
Setelah turun dari mobil, ray mengikuti langkah karin menuju lift. Ketika karin dan ray masuk ke dalam apartemen karin berpapasan dengan raisya yang baru turun.
"Kalian baru datang?" sapa raisya
"Heem...kok sepi sya? Bi darmi kemana?" tanya karin
"Oh itu tadi pas aku baru nyampe sini, aku lihat bi darmi mukanya pucet. Aku suruh istirahat dikamar aja eh dianya malah minta ijin pulang. Kemungkinan maagnya kambuh katanya. Maaf ya aku ijinin dia pulang, habisnya aku kasihan" jawab raisya.
"Trus dia pulang sama siapa?" tanya karin
"Dijemput anaknya di lobby" jawab raisya.Setelah itu karin dan ray mengikuti langkah raisya menuju dapur.
Karena lapar dan tadi bi darmi belum sempat memasak akhirnya karin dan raisya memutuskan untuk memasak sendiri makan mereka. Ray sebetulnya bingung mau bantu apa karena sejujurnya dia sendiri sampai saat ini belum pernah memasak. Dia ke dapur hanya untuk membuat minuman itupun kadang dia malah menyuruh pembantunya. Akhirnya ray hanya bisa berdiri bersandar pada kitchen melihat mereka berdua sedang asik memasak sambil meminum teh hangat yang dibuatkan karin sebelumnya.
Ketika mereka bertiga sedang bersiap makan, alexa dan bima masuk ke dalam apartemen.
"Lho bima, kok lo basah kuyub?" tanya raisya.
"Kita berdua kehujanan..." jawab alexa berusaha mencari alasan yang tepat.
Sebenarnya karin ingin bertanya tapi melihat bima yang mulai menggigil kedingingan dia menyuruh alexa untuk meminjaminya baju. Alexa lantas mengajak bima untuk menuju ke kamarnya.
Dikamar alexa segera mengambil handuknya dari dalam lemari bajunya sedangkan bima menatap ke seluruh sudut kamar alexa yang sudah tertata apik dan rapi.
"Bima ini handuknya, kau mandilah. Di kamar mandi ada air hangat. Aku akan siapkan bajumu. Kau tinggalkan saja bajumu di kamar mandi biar kucuci" perintah alexa.
Bima mengambil handuknya dari tangan alexa. Namun karena tangan mereka bersentuhan, bagai magnet otomatis tubuh bima mendekat kepada tubuh alexa. Melihat bima terus mendekat Alexa mulai beringsut mundur
"Bima...kau basah...mandilah...aku akan buatkan kau minuman hangat..." ucapan alexa berhasil membuat kesadaran bima kembali.
Perlahan bima mulai melangkah ke dalam kamar mandi. Alexa akhirnya bisa bernafas lega dan mulai memilihkan baju yang bisa bima pakai. Ketika alexa selesai menyiapkan baju untuk bima terdengar dering telpon dari ponselnya.
"Iya ada apa?"
"Waspadalah alexa, ada seseorang yang berusaha menyerang karin lagi. Rupanya orang yang itu belum ingin menyerah.
"Apa...siapa orang itu? Apa orang itu orang yang sama dengan yang mencelakai karin kemarin?" tanya alexa
"Bisa dibilang begitu karena itu sebisa mungkin jauhkan orang itu dari karin. Jangan sampai karin menyadari kalau nyawanya sedang dalam bahaya. Kalau kau menemukan orang itu segera habisi dia. Ingat jangan sampai karin tahu akan hal ini serta jangan sampai orang itu mendekati karin. Karena kalau sampai ada orang lain lagi yang tahu siapa karin bisa dipastikan akan semakin banyak orang yang berusaha mengancam jiwanya" ujar reno.
"Baik reno..." jawab alexa lalu dia mematikan sambungan telponnya.
Setelah itu alexa keluar dari kamarnya lalu turun menuju dapur. Sementara bima yang sempat mencuri dengar pembicaraan alexa ditelpon tadi, memutuskan keluar setelah melihat alexa sudah tidak ada dikamarnya.Sebetulnya bima hanya mendengar kata kata yang keluar dari mulut alexa.
Sambil menggosok gosok rambutnya, bima berpikir keras tentang perkataan alexa tadi.
