Nona Muda Karin

Nona Muda Karin
Serangan mendadak lagi


__ADS_3

Setelah bel berbunyi tanda waktu pelajaran telah usai, Karin bergegas menuju gerbang depan sekolah untuk menunggu jemputan. Ketika karin sudah sampai depan sekolah, karin baru ingat kalau buku pelajarannya ada yang tertinggal di kolong bangku sekolah.


Karin lalu kembali berjalan seorang diri menuju ke dalam kelasnya yang sudah sepi.


Ray yang tanpa sengaja melihat karin kembali menuju kelasnya, lantas berniat untuk menyusul karin. Tapi ketika dia sudah berbalik arah menuju karin, ray melihat angel dan jenifer sedang berjalan berdua. Ray secepatnya langsung bersembunyi untuk menghindar. Beruntung dua cewek itu tidak menyadari keberadaan ray. Setelah dua cewek itu sudah pergi agak jauh, ray bergegas untuk menyusul karin.


Karin yang baru keluar dari kelas melihat sekelebat bayangan mencurigakan orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup. Rasa penasaran karin yang besar membuatnya mengikuti jejak bayangan orang tersebut.


Ray yang melihat dari jauh tingkah laku aneh karin, entah kenapa dia malah bergegas ikut membuntuti karin. Saat ray hampir dekat dengan karin, ray tak sengaja melihat seseorang yang diikuti karin tadi sedang bersiap melempar pisau ke arah karin.


Secepat kilat ray berlari lalu mendorong tubuh karin hingga punggung karin menghantam tembok dan pisau itu jatuh di dekat kaki mereka yang juga tanpa disadari sudah menggores lengan kiri ray. Sementara orang itu yang berada agak jauh dari mereka dengan langkah cepat berjalan mendekati karin.


Mengetahui itu Karin langsung menendang pisau itu jauh jauh agar tak ada yang bisa mengambilnya. Sedangkan orang yang mendekat tadi, berhenti sejenak lalu mendadak menyerang karin. Karin yang memang sudah terlatih gerak refleksnya langsung berkali kali menangkisnya. Ray yang awalnya hanya diam melihat, akhirnya ikut membantu karin hingga karin berhasil memberikan tendangan keras di perut orang tersebut sampai orang itu terjatuh menahan sakit.


Melihat orang itu terjatuh, karin langsung menarik ray untuk berlari pergi menghindar, karena karin merasa orang itu lebih tangguh darinya. Karin dan ray terus berlari dengan cepat sambil bergandengan tangan erat untuk menghindar dari orang itu. Namun karena keadaan sekolah yang sudah sangatlah sepi serta tidak ada satu orang pun, membuat mereka memutuskan bersembunyi sejenak di dalam Laboratorium biologi yang tidak sengaja mereka lewati. Sementara orang tadi juga berusaha bangkit secepatnya lalu mengejar mereka berdua.


"Ayo kita bersembunyi di balik bangku" ujar karin lirih sambil terus menarik tangan ray. Bangku di laboratorium memang lebih tertutup karena di masing masing bangku terdapat almari untuk menyimpan beberapa peralatan laboratorium. Disitu karin bersembunyi dalam ketakutan sampai tanpa sadar sudah memeluk erat lengan kiri ray hingga menempel ke dadanya sedangkan ray yang terkejut dengan sikap karin malah terpana melihat wajah karin yang sangat dekat dengan wajahnya. Baginya baru kali ini wajahnya sedekat itu dengan wajah seorang cewek.


Entah bagaimana orang itu hampir saja menemukan keberadaan ray dan karin yang sedang bersembunyi di dalam Laboratorium biologi. Tapi ketika akan masuk ke dalam labioratorium tiba tiba seorang satpam melihat dan meneriakinya.


"Siapa itu!!" ujar satpam dengan lantang.


Orang itu langsung berlari pergi menjauh dari kejaran satpam.


Ray dan karin yang awalnya tersentak dengan teriakan satpam akhirnya merasa lega. Lalu mereka berdua memutuskan untuk berjalan keluar dari laboratorium karena merasa keadaan sudah aman. Ketika karin selesai menutup kembali pintu laboratorium dari luar, karin melihat ada darah membasahi lengan baju seragam ray.


"Kak Ray...lengan baju kamu berdarah...coba aku lihat" ucap karin yang karena khawatir tanpa permisi karin langsung membuka lengan baju ray hingga tersingkaplah luka sayat yang lumayan besar di lengan kiri ray.


"Pasti ini karena pisau tadi dan sepertinya bekasnya juga nempel di baju kamu" ujar ray sambil menunjuk ke dada karin.


Blush....


wajah karin langsung merona merah mengingat sikap ketakutannya tadi.


"Kak...Ayo kita ke uks sebentar" ajak karin dengan tersipu malu.

__ADS_1


Tapi ray malah menggenggam erat tangan karin.


"Aku pulang aja, aku bisa obati ini sendiri di rumah" ucap ray dengan menunjukkan senyum manisnya.


Aku senang setidaknya kau sedikit perhatian padaku. batin ray


"Ngga bisa gitu kak...paling ngga luka ini harus ditutup dulu trus kita baru ke dokter takutnya ntar infeksi" ujar karin dengan wajah khawatirnya. Karin langsung menarik tangan ray yang sejak tadi masih menggenggam erat tangan karin.


Ray akhirnya mengikuti karin sampai mereka berdua masuk kedalam UKS. Sebelum karin melepaskan tangannya, ray langsung berkata,


"Tapi ntar kamu temenin aku ke dokter kan?" ujar ray dengan penuh harap.


"Iya...iya...duduk gih diatas kasur...aku ambilkan obat" setelah itu karin mempersiapkan peralatan dan obat obatan lalu kembali mendekati ray.


