
Ricko yang tadinya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang tiba tiba berhenti mendadak karena tiba tiba jalanan macet. Rupanya sebelumnya telah terjadi tabrakan beruntun. Ketika perlahan mobilnya perlahan berjalan merambat, karin melihat seorang anak kecil yang sedang menangis digendongan seorang pria sedang memanggil manggil nama ibunya. Tampak ibunya sedang dievakuasi petugas dari badan mobil yang ringsek itu.
Entah kenapa tiba tiba terlintas diingatan karin tentang sebuah peristiwa kecelakaan dimasa kecilnya.
Flash back on
Saat itu dia masih berumur 4 tahun. Kala itu dia juga menangis digendongan salah seorang penjaganya yang membawa ibunya dengan ambulan menuju rumah sakit. Sampai akhirnya ayahnya datang lalu menghiburnya hingga tangisannya reda.
Ketika ayahnya sibuk mengurus bundanya, karin yang merasa bosan berjalan seorang diri menyusuri lorong rumah sakit sambil terus menggendong boneka teddy bear coklat kesayangannya seukuran hampir sama dengannya. Lalu langkahnya terhenti ketika melihat seorang anak kecil laki laki sedang terduduk sedih di sebuah bangku panjang. Perlahan dia mendekati anak kecil itu lalu duduk disampingnya. ketika anak itu menoleh kepadanya dia langsung bertanya
"kenapa kau kelihatannya sedih sekali?"
"Aku sedih karena ibuku mengalami kecelakaan. dia sekarang hanya bisa tidur dan tidak mau bangun. Padahal aku sudah berusaha membangunkannya tapi dia tetap tidak mau bangun"jawab anak itu.
"Apa kau sudah bilang ke ayahmu kalau ibumu seperti itu?" tanya karin
anak itu hanya menggelengkan kepala.
"Kalau aku, aku akan langsung bilang ke ayahku biar ibuku takut trus nggak nakal lagi sama aku. Buktinya tadi ketika ayahku datang tidak lama setelah itu ibuku langsung bangun" ujar karin kecil.
"Sejak tadi ayahku belum datang, cuma dokter dan suster saja yang datang melihat ibu sebentar kemudian mereka pergi lagi" kata anak itu.
"Begini saja, aku akan menyuruh ayahku untuk bilang ke ibumu supaya dia cepat bangun. semua orang yang bersama ayahku tidak ada yang berani menolak keinginan ayahku karena ayahku itu orang yang hebat" ujar karin kecil.
"Benarkah? Kau tidak sedang berbohong padaku kan?"tanya anak laki itu.
"Tentu saja tidak tapi...." jawab karin kecil.
"Tapi kenapa?"tanya anak itu.
"Kenapa tangan kamu dikasih itu" tanya karin sambil menunjuk salah satu lengan yang dijahit.
Tapi sebelum anak itu menjawab, tiba tiba Ayah karin berlari menghampirinya lalu menggendong serta membawanya pergi.
Tinggallah anak itu sendiri yang kembali tertunduk lesu setelah kepergian karin kecil.
flash back off
"karin....karin...." panggil ricko.
Karin yang tadinya tidak mendengar karena asik melamun menjadi tersadar setelah raisya menyenggol lengannya.
"I...iya...k...kenapa?" ucap karin terbata bata.
"Kita sudah sampai",ujar ricko lalu dia turun dari mobilnya untuk menurunkan kopernya dibantu dengan alexa.
__ADS_1
Karin yang awalnya biasa saja lantas merasa terusik dengan senyuman raisya yang menurutnya sedang menggodanya.
"Ada apa lagi?" tanya karin ketus.
"tidak ada" jawab raisya tanpa rasa bersalah.
"Trus kenapa kamu senyum senyum seperti itu?" tanya karin dengan pandangan tajam.
"Memangnya aku tidak boleh tersenyum. Ya sudah kalo begitu, aku tidak akan tersenyum" jawab raisya lalu dia segera berjalan menyusul ricko dan alexa yang sudah berjalan duluan menuju lift di lantai basement.
"Kenapa dari tadi kau selalu saja menggodaku", gerutu yang akhirnya ikut pergi menyusul mereka bertiga.
Di dalam lift yang awalnya kosong, tiba tiba ada seorang pria muda tampan yang berpakaian seperti eksekutif muda setengah berlari ikut masuk kedalam lift tersebut. Ricko yang mengetahui itu adalah reno langsung menyapanya.
"Reno...Tumben sudah balik" ujar ricko.
"Ada beberapa pekerjaanku yang tertinggal disini" jawab reno yang masih serius menjawab pesan di ponselnya sebentar lalu menyimpannya di saku. kemudian dia menolehkan pandangannya ke belakang yang langsung disambut uluran tangan raisya dan alexa yang sejak awal bertemu sudah terpesona dengan ketampanannya. Sedangkan karin malah asik sendiri dengan ponselnya menjawab beberapa pesan dari adik kesayangannya.
"Kenalkan aku alexa"
"Dan aku raisya"
ucap mereka berdua dengan menunjukkan senyuman paling manisnya berharap reno sangat menyukainya.
