
Di hari yang sama dengan kejadian serangan itu, Imam yang sedang berada di hotelnya sore itu membanting ponsel mahalnya hingga layar ponsel itu retak setelah mendapat kabar dari asistennya bahwa seseorang yang dia kirim untuk mencelakai karin akhirnya tewas ditangan para pengawalnya suwandi.
"Kurang ajar kau suwandi!! aku pasti akan membalasmu dan merebut cintya darimu!! Cintya adalah cinta sejatiku!!" teriak imam
Saat istirahat sekolah, alexa mengajak karin dan raisya ke kantin. Saat mereka sudah di kantin dan sedang menikmati minuman segar mereka beserta beberapa cemilan, angel dan jenifer yang sedang lewat disamping mereka bertiga berceloteh sinis.
"Cih...orang kampung berlagak sok kaya, gaya mereka aja norak banget..." ujar angel sambil tersenyum sinis.
Ray yang juga baru sampai di kantin bersama teman temannya, sebenarnya ingin mendekati karin tapi bima mencegahnya.
"Tunggu ray...percaya deh...ini bakal jadi tontonan menarik" ujar bima berusaha meyakinkan ray yang sudah mulai menampakkan wajah kesalnya di hadapan semua orang yang sedang tertawa hanya ray terlihat sangat serius.
Begitu juga dengan alexa yang sebenarnya sudah geram tapi tertahan setelah karin berbisik,"aku masih ingin sekolah disini lex..."
"Ternyata orang kampung sudah mulai paham ya kalo mereka tuh gak sebanding sama kita" ujar jenifer dengan tatapan sinisnya.
Setelah menghela nafas berat," hah...aku kenyang...kita balik yuk" ajak karin lalu dia berdiri.
Ketika karin berbalik dan hendak berjalan dia dikejutkan dengan kaki angel yang sengaja dia posisikan agar karin terjatuh tapi dengan refleks karin malah menginjakkan kakinya tepat diatas kaki angel itu dengan kuat serta sedikit menggesek gesekkannya hingga membuat angel sangat terkejut tak percaya, "Oh my god...sepatu mahalku...i can't believe it...what are you doing!!!" pekik angel dengan sikap kesal dan congkak sekaligus genitnya.
"Siapa suruh tuh kaki berubah fungsi jadi polisi tidur jadi ke injek deh" gumam raisya lirih tapi masih bisa di dengar semua.
Spontan alexa yang ada disebelahnya ikut menahan senyum tapi karin malah langsung nyelonong pergi setelah memberikan tatapan tajam pada angel dan jenifer sampai akhirnya alexa dan raisya sedikit berlari mengejarnya. Langkah karin sempat terhenti mendapati ray sedang tersenyum menatapnya tapi karin langsung diam tertunduk serta kembali melangkahkan kakinya dengan cepat diikuti alexa dan raisya.
"Gue bilang juga apa..." ucap bima dengan menunjukkan wajah kemenangannya kepada ray.
"Kita main basket aja yuk...dari pada kejebak sama tuh princess gak jelas" ujak aldo dan disetujui sama semua temannya.
Karin, raisya dan alexa menuju ke taman sekolah untuk menghabiskan waktu istirahatnya
"Hehe...gila lo ya...sampe kepikiran nguyel nguyel tuh sepatunya cewek genit" celetuk raisya dengan senyum simpulnya.
"Biarin...anggap aja pembalasan terhadap sepatu gue kemarin" balas karin.
"Emang sepatu lo kenapa?" tanya alexa yang memang nggak ngerti apa apa.
"Udah ngga usah dibahas lagi deh...ricko emang hobby banget bikin gue sebel" gerutu karin dengan wajah super kesalnya mengingat higheels yang dibeli ricko kemarin.
Sedangkan raisya dan alexa malah tertawa lebar sambil geleng geleng kepala.
"Kenapa? Kalian berdua gak percaya kalau gue tuh juga cewek" ujar karin berusaha meyakinkan.
"iya iya kita berdua percaya kok kalo lo itu emang cewek hebat yang pernah ngejar copet sama ngelawan preman" goda raisya yang tiba tiba teringat perkataan ricko kemarin.
