
Ayah karin yang tadi sangat marah, langsung pergi menuju ruang kerjanya berusaha menghilangkan segala kemarahannya dengan menenggelamkan dirinya ke dalam pekerjaannya. Sementara itu istrinya yang tadi sempat berbicara sejenak dengan putrinya perihal tekadnya yang bulat untuk meraih mimpinya di jakarta dan juga berusaha menghibur karin dengan mengatakan alasan ayahnya memarahinya karena terlalu sayang, akhirnya membuat dia juga harus mengambil keputusan yang tepat untuk masa depan putri kesayangannya itu.
Sore itu terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan kerja ayah karin.
tok...tok...tok...
"Masuklah", sahut ayah karin dari dalam.
"Ini kopinya sayang", ujar istrinya.
Setelah meletakkan kopi itu kemudian dia mengambil tempat duduk tepat di depan meja suaminya yang masih serius dengan pekerjaannya. kemudian dia hanya duduk diam sambil memegangi kedua pipinya sendiri dengan kedua telapak tangannya dan terus memandang suaminya dengan tatapan kagum.
"Kenapa kau melihatku terus seperti itu?" tanya ayah karin yang sebenarnya sedikit salah tingkah dengan perbuatan istrinya tapi dia berusaha tidak menampakkannya.
"Memangnya aku tidak boleh memandang wajah suamiku yang tampan?" tanya istrinya kembali tanpa rasa bersalah.
deg...
seketika jantung ayah karin langsung berdetak kencang.
Walaupun ayah karin sudah termakan usia, tapi guratan diwajahnya tidak menutupi ketampanannya.
"Atau...baiklah kalau kau lebih suka aku menatap wajah artis tampan di tv",ujar istrinya sambil beranjak akan berdiri tiba tiba salah satu tangannya digenggam erat oleh suaminya.
"Tolong jangan memancing emosiku lagi",ujar ayah karin dengan cepat.
"Jadi kau marah setiap kali aku menatap wajahmu seperti itu?" tanya istrinya lagi dengan tanpa rasa bersalah.
Setelah menghela nafas panjang, ayah karin meminta istrinya mendekat lalu menariknya hingga jatuh ke pangkuannya sedangkan kedua tangannya otomatis memeluk tubuh ramping istrinya. walaupun sudah berumur 38 tahun tapi paras dan tubuh bundanya karin masih tidak kalah dengan wanita sebelum menikah, sehingga banyak orang yang pasti tidak menyangka kalau bundanya karin sudah berumur segitu.
"Sekarang katakan, sebenarnya apa yang sedang ingin kau bicarakan. Apa ini soal karin?" tanya ayah karin lagi.
"Kau ini tuan besar disini....memangnya siapa yang berani membantah perkataanmu. walaupun sebenarnya...aku kasihan melihat putri kesayanganku bersedih seperti itu", jawab istrinya lembut.
suaminya langsung menghela nafas panjang.
"Aku sangat menyayangi kalian berdua, bahkan aku sendiri merasa tidak sanggup kalau harus berpisah dengan kalian berdua. Aku juga tahu kalau kualitas pendidikan disini masih sangat kurang tapi aku yakin karin gadis yang sangat pintar. Bahkan diusianya yang sekarang dia sudah sanggup menjadi asisten cantikku. Dia bahkan lebih cantik darimu walaupun sebenarnya dia sama sepertimu, suka berpenampilan sederhana dan tidak suka merias wajahnya"jelas suaminya.
"Itu karena dia mewarisi sifatmu yang gila kerja dan terkadang kau juga suka bersikap arogan. Dan soal kecantikan mungkin dia hanya belum bisa melupakan kenakalan teman masa kecilnya dulu walaupun sejujurnya aku takut sifatnya yang membenci laki laki akan terbawa sampai dia dewasa" ujar istrinya.
"Lalu aku harus bagaimana...hmm?" tanya ayah karin lembut.
Melihat istrinya serius menatap ke jendela membuatnya juga ikut mengalihkan pandangannya ke Jendela. Terlihat dua ekor burung yang hinggap di jendela sedang bercengkerama sejenak kemudian kedua burung itu kembali terbang bebas ke udara.
