
Mungkin para pembaca bingung siapa sebenarnya orang tua karin berikut ceritanya.
Suwandi Jayahadiningrat adalah seorang anak dari putri bangsawan bernama R.A Ratnasari Dewi yang menikah dengan Bambang seorang pengusaha muda yang baru merintis usahanya. Setelah mereka berdua menikah usaha Bambang semakin berkembang pesat. Perusahaannya memiliki cabang dimana mana bahkan sampai mancanegara dan diberi nama PT Jaya Suwandi Group sesuai nama anak pertamanya.
Sedangkan cintya gadis yang sangat cerdas namun karena dia berasal dari keluarga tak mampu akhirnya dia hanya bisa menamatkan sekolah sampai jenjang sma saja lalu dia melamar kerja sebagai OB di perusahaan Suwandi hingga akhirnya tanpa sengaja Suwandi menemukan bakat terpendam cintya lalu mengangkatnya menjadi sekretarisnya karena sekretarisnya mendadak memutuskan berhenti bekerja karena alasan keluarga.
Kemudian sambil bekerja cintya mencoba mengambil kuliah hanya setahun saja dengan biaya sendiri dan berhasil menamatkannya.
Setelah satu setengah tahun bekerja bersama Suwandi kemalangan menimpa keluarga suwandi. Ayah, ibu beserta adik perempuan suwandi tewas dalam kecelakaan pesawat ketika mereka berangkat berlibur ke amerika. Suwandi sebenarnya sudah merencanakan ikut bersama mereka sambil membawa cintya dan sebastian tapi karena dia ingin memberi kejutan di hari ulang tahun kekasihnya Laurent seorang model papan atas akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk ikut berangkat berlibur.
Cintya dan Sebastian sendiri yang awalnya merasa kecewa karena tidak jadi berlibur akhirnya merasa bersyukur sekaligus bersedih karena mendengar berita jatuhnya pesawat yang ditumpangi keluarga suwandi di samudra pasifik. Suwandi sangat terpukul mendengar berita tewasnya seluruh keluarganya akibat kecelakaan itu, apalagi dia juga harus menelan pil pahit karena kejutan yang sudah dia siapkan untuk kekasihnya hancur berantakan akibat mengetahui perselingkuhan laurent dengan kekasih gelapnya terpampang di depan matanya sendiri.
Terpukulnya perasaan Suwandi membuat keadaan perusahaan jadi kacau karena suwandi terlihat tidak peduli lagi dengan keadaan perusahaannya. Suwandi hanya diam tenggelam meratapi nasib malangnya di kegelapan kamarnya dan gelapnya diskotik. Cintya yang merasa sangat iba dengan keadaan bosnya membuat dia mengambil tindakan untuk menyelamatkan perusahaan dengan dibantu sebastian dan para staff perusahaan.
Siang dan malam cintya berusaha membenahi kekacauan di perusahaan bahkan dia sampai bekerja larut malam untuk menyelesaikan beberapa skema proyek guna menjaga kepercayaan investor kepada perusahaan sekaligus berusaha menaikkan saham perusahaan yang sempat merosot tajam akibat ketidakpedulian suwandi kepada perusahaan.
Sebastian yang mendampingi cintya merasa salut dengan kerja keras cintya. Bahkan ketika cintya harus bekerja sampai larut malam sebastianlah orang yang mengantar jemput cintya ke kantor disamping terus berusaha membesarkan hati suwandi agar bisa menerima kenyataan pahit kehidupannya. Sampai akhirnya suwandi mulai sedikit tenang serta mulai menjalankan perannya kembali tapi Suwandi berubah sikap menjadi bos yang dingin serta arogan. Dia pun mulai menghapus nama belakangnya jayahadiningrat menjadi hanya suwandi saja.
Dua tahun sekembalinya Suwandi membuat perusahaan kembali menguatkan posisi dan pengaruhnya. Bahkan mereka bertiga mendapat julukan tiga serangkai yang sekali gertak dapat membuat nyali para rivalnya langsung ciut bahkan mundur secara perlahan.
Suwandi sendiri entah mulai kapan mulai tertarik dan diam diam memperhatikan segala gerak gerik cintya yang belakangan ini sudah sangat membantu dia untuk membuat perusahaannya mampu berkembang sangat pesat. Tapi suwandi tidak berani terang terangan menyatakan cintanya karena suwandi tahu cintya telah memiliki seorang kekasih dan akan segera melaksanakan acara pertunangannya dengan imam seorang pengusaha yang baru merintis usahanya yang akan diadakan beberapa hari lagi. Cintya mengenal imam sebagai kakak seniornya dia dulu sewaktu kuliah.