"Aakh udah ah...gue pergi aja...nasib..nasib dimana mana gue dibully" gerutu karin yang sebenarnya masih kesal malah tambah kesal hingga akhirnya sifat asli karin pun muncul. Karin suka pergi menyendiri ketika dia sangat kesal agar dia bisa segera menenangkan dirinya
Pada hari sabtu dimana di sekolah hanya ada acara ekskul sekolah, karin sedang berjalan seorang diri menuju ke taman sambil membawa novelnya. Raisya kembali disibukkan dengan ekskul madingnya, sedangkan alexa telah berjanji pada bima untuk menemaninya latihan. Belakangan ini entah kenapa hubungan bima dengan alexa mulai akrab, mungkin karena alexa ingin memenuhi janjinya kepada bima.
Ketika karin melewati pinggir lapangan sebuah bola mengenai tangannya hingga buku novel yang awalnya dia pegangpun terjatuh ke tanah. Disaat karin menoleh ke arah datangnya bola, Dia melihat jenifer sudah berdiri di depannya serta memainkan bola yang tadi sengaja dia lempar ke karin.
"Ckckck...kasihan sekali, kotor deh tuh buku" ejek jenifer.
__ADS_1
"Haha...dasar kutu buku udah gitu kampungan lagi" tambah angel sambil menertawakan karin yang hanya diam saja mengepalkan tangannya memendam kekesalannya.
Tapi kekesalan Karin langsung hilang ketika melihat angel dan jenifer menatap penuh arti ke arah lain. Karin yang mengikuti arah pandanganan mereka akhirnya paham dengan sikap mereka. Mereka berdua bersikap seperti itu karena ray sedang berjalan menghampiri karin lalu meraih buku karin serta membersihkannya lantas menyerahkan kembali kepada karin.
"Udah bersihkan kan?" ucap ray sambil menampakkan senyum manisnya kepada karin tapi karin hanya memandang serius sikap ray. Dengan perasaan ragu karin menerimanya.
"Makasih" balas karin singkat.
"Ray...kita ke kantin yuk" ajak angel sambil bergelayut manja di lengan ray tapi ray segera menepisnya.
"Ray lo kenapa sih? Sejak lo kenal nih cewek lo berubah!" ujar angel yang mulai kesal.
Jenifer yang kesal sahabatnya hanya diacuhkan ray lantas menantang karin.
"Hei!!( menyapa karin) Gimana kalo kita main basket one by one dan kalo lo bisa ngalahin gue...gue akan ngaku kalah...tapi kalo ngga bisa ngalahin gue, lo harus mau ngelakuin semua perintah gue" tantang jenifer kepada karin.
"Setuju!"sahut ray.
"Tunggu! Ray lo apaan sih!" maki karin.
Tapi ray malah berbisik kepada karin.
"Ngalahin aldo aja lo bisa apalagi cuma seorang jenifer" bisik ray
"Darimana lo yakin?" bisik karin kembali.
"Udah...lo ikutin aja dulu permainan mereka. Gue yakin lo pasti bisa" bisik ray lagi sambil mengedipkan salah satu matanya. Ray lantas mendorong punggung karin.
Karin yang sebenarnya berat hati terpaksa meladeni jenifer atas desakan ray. Karena malas konsentrasi akhirnya jenifer berhasil mencuri bolanya lewat permainan jenifer sendiri yang licik. Didukung dengan sorak beberapa teman yang kebanyakan mendukung jenifer, membuat konsentrasi karin terpecah. Tapi bukan karin namanya kalau dia tidak bisa membalas apalagi ray terus menyemangatinya dengan harapan karin bisa mengalahkan jenifer. Hanya dalam waktu tujuh menit karin berhasil membuat jenifer kewalahan lewat permainan cepatnya dan kelihaiannya menghindar walaupun jenifer berkali kali berusaha menjatuhkannya.
"Lo udah kalah...ngaku aja deh" ujar ray.
"Permainan ini belum berakhir ray!" balas jenifer yang tak terima dengan perkataan ray.
"Kenapa? lo takut buktiin janji lo" balas ray
"Ray kau...."
"Silahkan kalau kalian mau bertengkar, anggap aja kita udah ngga ada urusan lagi!" ujar karin tegas lantas menyahut buku novelnya dari tangan ray lalu dia pergi dengan langkah santainya melanjutkan rencananya.
"Dengar jen...kalo lo berdua terus terusan ganggu karin...gue pastiin video kalian kemarin di depan toilet bakal viral di sosmed dan lo berdua pasti tahu akibatnya kan? Jadi mulai sekarang berhenti mengganggu karin atau kalian akan dikeluarkan dari sekolah ini." ancam ray lalu dia pergi meninggalkan jenifer dan angel yang memerah wajahnya karena ancaman ray tadi.