Orang yang berusaha mencelakai karin, sebenarnya kau itu siapa alexa. Kemampuan bertandingmu juga lama lama semakin jauh diatasku. Apa mungkin kalau kau seorang bodyguard atau kau seorang agen rahasia? Lalu siapa reno? Apa dia atasanmu? Kenapa kesannya kau menyembunyikan identitasmu lex? apa karin tahu siapa dirimu? Kau sungguh misterius lex...Aku harus menyelidiki dirimu.
Bima tersadar dari lamunannya ketika ponselnya berdering
"Iya mi...ada apa?" tanya bima
"Bima kau ada dimana sayang...mami telpon ke panti katanya kau sudah pergi dari tadi. Tapi kenapa kau belum sampai nak. apa kau tahu...netha menunggumu sejak tadi" ucap maminya.
"Maaf sudah bikin mami khawatir, tadi aku kehujanan sampai basah kuyup. Aku mampir ke rumah temanku. Beruntung teman bima baik mi, dia meminjamiku baju, ada minyak kayu putihnya lagi. Dia juga sedang membuatkanku minuman hangat" jawab bima
"Kau kehujanan sayang, Ya tuhan...mami akan suruh sopir menjemputmu. Mami tak ingin kau sakit juga seperti adikmu"
"Mami ngga usah khawatir, bima bisa jaga diri kok. Oh ya mami suruh pulang aja netha, sepertinya bima mau nunggu hujan reda"
"Baiklah...mami akan bilang ke netha. kau mau bicara padanya?"
"Mami aku baru selesai mandi, aku mau pakai baju dulu,...bye mi" bima segera menutup telponnya karena sejujurnya dia malas untuk berhubungan dengan netha.
Arnetha adalah gadis pilihan orang tua bima yang akan segera dijodohkan dengan bima. Bima mengetahui semua itu dari maminya. Sebenarnya maminya tidak terlalu memaksanya mengingat umur bima sendiri masih terlalu muda. Tapi karena papinya ingin membalas budi kepada sahabatnya itu, papinya bertekad segera menjodohkan bima sebelum mereka pindah ke australia dua tahun kedepan.
Sayangnya belakangan ini bima menemukan sosok alexa yang benar benar membuatnya penasaran dan jatuh hati. Sosok alexa yang mandiri, dewasa dan sangat pengertian itu sungguh bertolak belakang dengan sosok netha yang hanya gadis manja seperti kebanyakan anak orang kaya. Hal itulah yang membuat bima belakangan ini selalu menghindar dari netha dengan berbagai alasan.
Bima yang telah turun ikut berkumpul bersama temannya di meja makan serta menyantap makan siang mereka bersama.
Tak berapa lama ray undur diri karena papanya menyuruhnya untuk segera pulang.
Tinggallah bima dan alexa hanya duduk berdua di sofa menonton tv karena raisya dan karin memilih beristirahat di kamarnya.
Tapi beberapa saat kemudian karin turun kembali. Dia keluar menuju lobby untuk mengambil uang di atm yang berada tak jauh dari lobby apartemen.
"Lex...boleh minta coklat panasnya lagi?" tanya bima.
Alexa tak menjawab tapi dia beranjak berdiri lalu menuju ke dapur. Tak lama kemudian alexa kembali dengan segelas coklat panas untuk bima. ketika alexa akan melanjutkan mengerjakan tugas sekolahnya dia terkejut karena pr nya sudah terisi jawaban dan jawabannya sempurna.
"Bima, kenapa kau yang jawab?" tanya alexa.
__ADS_1
"Aku pikir tadi kau kesulitan jawab, jadi tak ada salahnya kan kalau aku membantumu" jawab bima tanpa rasa bersalahnya sambil meneguk minuman hangatnya.
"Kau tidak pulang bima? Nanti mamimu khawatir lagi" tanya alexa.
"Mamiku udah telpon tadi, lagipula masih hujan, kau tak ingin aku basah lagi kan? Atau kau ingin aku sakit?"
"Tapi hujannya kan udah agak reda" tak disangka setelah alexa berkata begitu hujan kembali deras.
Senyum langsung mengembang di wajah bima.
"Sepertinya hujan berpihak pada hatiku" celetuk bima sambil meneguk kembali coklat hangatnya dan mengganti cannel tv.
Alexa beranjak berdiri dari sofa itu.