Sampai suatu hari terjadi kecelakaan beruntun di ruas tol cipularang yang mengakibatkan kedua orang tua cintya terluka parah dan mengalami kerusakan beberapa organ tubuh. Orang tua cintya harus dirawat intensif diruang ICU serta harus menjalani beberapa jadwal operasi untuk memperbaiki beberapa organ tubuh kedua orang tuanya yang rusak. Cintya yang kala itu bingung dengan biaya rumah sakit, berusaha menjual seluruh aset yang dia miliki serta meminta bantuan kepada tunangannya untuk meminjam beberapa modal usaha tunangannya karena asetnya tidak mencukupi untuk biaya rumah sakit yang sangat besar. Cintya semakin bingung ketika imam menyatakan tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membantunya apalagi kucuran modal yang dia dapat kemarin sudah terlanjur dia gunakan untuk membayar biaya produksi usahanya. Tapi dia telah berjanji kepada cintya akan mendapatkan uang yang cintya butuhkan dalam minggu ini dengan mengambil banyak job di luar kota.
Sebenarnya cintya masih bisa bersabar tapi desakan rumah sakit untuk segera membayar biaya operasi agar orangtuanya cepat bisa dioperasi membuat cintya harus memikirkan jalan lain apalagi adiknya jasmin terus menangis karena tidak tega melihat kondisi orang tuanya yang berkali kali mengalami kondisi kritis.
Karena tidak jalan lain akhirnya cintya mencoba meminta bantuan kepada suwandi, berharap atasannya bermurah hati mau membantu dia membiayai pengobatan orang tuanya hingga sembuh. Awalnya cintya ragu akan mengutarakan maksudnya kepada suwandi mengingat bosnya itu terkenal dingin dan arogan kepada siapapun walaupun itu anak buahnya. Akan tetapi demi orang tuanya cintya memberanikan diri.
Ketika Suwandi selesai menandatangani berkas yang dia bawa, cintya lalu duduk di kursi tertunduk di hadapan meja kerja Suwandi. Merasa ada gelagat aneh cintya, Suwandi lantas membuka percakapannya.
"Ada apa cintya...ada yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya suwandi
"Tuan...anda pasti sudah tahu kan mengenai berita kecelakaan orang tuaku" tanya cintya dengan ragu.
__ADS_1
"Iya...lalu?" tanya Suwandi.
"Maafkan saya tuan kalau saya merepotkan tuan, tapi saya sangat berharap anda mau membantu saya karena saya tidak tahu lagi harus kemana saya meminta bantuan. semua aset saya sudah saya jual tapi aset saya belum cukup untuk membayar seluruh biaya rumah sakit. Sementara orang tua saya butuh dana untuk segera dioperasi. M...ma...maukah tuan membantu saya? Saya...saya berjanji akan segera mengembalikan uang anda dan saya berjanji akan selalu setia pada anda dan pekerjaan saya" ujar cintya dengan perasaan tak menentu.
Akhirnya cintya...hari yang kutunggu telah tiba, hari dimana kau akan datang padaku walau dengan alasan keuangan. Batin Suwandi
Suwandi sebelumnya memang telah menyelidiki latar belakang imam tanpa cintya ketahui karena sejujurnya dia tidak rela cintya pergi dari kehidupannya begitu saja. Apalagi selama ini cintya juga sudah berbuat banyak untuknya.
"Baik aku akan membantumu bahkan aku akan membiayai seluruh pengobatan orang tuamu sampai mereka sembuh tapi dengan syarat...putuskan pertunanganmu dengan imam lalu menikahlah denganku dalam tiga hari kedepan" ucap suwandi sambil membuka e banking nya bersiap akan mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan cintya.
Apa...tapi pertunanganku telah siap dan tinggal menunggu dua hari lagi. batin cintya
"A..apa tuan ti..tidak..."
"Kau tahu aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku cintya. Entah sejak kapan aku mulai menyukaimu dan sampai kapanpun aku tidak rela kau menjadi milik orang lain. Apalagi aku tahu siapa tunanganmu itu. Semua ada pada keputusanmu cintya...." ucap suwandi yang langsung membuat cintya kembali berpikir keras.
Sejenak cintya terhenyak dengan dua nada dering ponselnya apalagi yang pertama disitu tertera nomor jasmin. Tidak lama kemudian pihak rumah sakit.
Cintya yang sejak tadi bingung akhirnya mengambil nafas berat dan sedikit berdoa dalam hati semoga keputusan yang dia ambil benar.
"Ba...baiklah tuan...saya terima apapun keputusan tuan" jawab cintya dengan mata berkaca kaca karena jauh di lubuk hatinya cintya sebenarnya sangat mencintai imam tapi karena masalah ini dia harus mengubur impian bahagianya untuk bisa menjadi istri dari orang yang dia cintai.
Setelah suwandi menyelesaikan proses transfernya dia lantas berkata tegas kepada cintya.
"Aku sudah mentransfer sejumlah uang yang kau butuhkan ke rekeningmu termasuk gajimu penuh untuk bulan depan. Anggaplah itu bonus dariku karena kerja kerasmu selama ini untukku. Tapi ingat cintya...kalau kau sampai datang ke pertunangan itu dan mengingkari janjimu padaku, sedetikpun aku tidak akan membuat hidupmu merasa tenang"
Cintya langsung menelan salivanya mendengar ancaman dari suwandi.