"Lo emang bisa ngerawat luka?" tanya ray kepada karin yang tengah asik melipat lengan baju ray.


"Ngga usah kuatir...aku dulu sering ngerawat luka adik aku karena dia suka berantem sama temen temennya" jawab karin sambil mulai fokus membersihkan luka di tangan ray.


Wajah karin dan ray yang kembali dekat membuat ray menjadi diam terpana lagi menatap wajah karin


Tapi karin masih asik fokus dengan pekerjaannya sampai ketika dia hampir selesai mengoleskan obat, pandangan dia tertuju pada luka bekas jahitan tepat beberapa centi dibawah luka sayatnya. Dia meraba luka jahit itu lalu bertanya kepada ray.


"Oh itu...dulu waktu aku masih usia enam tahun, aku dan mamaku mengalami kecelakaan...mamaku meninggal karena melindungiku dari serpihan kaca mobil yang hancur mengenai tubuhnya. Tapi ada sebuah serpihan kaca sempat menancap di lenganku" jawab ray.


"Sorry ya kak...aku ngga bermaksud...."


"udahlah karin...itu udah kejadian lama. Aku juga udah merelakan kepergian mamaku. Tapi satu hal yang masih aku ingat waktu itu. Dulu sewaktu aku duduk sendirian di bangku panjang di lorong rumah sakit itu, ada seorang gadis kecil berambut hitam lebat panjang sebahu dia berjalan seorang diri. Gadis kecil itu berjalan mendekatiku lalu duduk disampingku sambil tetap menggendong boneka teddy bear besar warna coklat. Dia berusaha menghiburku" ujar ray.


Deg.....deg....


Mendengar perkataan ray tadi, karin yang sangat terkejut tanpa sadar sudah menjatuhkan sebuah gunting dari tangannya. Ray yang juga terkejut karena sikap karin, membuatnya langsung merasa keheranan.


Ngga mungkin...pasti ini hanya sebuah kebetulan...ya hanya kebetulan sama aja. karin


Karena karin tak mau ray jadi mencurigai sikapnya, karin berusaha bersikap biasa untuk menutupi rasa gugup dan salah tingkahnya.

__ADS_1


"Lalu kak...apa kakak masih ingat wajah gadis kecil itu?" tanya karin sambil tetap melanjutkan memasang perban di lengan kiri ray.


"Sayangnya aku udah agak lupa wajahnya. Hanya satu wajah yang aku ingat betul dan tak akan pernah aku lupakan. Yaitu wajah ayah dari gadis itu, orang yang sudah membuat kami berdua mengalami kecelakaan itu. Aku tidak akan pernah melupakan wajah orang itu" ujar ray dengan wajah penuh dendam.


Deg...deg....


Jantung karin kembali berdetak kencang karena tanpa sengaja karin mendengar dari telinganya sendiri bahwa keluarganya terlibat dalam kecelakaan yang sudah merenggut nyawa ibunda ray. Sambil merapikan kembali peralatan uks, karin sibuk dengan pikirannya sendiri.


Apa cerita kak ray tadi benar? Aku tidak mungkin salah dengar kan...jelas jelas aku tadi mendengarnya.Aaakh...mungkin benar hanya kebetulan saja. Mungkin saja pengalaman ray hampir sama denganku dan gadis kecil itu bukan aku. Tidak...aku tidak boleh memikirkan hal ini sekarang. aku pikir nanti saja, aku ngga mau kak ray nanti mencurigaiku. karin


Setelah keluar dari ruang UKS karin berusaha mencari cara supaya bisa menjauh sejenak dari ray.


"Ehmm...kak ray jadi aku temani ke dokter?" tanya karin dengan perasaan ragu.


"Itu sudah pasti dong dan aku ngga mau pergi kalo bukan kamu yang nganter" jawab ray dengan yakin.


"Tapi kak aku malu kak...bajuku pasti bau asem...bau keringat karena tadi waktu istirahat" ujar karin yang tersipu malu.


"Udah kamu tenang aja...di mobilku ada banyak parfum" balas ray sambil menggenggam erat tangan karin serta langsung menariknya menuju ke mobilnya.


Setelah sampai di depan gerbang, raisya yang ditemani aldo sedang berdiri menunggu karin dengan cemas langsung merasa aneh ketika ray dan karin muncul secara bersamaan sambil bergandengan tangan. Ray sengaja menggenggam erat tangan karin karena ray tak ingin karin berubah pikiran.


"Karin!!" panggil raisya lalu raisya berlari mendekat.


"Eee sya...karin udah janji mau anterin aku ke dokter" ujar ray dengan cepat.


"Ke dokter?? I..itu baju lo berdua kok berdarah. Kalian habis ngapain?" tanya raisya yang sangat terkejut melihat noda darah di lengan ray.


"Ooh ini...tadi ada orang gak waras lewat trus lempar pisau trus kena deh ke lengan ray. Aku anter ray sebentar ya, kamu pulang aja duluan sama ricko. Ricko udah nungguin kan?" ucap karin kepada raisya.


"Iya sih...tapi rin kok bisa.."


perkataan raisya langsung dipotong aldo,"ngga pake tapi tapian, lebih baik lo pulang aja sekarang, karena ray pasti akan nganter karin dengan selamat, iya kan ray?" ujar aldo sambil melempar pandangan penuh isyarat kepada ray.


Ray hanya tersenyum manis sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Lalu dengan cepat dia membukakan pintu mobilnya untuk karin.

__ADS_1


"Buruan masuk..." perintah ray.


Karin yang tidak punya pilihan lain hanya bisa menurut saja apa perkataan ray. Setelah itu mereka langsung meluncur ke klinik terdekat dari sekolah.


__ADS_2