Setelah itu ray pergi menyusul karin yang belum jauh berjalan dengan setengah berlari.
Secepatnya ray meraih tangan karin lalu menariknya menuju taman sekolah. Karin yang sering mendapat perlakuan ray seperti itu entah kenapa akhir akhir ini jantungnya selalu berdetak kencang apalagi melihat tatapan manisnya ray kala memandang wajahnya. Karin yang biasanya selalu menampik tangan ray tapi kali ini dia hanya membiarkan saja ray memegang erat serta menarik tangannya. Hanya satu yang mengusik telinga dan perasaannya yaitu gosip tentang kedekatan ray dan karin.
Untuk beberapa saat karin dan ray hanya duduk terdiam di bangku panjang. Mereka duduk tepat bersebelahan. Karin menutup matanya merasakan angin berhembus semilir dan terasa sejuk di wajahnya sambil menggenggam erat novelnya. Sedikit senyum tersungging di wajah karin. Suasana ini memang sedang mengingatkan karin pada suasana di desanya.
Sementara ray tak henti hentinya menatap wajah karin. Kulit wajah karin yang mulus, cerah dan bersih dipadu dengan rambut sebahu yang diikat ekor kuda membuat ray begitu terpesona apalagi sedikit senyum di wajah manisnya membuat aura kecantikannya semakin terpancar.
Aku bisa gila kalau aku terus berada di dekatmu karin. Bahkan mataku saja tidak ingin berpaling darimu. Kenapa kau bisa secantik ini sih.. batin ray
__ADS_1
"Karin...." panggil ray dengan sorot matanya yang sayu.
"Hem...." jawab karin. Kesadarannya langsung kembali mendengar panggilan ray.
"Haaah...aku jadi iri sama angin" celetuk ray.
"Maksudnya?" tanya karin yang tak mengerti.
"Angin bisa nyentuh wajah dan rambutmu, sementara aku cuma bisa lihat kamu aja..." ucap ray yang tiada berhenti menatap wajah karin.
deg..
deg...
deg..
Mendengar itu debar jantung karin semakin kencang hingga membuat wajah karin memerah menahan malu sampai akhirnya karin jadi salah tingkah sendiri.
Ray tiba tiba mengeluarkan undangan dari saku celananya lalu menyodorkannya kepada karin. Di undangan itu tercantum nama karin.
"Apa ini ray?" tanya karin.
"Undangan pesta ulang tahunnya aldo ntar sore. Lo pasti datang kan? Mau aku jemput? Alexa dan raisya juga diundang" jawab ray.
Seketika Wajah karin terlihat was was dan khawatir seperti memikirkan sesuatu. Ray pun jadi bingung menatap karin.
"Ada apa karin, kau ada masalah?" tanya ray.
"A...aku...apa aku bisa titip salam aja? a...aku janji aku pasti akan kirim hadiah ultah ke aldo" ujar karin berusaha mengelak.
"Titip salam? Lo ngga mau datang ke pesta ultahnya aldo?" tanya ray bingung.
"Bukan...bukan gitu ray...maksudku...aaakh aku ngga suka sama pesta, pasti aku harus pake gaun kan? ( dijawab ray dengan angukkan kepalanya) dan terakhir kali aku nyoba sepatu higheels, kakiku langsung terkilir..." jawab karin dengan manja.
Tapi ray malah tersenyum ngakak. Karin yang sudah menduga akan sikap ray hanya bisa membuang mukanya saja karena menahan malu.
"Hei cantik..." panggil ray
deg...jantung karin kembali berdesir mendengar panggilan ray.
"Ray...udah kubilangkan kalau disekolah jangan panggil aku kayak gitu...aku ngga suka!" gerutu karin sambil mengamati ke sekelilingnya.
"Tapi kenyataannya kamu emang udah cantik...jadi aku percaya apa aja yang kamu pake pasti kamu bakal tetep cantik" ucap ray dengan lembut diiringi senyum menawannya.
Pandangan karin langsung menatap penuh arti kepada ray.
"Aku jemput jam enam ya..." bisik ray
"Ehm...aku berangkat sendiri aja ya...ntar sama ricko..."jawab karin.
Raut wajah ray tampak berubah sedikit kecewa tapi langsung tertawa sumringah ketika karin berkata," aku...janji pasti datang..."
__ADS_1
"Thanks...mau aku anter balik ke kelas?" tanya ray dengan lembut.
Karin hanya menggeleng saja , tidak lama setelah itu mereka berdua memisahkan diri lalu pergi ke tujuan masing masing.