"Apa kau lihat tadi? Seekor burung tidak akan bisa terbang bebas, sebelum dia belajar mengepakkan sayapnya" ucap istrinya.
__ADS_1
"Apa maksudmu aku tak mengerti?" tanya ayah karin.
"Sampai berapa lamapun kau menyembunyikan kami, cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan kami.Sebelum semua itu terjadi kau sudah harus mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Dan jangan lupa, kita juga harus mempersiapkan mental anak anak kita dengan baik. Tapi aku juga selalu percaya kepada suamiku, karena suamiku bukanlah orang sembarangan. Suamiku adalah orang yang sangat bertanggung jawab kepada keluarganya" jawab istrinya panjang lebar sambil memegang kedua pipi suaminya lalu mengecup keningnya kemudian menempelkan keningnya di kening suaminya.
"Apa kau sedang menggodaku?" tanya suwandi.
"Apa aku terlihat menggodamu tuan...."tanya cintya dengan manja dan tak lupa cintya mengecup sekilas bibir manis suaminya itu.
"Baiklah nyonya...aku mengaku kalah...tapi sekarang...bisakah aku memakanmu" tanya ayah karin dengan tersenyum penuh arti.
"Segera setelah kau selesaikan semua pekerjaanmu, tuan besar" jawab istrinya yang kemudian menggodanya kembali mengecup sekilas bibir suaminya. lalu dia berdiri meninggalkan suaminya yang masih duduk mematung memikirkan obrolan mereka berdua tadi.
Setelah memikirkan sejenak perkataan istrinya tadi, dia kembali menyelesaikan sisa pekerjaannya. Dan sebelum meninggalkan ruangan kerjanya dia mengambil sebuah buku tabungan dari lacinya beserta kartu atm. Buku tabungan yang baginya itu masih bernilai kecil lalu memasukkannya ke dalam sakunya. Setelah itu dia berjalan keluar dari ruang kerjanya.
ketika sampai di depan kamar putrinya langkahnya terhenti dan memandang sejenak pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Tok....tok...tok...
karena tidak ada sahutan perlahan dia membuka pintu kamar putrinya. Terlihat karin sedang duduk sedih di tepi jendela sambil mengapit kedua kakinya. Karin yang sempat menoleh lalu kembali memalingkan wajahnya menatap jendela.
"Maafkan ayah nak...ayah menyesal sudah memarahimu. Jakarta kota yang keras, ayah hanya takut kau sampai kenapa kenapa disana" ujar ayahnya.
"Aku tahu ayah" jawab karin lirih
"Kau tau ayah sangat menyayangimu dan ..."
"Baiklah kalau itu maumu, memangnya ayah bisa apa lagi",ujar ayahnya kemudian menyodorkan buku tabungan tadi dan juga selembar kartu nama ke arah karin. Sementara karin yang tidak suka dengan sikap berlebihan ayahnya hanya menatap ayahanya dengan tatapan tidak suka kemudian memalingkan kembali wajahnya ke arah jendela.
"Ambillah karin... di Jakarta nanti kau pasti akan memerlukannya", ucap ayahnya yang sontak membuat karin terkejut dan langsung berdiri.
"Jadi ayah mengijinkanku bersekolah disana?" tanya karin tak percaya.
"Dengan tiga syarat...."ujar ayahnya datar.
"Syarat? Syarat apa maksud ayah? tapi baiklah karin setuju" ujar karin yang sebenarnya masih bingung tapi karin segera menyetujuinya karena taku ayahnya berubah pikiran.
"Syarat pertama, kau tidak boleh menolak segala perlakuan ayah disana", ujar ayahnya yang kembali menyodorkan buku tabungan dan kartu nama tadi.
karin yang awalnya ragu ragu akhirnya menerima dan sangat terkejut melihat nominal di buku tabungan tersebut yang sangat besar yaitu 2 milyar.
"Setiap bulan ayah akan mentransfer uang ke rekeningmu" tambah ayahnya.
"Ayah harus berapa kali karin meminta, tolong jangan berlebihan" ujar karin cepat
"Jadi kau akan mengingkari janjimu tadi? Kalau begitu mulai sekarang lupakan rencanamu ke Jakarta" balas ayahnya.
__ADS_1
"Baiklah ayah...lalu kartu nama ini?" sahut karin dengan cepat.