"Kau mau kemana?" tanya bima.
"sudah sore, aku mau mandi" jawab alexa. setelah itu dia pergi naik menuju kamarnya.
Di tempat atm tampak beberapa orang sedang mengantri di depan pintu atm termasuk karin. Untuk menghilangkan kebosanan, karin antri sambil memainkan ponselnya dan memasang headset dikedua telinganya. Dia tak peduli dengan kondisi sekitarnya yang memang ramai.
Kondisi lengah seperti ini sebenarnya tengah dimanfaatkan seseorang untuk mencelakai karin kembali. Karena jarak hanya tinggal lima meter orang itu berjalan semakin cepat mendekati karin dan tiba tiba pisau sudah keluar dari balik lengan bajunya. Beruntung ricko dapat membaca gerak gerik orang tersebut dan berhasil mencegah orang itu sebelum mencelakai karin tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain.
Ricko menodongkan pistolnya dari balik punggung orang itu sehingga orang itu menjatuhkan pisau yang dia pegang sebelumnya. Sebelum menarik perhatian banyak orang, ricko secepatnya membawa orang itu menuju ruang tertutup di ruang sekuriti serta memerintahkan semua sekuriti pergi. Tinggallah dia bersama dua orang sekuriti pilihannya yang akan mengeksekusi orang itu.
Setelah mengambil uang, karin hendak membeli beberapa jajanan yang ada diluar gedung apartemennya. Ketika kembali dia melewati tempat sekuriti itu dan tak sengaja berpapasan dengan ricko. Apalagi tanpa sengaja karin merasa mendengar suara rintihan.
"Suara apa itu?" tanya karin kepada ricko.
"mungkin hanya suara dengkuran sekuriti yang sedang istirahat" jawab ricko santai.
Awalnya karin percaya, tapi karena jiwa detektifnya kembali muncul apalagi samar samar dia mendengar kembali rintihan itu, dengan gerakan mendadak karin secepatnya menuju ruang itu sampai ricko yang berjalan di depannya tidak sempat menghalanginya.
braak...
Terbukanya pintu itu bukan hanya mengagetkan penghuni yang ada di dalamnya tapi juga mengagetkan diri karin sendiri. Karin melihat seorang laki laki terbujur lemas tak berdaya dengan luka lebam disekujur tubuhnya. Sorot mata karin langsung menatap tajam ricko karena dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri kebohongan ricko kepada dirinya.
"Jelaskan ini semua padaku, ricko....apa yang sudah kau lakukan terhadap orang ini?"
tanya karin dengan tatapan dinginnya.
"Orang ini berusaha mencelakaimu, aku hanya berusaha mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini" jawab ricko dengan suara datar.
"Aku tidak tahu karin dan entah sudah berapa lama aku bekerja dengan ayahmu" jawab ricko dengan suara datar.
"Kau tak mau menjelaskan padaku? baiklah aku akan menemui ayahku sekarang juga"
Karin mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi taxi online dari ponselnya.
"Kau mau kemana karin? Kau tidak boleh sembarangan pergi tanpaku" ucap ricko yang mulai terusik dengan sikap karin
"Sudah kubilang kan aku ingin menemui ayahku!! apa permintaanku ini tidak masuk akal tuan tangan besi..."karin menegaskan perkataan tangan besi dihadapan ricko.
Bagaimana dia bisa tahu julukanku. Sejauh apa dia tahu tentang tuan besar. ricko
Sorot mata tajam kembali keluar dari mata ricko. Ricko yang merasa sudah tak ada lagi yang perlu dia sembunyikan dari karin akhirnya hanya bisa menuruti keinginan karin.
Sementara itu alexa yang baru selesai mandi setelah memakai baju bergegas untuk keluar kamar lalu turun. Mendapati karin belum kembali dia kembali menemui bima
Melihat bima asik dengan game di ponselnya, alexa langsung menyambar remote tv dan menggantinya dengan film kartun. Alexa menonton dengan serius dan kadang dia tertawa sendiri karena merasa tontonannya lucu.
"Kau suka film kartun lex?" tanya bima yang tak percaya dengan sikap alexa.
"Iya....kenapa?"