Suwandi lantas berdiri mendekati cintya lalu menarik tubuh cintya ke dalam pelukan eratnya. Suwandi menyandarkan kepala cintya di dadanya untuk sejenak.
"Pergilah cintya...aku tahu kau pasti butuh cuti untuk mengurus kedua orang tuamu" ucap.suwandi dengan lembut sambil membelai lembut kedua pipi cintya lalu mengecup kening cintya.
Cintya yang masih tidak menyangka akan kejadian yang menurutnya terlalu cepat ini sejenak hanya bisa diam mematung memandang suwandi. Hingga dering ponselnya kembali menyadarkannya. Secepatnya dia melangkah keluar ruangan sambil menjawab telponnya.
__ADS_1
"Iya mbak, saya sudah mendapatkan dananya, tolong segera operasi orangtua secepatnya. Saya dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang.Lakukan apapun yang terbaik untuk orang tua saya" ucap cintya dengan cepat sambil bergegas meraih tas di meja kerjanya lalu setengah berlari menuju lift.
Setelah tiba di rumah sakit dengan setengah berlari cintya menuju bagian administrasi agar kedua orang tuanya bisa segera dioperasi. Jasmin yang melihat kedatangan kakaknya ke ruang operasi segera berlari memeluk kakaknya sambil menangis sesenggukan.
"Tenanglah jasmin, kakak berjanji akan memastikan yang terbaik untuk kedua orang tua kita. Ayo kita sama sama berdoa semoga proses operasi ayah dan ibu berjalan lancar" ucap cintya sambil mengelus punggung adiknya.
Selama proses operasi yang berjalan empat jam, jasmin sama sekali tidak melepaskan pelukannya dari kakaknya sampai ketika dokter keluar dan menyatakan operasinya berjalan lancar. Hanya saja kondisi kedua orangtuanya belum stabil sehingga mereka masih harus dirawat di ruang icu. Melihat itu cintya dan jasmin merasa sedikit lega.
Sementara itu sebastian dan suwandi yang bernegosiasi dengan klien mereka dari amerika merasa sedikit kewalahan menanggapi permintaan kliennya mengenai gambaran skema proyeknya dan beserta laporannya yang lebih terperinci lagi.
Sebastian kemudian berinisiatif untuk menelpon cintya dengan menanyakan keadaannya terlebih dahulu setelah itu dia mengutarakan kesulitannya kepada cintya lewat ponselnya. Cintya yang merasa tidak enak hati atas kebaikan suwandi berjanji akan segera datang membawa berkas yang mereka butuhkan dalam waktu satu jam.
Dengan harap harap cemas suwandi dan sebastian membujuk kliennya dengan makan siang bersama sambil menunggu kedatangan cintya. Tepat satu jam berlalu terlihat cintya setengah berlari sambil membawa sebuah map folder berwarna merah lalu segera menyerahkannya kepada sebastian sembari mengatur nafasnya.
Akhirnya beberapa persetujuan pun telah ditandatangani walaupun suwandi sebenarnya merasa cemburu dengan kliennya yang sejak awal kedatangan cintya telah menarik perhatiannya serta berusaha mencuri curi kesempatan untuk bisa dekat dengan cintya yang sedang asik menjelaskan proyek tersebut sampai akhirnya cintya berulangkali harus meredam emosi bosnya dengan beberapa kali menggenggam erat tangan suwandi dari bawah meja. Setelah pertemuan usai di depan restoran Suwandi langsung menarik cintya masuk ke dalam mobilnya lalu membawanya ke toko perhiasan.
"Tuan untuk apa kita kesini?" tanya cintya.
"Untuk membeli cincin pernikahan kita supaya semua orang tahu bahwa kau adalah calon istriku hingga tidak ada orang lain yang bisa berbuat seenaknya di depanku"ujar Suwandi yang masih jengkel dengan kliennya tadi.
Setelah membeli beberapa cincin, suwandi mengantar cintya kembali ke rumah sakit. Tapi di tengah perjalanan air mata cintya kembali tumpah karena mendengar berita buruk dari jasmin.
"Kakak...cepatlah kemari...ayah dan ibu kondisinya semakin menurun. Para dokter dan perawat sedang berusaha menstabilkan kondisi mereka berdua. Kakak...kak imam juga sudah datang, dia membawa uang yang kakak butuhkan...huhu" ujar jasmin sambil menangis tersedu sedu
Deg...
jantung cintya langsung berdetak kencang hingga tanpa sadar bibirnya berkata
"Mas...imam..." seketika suwandi yang duduk disampingnya langsung menoleh dengan pandangan tajam membunuh kearah cintya.
"Iya kakak...kakak cepatlah kemari...huhu" ujar jasmin dari telpon.
Setelah menutup telponnya cintya langsung termenung memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
__ADS_1