...tapi inget awas kalau berbuat macam macam disini" ujar pak sofyan. Kemudian dia pergi meninggalkan dua sejoli itu.
Beberapa saat karin menemani serta menyuapi makan siang untuk ray. Ray memang selalu meminta karin untuk menemaninya makan siang sebelum dia berangkat kerja di kantor papanya. Karin yang memang kurang terlalu suka dengan masakan luar memilih untuk selalu menyiapkan bekal makan siang ray. Untungnya ray selalu suka dengan masakan karin. Karena itu ray tak pernah keberatan kalau karin selalu membawakannya bekal malah ray akan mempertanyakannya kalau karin tak membawakannya bekal.
Bagi ray waktu singkat untuk sekedar menikmati bekal makan siang sambil sedikit ngobrol itu sudah cukup untuk mengobati kerinduannya akan waktu berdua dengan kekasihnya. Lain halnya dengan karin yang memang mulai hobi memasak. Selain karena dia senang membuatkan bekal untuk ray, dia sebenarnya juga berencana untuk belajar memasak banyak makanan agar impian dia untuk membuka sebuah restoran bisa dia wujudkan.
Setelah makan siang selesai karin bersiap untuk keluar dari mobil ray tapi ray kembali memegangi tangannya.
"Karin...makasih ya sayang" ucap ray sambil meraih tangan karin lalu mencium punggung tangannya.
"Sama sama" jawab karin dengan wajah merona dan malu.
"I love U" ucap ray.
"Love you to" jawab karin pelan lalu secepatnya karin berlari keluar berusaha menyembunyikan wajah meronanya dari ray.
Tapi dengan cepat ray berhasil mengejarnya. Ray memegang kedua bahu karin serta menatap lekat wajah karin yang masih merona karena malu. Ray lantas mencium kening karin.
"Nanti aku telpon kamu" ujar ray
Setelah menganggukkan kepalanya, karin berjalan menuju mobilnya sendiri. Tampak reno sudah bersiap menyambutnya. Kali ini dia pulang hanya bersama reno.
Tak ingin menyia nyiakan kesempatan, karin kembali mencari tahu info tentang ayahnya dari reno terutama info tentang penyebab mengapa keluarganya bisa bermusuhan dengan keluarga ray. Sebenarnya reno berkali kali berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi karena karin tak pernah menyerah menanyakan hal itu membuat reno akhirnya kau tak mau menceritakan awal kisah percintaan ayah dan bundanya. Walaupun pada waktu itu reno masih baru bergabung sebagai pengawal suwandi, tapi kedekatannya dengan sebastian membuatnya tahu tentang segala hal.
"Jadi ayahku yang merebut bundaku dari papanya ray? Ternyata ayah dulu juga anak nakal, pantas saja dia selalu memperingatiku untuk selalu jadi anak baik" gerutu karin
"Kau jangan menyalahkan ayahmu, kalau saja ayahmu tak memaksa bundamu menikah dengannya entah bagaimana nasib bundamu di tangan papa kekasihmu itu. Lelaki kejam yang tak punya perasaan" ujar reno.
"Kenapa kau berkata seperti itu reno, ray berbeda dengan papanya, ray tidak sekejam itu" ucap karin berusaha membela kekasihnya.
"Lambat laun juga kau pasti akan mengenalnya karin. Kalau aku boleh memberi saran, lebih baik kau menjauh darinya sebelum rasa itu semakin membesar. Seandainya kau tahu bagaimana kelakuan papanya ray terhadap wanita wanita simpanannya. Dan saranku juga lebih baik kau segera berterus terang pada ray tentang kecelakaan itu. Bagaimanapun juga kecelakaan itu sudah merenggut nyawa ibu kandungnya ray. Bagaimana kalau ray memiliki trauma dengan masa lalunya akibat kecelakaan itu. Bukankah lebih baik kau perjelas sekarang karin, sebelum rasa cintamu semakin besar padanya dan pastinya perasaanmu akan lebih sakit ketika kau berpisah dengannya" jelas reno kepada karin.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan pada ray...aku bingung harus mulai darimana reno" tanya karin.