Ngga nyangka gue...di balik sikap garangnya ternyata masih ada sikap kekanak kanakan juga. Pantas saja seharian bersamamu aku baru mengerti kenapa moodmu gampang sekali berubah. Lo emang bener bener gadis yang unik lex. Rasa penasaran gue rasanya semakin besar sama lo... batin bima
Bima hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala sedangkan alexa tak memperdulikan sikap bima. Dia masih tetap fokus dengan film kartunnya untuk beberapa saat. Setelah itu dia berdiri lalu menuju dapur. Dia bersiap memasak untuk makan malam.
"Bisa kubantu?" tanya bima yang ternyata sudah berdiri dibelakang alexa.
"Kau duduk saja, aku biasa melakukan sendiri" jawab alexa sambil mengupas lalu memotong beberapa sayuran.
"Tapi aku mau bantu" ucap bima yang tak mau mengalah dan sudah berdiri tepat disamping alexa.
"Kau mau jus jeruk?" pertanyaan alexa langsung dijawab anggukan oleh bima, Kalau begitu duduklah dikursi itu dan diam disitu" ucap alexa sambil menunjuk kursi di pantry yang menghadap langsung ke dapur. sehingga bima sangat leluasa melihat alexa sedang berkutat dengan bahan masakannya.
Bima duduk sambil memegangi gelas jusnya. Matanya tak pernah berhenti memandangi alexa yang mulai menyalakan kompor lalu memasak makanannya.
Benar benar gadis sempurna. Kalau begini caranya bagaimana aku bisa meninggalkanmu lex. Bahkan netha tak ada seujung kukumu. Seandainya saja kau menghilangkan tembok pemisah diantara kita, aku berjanji tak akan pernah melirik wanita lain. Bahkan saat ini juga aku siap untuk meninggalkan netha. batin bima
Di tempat lain tak butuh waktu lama bagi karin dan ricko untuk bisa sampai di gedung Jaya Suwandi group. Setelah sampai di lobby karin bergegas turun dan masuk menuju resepsionis.
__ADS_1
"Permisi dimana kantor tuan suwandi" tanya karin dengan tegas.
"Maaf adik ini siapa ya? Apa adik sudah bikin janji dengan tuan presdir kami?" tanya resepsionis yang melempar pandangan tak suka padanya.
"hem...jadi benar ayah seorang presdir" gumam karin,"aku putrinya, aku mau bertemu dengannya" balas karin dengan suara masih tegas.
"Maaf tuan presdir belakangan ini sibuk mengurus beberapa masalah perusahaan! Dia tidak bisa diganggu seenaknya apalagi oleh bocah ingusan seperti anda" ucap resepsionis itu yang mulai kesal.
"Baiklah nona bella...(sambil menunjukkan name tag didada resepsionis itu) Kalau kau tak mau menunjukkan maka aku sendiri yang akan kesana!" ucap karin yang mulai emosi.
Ketika karin hendak menuju lift tiba tiba dua sekuriti berdiri di depannya karena resepsionis itu tadi sempat memanggil sekuriti.
Tapi yang membuat bella merasa aneh adalah para penjaga tuan suwandi malah berdiam diri seolah mereka tak mengetahui hal itu. Tak berapa lama pintu lift khusus presdir terbuka. Karin justru terkejut melihat sosok yang keluar dari lift itu. Apalagi dengan sedikit isyarat dari tangannya saja mereka semua langsung mengerti dan patuh padanya untuk pergi menjauh dari karin.
Setelah berada di dalam lift khusus presdir karin mulai membuka percakapan.
"Reno...siapa kau sebenarnya?" tanya karin dengan sorot mata tajamnya.
"Setelah ini kau akan tahu" jawab reno dengan suara datar.
Tidak ada percakapan lagi sampai karin dan reno berada di ruangan ayahnya. Nampak ayahnya sedang duduk di sofa sambil menandatangani berkas.
"Halo sayang...kemarilah...duduk di sebelah ayah" ucap suwandi seolah tidak pernah terjadi apa apa dengan putrinya.
Setelah duduk karin sebenarnya ingin memberondong ayahnya dengan banyak pertanyaan tapi karin juga sadar ayahnya melakukan ini pasti karena ada alasan tersendiri. Apalagi bunda karin juga mendukung, hanya satu keinginan karin yang ingin dia wujudkan yaitu ingin menanyakan apa alasan ayahnya melakukan ini semua kepadanya.