Ketika reno hendak menyapa karin, karin langsung menjawab dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya, "Karin..." ucap karin dingin
"Aku reno" ucap reno
"Aku sudah tahu",jawab karin sambil melirik ke arah reno sejenak kemudian kembali memperhatikan ponselnya.
Reno yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Akhirnya...keluar juga sifat aslimu" ujar ricko lirih tapi yang lainnya masih bisa mendengar.
"Kalau kau tak suka denganku kenapa kau bekerja padaku!!! bentak karin.
"Maaf, aku hanya menuruti perintah ayahmu" jawab ricko datar bersamaan dengan itu pintu lift terbuka.
"Tapi ayahku bilang aku yang harus menggajimu!!!" bentak karin.
Ricko yang malas menanggapi tanpa bicara langsung melangkah kaki keluar lift sambil menarik koper karin dengan santai. sedangkan kedua sahabatnya malah berkata kesal kepada karin.
"Kariiiin.....Apa kau bisa berhenti berteriak telingaku sakit mendengar teriakanmu. Apa kau tak malu pada tetangga sekitarmu", ujar alexa.
"Sudahlah karin tahan emosimu. Kami berdua sudah paham kalau kau itu anti laki laki. Jadi berusahalah untuk bersikap baik" tambah raisya.
__ADS_1
Karin yang semakin kesal hanya bisa mengambil langkah cepat akan tetapi langkah karin langsung terhenti ketika kaki karin tersandung pengait lift dan hampir jatuh. Beruntung dengan sigap reno langsung menarik tubuh karin hingga karin malah terjatuh kepelukan reno yang juga terdorong ke belakang sampai punggungnya membentur dinding lift. alexa dan raisya yang melihat itu langsung merasa iri tapi juga bercampur bahagia.
Tiba tiba pintu lift menutup kembali dengan sigap reno menekan tombol lift untuk berhenti sejenak sambil salah satu tangannya masih melingkar pinggang karin sementara karin saking terkejutnya sampai lupa akan kesadarannya dan trus diam memandangi wajah reno yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Kau baik baik saja karin?" pertanyaan reno menyadarkannya kembali.
Seketika karin langsung berdiri agak menjauh dari reno serta merapikan baju dan rambutnya dengan cepat untuk menutupi sikap salah tingkahnya.
"Seandainya saja aku yang jatuh, pasti aku yang mengalami itu" celoteh raisya yang membuat karin kembali geram tapi tidak jadi marah karena pintu lift yang terbuka kembali.
Dengan langkah cepatnya karin berjalan keluar lift menuju kamar apartemennya. sesampainya disana karin yang awalnya berteriak di depan pintu.
Ricko!!!.....
What....apa ini....apa aku salah kamar
Karin mencoba mengecek nomor di pintu apartemennya ternyata benar sementara kedua sahabatnya yang sudah sejak tadi bersamanya juga ikut terkejut melihat keindahan ruang apartemen karin yang luas dan sedikit mewah.
"Aku yakin ayahmu memang orang yang saaangat keren karin" celoteh raisya tanpa sadar.
Entah kenapa tiba tiba ingatan karin kembali mengingat ayahnya.
Ada beberapa orang yang hidupnya bergantung padamu. dan sebagai pimpinan yang baik, kau harus bisa mengayomi mereka. ayah karin
Terlihat dua orang wanita paruh baya mendekat memperkenalkan diri.
"Perkenalkan Nama saya darmi. Saya pelayan nona karin disini"
"Perkenalkan juga saya ani. Saya juga pelayan nona karin"
"Kalian Cukup panggil aku dengan karin saja. Aku tak suka dipanggil nona" jawab karin lembut.
"Baik nona...eh maksud saya...bisakah saya memanggil nak karin saja? maaf saya belum terbiasa dengan hal itu" jawab bi darmi.
"Terserah bibi saja. oh ya...dimana kamarku?"
"Mari saya antar nak karin" sahut darmi yang langsung berjalan menuju tangga diikuti langkah semuanya.
diatas tangga darmi langsung menunjukkan kamar karin sementara dua sahabatnya mengikuti langkah ani menuju kamar mereka sendiri
Di dalam kamarnya sekali lagi karin juga sangat terkejut sampai dia tidak lagi menghiraukan ricko yang sedang memasukkan kopernya ke dalam lemari.
Karin benar benar tidak menyangka bahwa kehidupan dia disini sangat jauh berbeda dengan di desa. Sebelumnya karin sudah terbiasa dengan kehidupan kalangan bawah di desa. bahkan pelayan di rumahnya yang tidak banyak hanya untuk membantu membersihkan rumah saja. Tapi untuk memasak dan sekedar membersihkan kamar setiap hari masih dia lakukan sendiri bahkan terkadang karin juga mencuci bajunya sendiri.
Ibunda karin memang selalu mengajarkan kehidupan rakyat biasa kepada putrinya supaya kelak kalau karin jauh dari bundanya karin sudah mandiri.
__ADS_1