"Kenapa karin...Kau tidak suka dengannya? bukankah dia orang yang cukup ahli?" tanya reno.
"Kau benar reno, dia memang ahli membuatku pusing dan sakit hati" gumam karin. Reno yang masih bisa mendengarnya dengan jelas hanya bisa tertawa kecil.
Di waktu istirahat, karin yang baru keluar dari kelasnya hendak ke perpustakaan untuk mengerjakan tugasnya, tak sengaja melihat reno berjalan dengan gagah di koridor. Pakaian kemeja putih dibalut jas hitam membuat dia terlihat seperti eksekutif muda yang sangat tampan. Pantas saja banyak mata gadis genit yang memandangnya. Bahkan diantaranya berusaha mendekati serta menggodanya.
Tapi seketika para gadis itu menjadi patah hati karena mendapati reno berjalan menghampiri karin sambil tersenyum manis walaupun gadis yang dihampirinya menampakkan wajah tak bersahabat.
"Sedang apa kau disini, penampilanmu menarik perhatian banyak gadis" tanya karin dengan ketus.
"Aku kesini untuk mengurus administrasi sekolahmu. Memangnya kenapa dengan penampilanku, sejak dulu penampilanku seperti ini...nona karin" goda reno yang paham dengan sifat karin yang sedang merajuk padanya.
"Terserah kau saja" ucap karin setelah itu dia hendak pergi tapi reno langsung berkata,"Apa suasana hatimu sedang buruk, nona?" tanya reno sambil mengeluarkan sebatang coklat dari balik jasnya lalu menyodorkannya kepada karin. Karin yang tadinya cemberut langsung sumringah melihat sebatang coklat besar terpampang di depan matanya.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, aku tak biasa..." ucap karin sambil mengulum potongan coklat pertamanya.
"Kalau begitu mulai sekarang biasakanlah" ucap reno.
"Kenapa harus..."
Sebelum menjawab reno mengeluarkan sebuah amplop warna merah dari balik jasnya.
"Apa ini?" tanya karin lagi.
"Itu undangan untuk penghargaan pengusaha muda terbaik. Ayahmu mendapatkan undangan vvip karena dia sebagai sponsor tertinggi acara itu. Dan ayahmu memintamu untuk hadir menggantikannya karena dia belum tentu bisa hadir" jelas reno.
Karin dengan santai mengembalikan undangan itu kepada reno.
"Kau saja yang hadir, aku ada pertandingan"
"Maaf tapi anda harus hadir nona. Anda calon pewaris Jaya Suwandi Group, sudah saatnya anda tampil di depan publik" ujar reno lagi.
"Haah reno...apa tak ada acara yang tanpa higheels dan gaun. Pasti banyak sorot kamera kan disitu?" tanya karin yang mulai kesal.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf nona, ini tak akan terjadi seandainya nona tidak datang ke kantor" jawab reno.
"Aku kan hanya ingin menemui ayahku" ucap karin dengan sedih.
"Semua perbuatan kita ada konsekuesinya nona. Dan mulai sekarang mau tak mau anda harus membiasakan diri. Baiklah saya rasa urusan saya sudah selesai disini. Apa nanti anda mau aku pesankan martabak manis, nona. Atau anda mau coklat lagi?" tanya reno sambil menyodorkan sebatang coklat besar lagi kepada karin.
"Reno....aku akan patuhi semuanya tapi sebelumnya aku ingin kau memenuhi satu permintaanku"
"Katakanlah nona" ucap reno.
"Aku ingin kau menjemputku dengan itu...." karin menunjuk ke arah sebuah motor sport sedangkan reno langsung mengernyitkan dahinya."Sekali iniiii saja ya....aku iri sama alexa yang sudah berkali kali dibonceng bima, aku pengen naik motor itu" pinta karin dengan sedikit merajuk.
"Baiklah...aku akan menjemputmu nanti. Permisi nona" jawab reno dengan sopan.
Setelah itu reno berjalan pergi menjauh. Dalam benaknya berpikir tentang alexa.