"Kau akan tinggal di apartemen itu. Dulu ayah memberikan apartemen itu kepada ibumu", jelas ayahnya.
Tapi ayah pihak sekolah sudah menyediakan asrama disana", bantah karin
"Menyediakan asrama bukan berarti kau harus tinggal disana bukan? Dan kau bisa tinggal disitu bersama dengan sahabatmu itu. Percayalah anakku, ayah lakukan ini hanya karena ingin menjaga keselamatanmu"
ujar ayahnya dengan tenang.
Setelah menghela nafas panjang,"Baiklah ayah...Apa syarat lainnya?" tanya karin.
"Syarat kedua, kau ingin menjadi seperti ayah bukan? (terlihat karin sangat antusias kalau berhubungan soal itu) Sebagai pengusaha yang baik, kau harus bisa mengelola keuanganmu itu dengan baik. Setiap nominal yang kau gunakan harus bisa kau pertanggungjawabkan kepada ayah. Ada beberapa orang yang hidupnya bergantung padamu, anggaplah itu sebagai karyawanmu dan sebagai pimpinan yang baik kau harus bisa mengayomi mereka. Dan untuk syarat selanjutnya ayah akan jelaskan nanti setelah kau sampai disana. Kau mengerti putriku?", ujar ayahnya panjang lebar.
"Baiklah....karin mengerti ayah", jawab karin pasrah walaupun sebenarnya dia masih bingung.
"Kalau begitu setelah kelulusan...persiapkanlah keberangkatanmu tapi segera selesaikan dulu pekerjaanmu disini. oh ya satu hal lagi, ayah minta kau bisa menjaga identitasmu dari orang lain. kau tentu tidak inginkan pengalaman burukmu dimasa kecil terulang lagi disana? karena itu jadilah sukses dengan usahamu sendiri, tanpa mendompleng nama orang lain walaupun itu nama ayahmu sendiri" perintah ayahnya panjang lebar.
"Baiklah ayah dan terima kasih untuk semuanya", ujar karin sambil memeluk erat ayahnya.
"Iya sayang, dan ingat juga sesampainya disana, kau harus sering telepon ayah. hah...ayah pasti akan sangat merindukanmu" ujar ayah karin.
"Karin janji....", jawab Karin dengan bahagia.
kemudian setelah itu ayahnya beranjak keluar dari kamarnya menuju kamarnya sendiri.
setelah ayah karin berada dikamarnya sendiri, dia segera duduk diam di tepi ranjang. Istrinya yang baru keluar kamar mandi dengan memakai piyama handuknya langsung menghampirinya lalu duduk disebelahnya.
"Apa kau yakin dia sudah benar benar siap?" tanya ayah karin.
"Entahlah...kalau soal itu hanya tuhan yang tahu" jawab istrinya.
"Bagaimana kalau dia belum benar benar siap", tanya ayah karin lagi dengan wajah cemas.
"Entahlah....setahuku selama ini kau sudah mendidiknya dengan sangat baik. Kau mengajarinya ilmu beladiri, kau juga mengajarinya beberapa bahasa dan bahkan kau juga sudah mengajarinya ilmu manajemen perusahaan yang menurutku itu terlalu berlebihan untuk anak seumurnya. Hehe untung saja dia mewarisi otak cerdasmu itu jadi setidaknya aku masih ada sedikit keyakinan dalam diriku" jelas istrinya dengan sedikit mengodanya.
"Dan setahuku juga kau itu dulu gadis pemalu tapi kenapa sekarang kau sudah pandai bicara" balas ayah karin kepada istrinya.
"Ya sudah....mandilah dulu. Aku akan siapkan air" ujar istrinya yang sudah berdiri. tapi dengan cepat ayah karin menariknya hingga dia terjatuh di pangkuan suaminya.
"Baumu harum sekali" goda ayah karin sambil menciumi telinga dan leher istrinya.
"Mas...mandilah dulu" ujar istrinya berusaha melepaskan dirinya tapi tangan suaminya lebih kuat.
"Mandikan aku" goda ayah karin lagi.
__ADS_1
"Kau nakal...." balas istrinya yang sudah berhasil melepaskan diri lalu kembali menuju kamar mandi.