"Ayah...jelaskan kepada karin...ada apa ini? Dan orang orang yang berusaha mencelakaiku...siapa mereka ayah?" tanya karin dengan pandangan penuh selidik.
"Mereka adalah orang suruhan salah satu rival bisnis ayah" jawab ayahnya dengan santai.
"Dan dia?" tanya karin sambil menunjuk ke arah reno.
"Bukankah kalian sudah saling kenal?" tapi karin masih menatap penuh arti kepada ayahnya. Setelah menghela nafas berat, suwandi berkata,"dia asisten ayah disini..."
"Pantas saja semua orang menghormatinya.." gumam karin setelah itu diam sejenak. Karin lalu bersandar di bahu ayahnya sedangkan ayahnya yang sudah paham sifat manja karin hanya membiarkan saja putrinya bersikap manja kepadanya.
"apa karena masalah ini, ayah menyembunyikanku? Apa ayah tidak ingin menceritakan sedikit kepadaku? Kenapa ayah tidak jujur saja padaku? Kenapa ayah menyembunyikan ini semua dariku?" tanya karin
"Karin sudahlah...ayah punya banyak pekerjaan. Ayah melakukan ini semua hanya karena ingin menjaga keselamatanmu" jawab ayahnya.
"Ayah...Aku tak mempermasalahkan kehidupanku di apartemen. Bahkan aku merasa apartemen itu lebih nyaman daripada rumah kita dulu. Aku hanya ingin ayah sering meluangkan waktu untukku, aku hanya ingin bisa sedekat ini dengan ayah" jelas karin dengan manja dan memeluk ayahnya yang sedang duduk disampingnya.
"Karin putriku kau sudah besar, jangan bersikap manja seperti ini kepada ayah. Orang lain bisa salah paham melihat kedekatan kita. Bermanjalah pada kekasihmu sendiri"
Blush....
wajah karin langsung merah seperti tomat.
"Ayah ini bicara apa!! Aku ini anakmu, apa salahnya aku bersikap manja padamu!" balas karin dengan suara semakin meninggi.
"Sepertinya ayah benar benar harus menyekolahkanmu ke sekolah kepribadian" gumam ayahnya tapi masih bisa didengar oleh karin.
"Apa!! Aku tidak mau!" tolak karin dengan tegas.
"Dasar anak nakal...melawan preman kau tak takut tapi kenapa kau selalu takut dengan higheels dan gaun? Bukankah wajar seorang gadis selalu berdandan cantik bukan hanya dipesta" ucapan suwandi membuat reno tak kuasa menahan senyumnya hingga membuat karin memandang sengit padanya.
"Ayah!!!" teriakan karin seketika membuat dewi sekretarisnya dan beberapa pengawalnya menerobos masuk keruangan suwandi karena takut terjadi sesuatu dengan bosnya.
"Tuan apa anda baik baik saja" tanya dewi
"Memangnya kenapa denganku? Apa ada yang salah denganku?" tanya suwandi balik dengan tampang bodohnya.
"Kalian keluarlah, mereka hanya sedang melakukan drama" bisik reno kepada dewi dan beberapa pengawal itu.
Setelah para pengawal itu keluar, karin kembali melanjutkan obrolannya bersama ayahnya.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?"
Blush....
pertanyaan ayahnya membuat wajah karin kembali memerah merona karena malu.
"Ayah...jangan menggodaku terus lagipula bukankah aku ini masih dibawah umur kan?" ucap karin dengan wajah kesalnya.
"Ayah tidak menggodamu sayang, ayah hanya takut sikap tomboymu dan kebencianmu pada setiap lelaki akan terbawa sampai kau dewasa. Bagaimana kau bisa menemukan jodohmu kalau begini terus caranya. Kau membuat ayah merasa putus asa" gerutu ayahnya.
Karin hanya diam menunduk mendengar perkataan ayahnya tadi.
"Karin...Sebentar lagi ayah ada janji dengan klien ayah. Kau pulanglah bersama reno biar ricko yang akan menemani ayah. Kau tak apa kan kalau ayah meminjam ricko sebentar?" tanya ayah karin.
Karin hanya mengangguk saja mendengar permintaan ayahnya itu. Setelah itu karin mulai beranjak pergi meninggalkan ruangan ayahnya.
__ADS_1