Bima....apa yang karin maksud itu bima kurniawan anak dari Bayu Kurniawan. Kalau memang iya, kau benar benar sedang mencari masalah alexa. Bayu Kurniawan tidak akan pernah tinggal diam kalau sampai terjadi sesuatu dengan putranya. Sepertinya aku harus melupakan masalah karin dan ray. Lagipula hubungan ray dengan ayahnya tidak pernah baik. Semoga saja ray berpihak pada karin. Reno
Setelah kepergian reno, angel dan jenifer mendekati karin.
"Well well well...ternyata lo licik juga ya.... Gimana caranya lo bisa jadi sugar babynya salah satu pengusaha terkaya dan paling berpengaruh disini?" tanya angel dengan penuh selidik.
"Maksudnya lo kenal sama reno?" tanya karin balik.
"Memangnya model mana yang tak tahu siapa dia. Pake pelet apa lo? Sepertinya pelet lo manjur" tanya angel dengan sinis. Disamping sekolah, Angel juga terjun sebagai seorang model yang baru dua tahun belakangan ini
"Berhentilah merendahkanku angel, kau akan menyesal kalau kau tahu aku yang sebenarnya. Hah...setidaknya aku masih lebih baik darimu" balas karin dengan sedikit mengejeknya lalu dia pergi berlalu meninggalkan mereka berdua yang hanya diam mematung.
"Karin...ternyata aku salah sudah meremehkanmu" ujar angel berusaha menahan amarahnya.
"Sabarlah ngel, mulai sekarang kita harus berhati hati menghadapinya. Dia bukan orang sembarangan.
Dasar wanita murahan, pantas saja ray tak pernah mau melirikmu. Ternyata kau rela menjual tubuhmu hanya demi karir dan uang. Karin
Ketika karin sedang berjalan di depan mila, mila melontarkan sindirannya. "Mimpi apa semalem, didatengin cowok cakep trus dikasih coklat lagi. Dikasih dua lagi..."
"Lo mau?" tanya karin
"Serius nih"
"Tapi bo'ong" goda karin.
"Dasar pelit...emang tuh cowok siapa sih?" tanya mila yang kembali tersenyum manis ketika karin memberinya sebatang coklat yang masih utuh kepada mila.
Gue harus jawab apa nih. Kalo gue jelasin siapa reno bakal panjang tapi kalo gue ngga jelasin, cunguk ini pasti nanya terus. karin
"Dia...babysitter gue disini" jawab karin
Mendengar itu mila langsung memukul lengan karin.
"Aduh...sakit mira!!"
"Heh balita kloning...mana ada orang segedhe lo butuh babysitter, yang ada tuh butuh suami" balas mira.
Karin sebenarnya akan membalas kata kata mira tapi ngga jadi karena ray tiba tiba menarik tangannya.
"Karin....aku mau ngomong sesuatu sama lo" ucap ray dengan cepat sambil menarik lengan karin ke tempat yang agak jauh dari mira.
"Ada apa ray?" tanya karin.
"Aku mau tanya ada hubungan apa kau dengan laki laki itu?" tanya ray dengan wajah serius.
"Ray...apa kau cemburu?"
"Karin...jawab saja pertanyaanku! Seberapa dekat dirimu dengan reno! Bagaimana kau bisa dekat dengan orang seperti dia" tanya ray kembali.
"Okey....ray bukankah kau berjanji akan mengajakku keluar nanti? aku janji aku akan jelaskan semuanya. Tapi setidaknya biarkan aku mengerjakan tugasku" jawab karin.
"Baik...pulang sekolah aku tunggu di depan mobilku" ucap ray setelah itu dia pergi.
Semoga saja dugaanku salah. Semoga saja mereka hanya berteman. Atau karin memang sengaja menyembunyikan jati dirinya dihadapanku. Dasar wanita penggoda. ray
Karin berjalan menuju perpustakaan sambil memikirkan sikap ray tadi.
__ADS_1
Kenapa ray bersikap seperti itu? apa mungkin reno benar ya....ray masih trauma dengan kecelakaan itu. Mungkin reno benar, aku harus menceritakan ini semua pada ray. karin